RADAR TULUNGAGUNG – Dalam momentum Hari Guru Nasional 2025, cerita tentang dedikasi seorang pendidik di lereng pegunungan Tanggunggunung, Tulungagung menjadi cermin ketulusan profesi guru.
Di balik sunyinya jalan-jalan tanah dan udara dingin di pegunungan selatan Tulungagung ada sosok yang setiap pagi menembus kabut demi memastikan pendidikan tetap hidup di pelosok. Namanya Dwi Cahya Mardinata, 30, atau akrab disapa Pak Dwi.
Ia mengajar di SDN 4 Jengglungharjo, sekolah dasar kecil di perbukitan Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung.
Baca Juga: Guru, Digugu lan Ditiru (Renungan Hari Guru Nasional 25 November 2025)
Hanya 73 siswa yang belajar di sana, mayoritas berasal dari Dusun Klumpit dan kawasan pedalaman lain yang akses jalannya sulit ditembus, terlebih ketika hujan mengguyur. Tapi di sanalah semangat belajar justru tumbuh paling murni.
“Pukul 06.00 pagi siswa-siswi sudah banyak yang datang. Padahal jalanan rusak, licin sekali kalau hujan. Tapi mereka tetap datang tepat waktu dengan senyum,” ujar Dwi, matanya berkaca-kaca.
Setiap pagi, siswa datang membawa tawa. Mereka salim saat bertemu guru, lalu mengikuti pembiasaan pagi sebelum pembelajaran dimulai. Bagi Dwi, sambutan tulus itu menjadi energi yang tidak pernah habis.
Baca Juga: Refleksi Hari Guru Nasional 2025, Menggeser Apresiasi Simbolis Menjadi Perjuangan Substantif
“Kadang kalau hujan deras, rasa malas itu ada. Tapi ketika ingat wajah anak-anak yang menyambut kami dengan bahagia, rasa malas itu hilang,” ungkapnya.
Dwi sendiri tinggal di Kecamatan Kalidawir, sekitar 18 kilometer dari sekolah. Jalur yang dilewatinya berupa jalan raya, namun kondisi ruas yang berlubang dan bergelombang membuat perjalanan nyaris tidak pernah mudah. Meski begitu, sama sekali tak pernah menjadi alasan untuk mundur.
“Tantangan itu bagian dari panggilan hati. Apalagi melihat anak-anak yang semangat berangkat sekolah meski tinggal di pelosok. Itu justru jadi motivasi,” katanya.
Baca Juga: 15 Ide Ucapan Hari Guru yang Menyentuh, Penuh Makna, dan Cocok untuk Caption atau Pesan Pribadi
Sebelum bertugas di Tanggunggunung sebagai ASN, ia pernah mengajar di wilayah Campurdarat, daerah yang lebih dekat dengan pusat kota Tulungagung. Di sana, ia melihat perbedaan mencolok.
“Di kota itu anak-anak kadang datang hanya sekadar hadir. Kedekatan dengan guru juga kurang. Tapi di gunung, anak-anak sangat dekat dengan kami. Mereka punya semangat luar biasa untuk belajar dan berprestasi,” jelasnya.
Terbukti, beberapa siswa SDN 4 Jengglungharjo telah mengharumkan nama sekolah. Dalam Olimpiade Ratu Genza yang digelar Radar Tulungagung, dua siswa dari kelas 4 dan kelas 6 berhasil lolos hingga tahap Grand Final.
Menurut Dwi, anak-anak gunung justru memiliki fokus belajar yang lebih tajam. “Di kota hiburannya banyak, distraksinya banyak. Di gunung, sore mereka bantu orang tua di ladang. Pagi mereka hanya punya satu arah: sekolah,” katanya.
Memasuki akhir 2025 menuju 2026, tantangan teknologi mulai terasa. Beberapa anak sudah terpapar gawai dan game. Namun, ia juga melihat fasilitas pembelajaran sedikit demi sedikit mulai meningkat.
Di momentum Hari Guru Nasional tahun ini yang mengangkat tema ‘Guru Hebat, Indonesia Kuat’, Dwi punya pesan mendalam.
“Guru yang hebat akan melahirkan siswa hebat. Kalau siswa hebat, Indonesia akan kuat. Harapan saya, program pendidikan terus merata sampai pelosok. Jangan hanya kota. Anak-anak gunung juga berhak mendapatkan pendidikan terbaik," tuturnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana