Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengenang Yono Prawito di Hari Musik Nasional 2026, Maestro Kendang Tayub Tulungagung Pencipta Ratusan Lagu Tradisional

Sandy Sri Yuwana • Senin, 9 Maret 2026 | 09:32 WIB

Yono Prawito dikenal sebagai sosok yang sabar dan lucu, namun sangat tegas ketika menggarap musik.
Yono Prawito dikenal sebagai sosok yang sabar dan lucu, namun sangat tegas ketika menggarap musik.

RADAR TULUNGAGUNG – Pada momentum Hari Musik Nasional 2026 hari ini, sosok Yono Prawito kembali dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan musik tradisional daerah.

Pria yang lahir pada 23 Maret 1949 tersebut dikenal tidak hanya sebagai pengendang, tetapi juga pencipta lagu-lagu tayub.

Nama Yono Prawito masih lekat dalam ingatan para pelaku seni tayub di Tulungagung.

Maestro kendangan kelahiran Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman, Tulungagung, itu dikenal sebagai pencipta pola ukel kendang khas Tulungagung yang hingga kini masih menjadi rujukan banyak seniman.

Sepanjang hidupnya, Yono Prawito tercatat menghasilkan sekitar 300 karya lagu tayub.

Namun yang sempat dirilis dalam bentuk album diperkirakan sekitar 160 lagu.

Putrinya, Purna Istriati, mengatakan bahwa ayahnya mulai dikenal sebagai pengendang sekaligus pencipta lagu sejak usia sekitar 26 tahun.

Karya pertamanya berjudul Aja Cidra diciptakan pada 1976.

“Dari situ bapak mulai aktif menciptakan lagu-lagu tayub,” ujarnya.

Bagi Yono Prawito, inspirasi lagu bisa datang dari mana saja.

Banyak karya lahir dari pengalaman hidup sehari-hari.

Salah satunya lagu Plenggong, yang terinspirasi dari makanan sederhana berbahan ketela yang dahulu sering dikonsumsi keluarga saat kondisi ekonomi terbatas.

Selain menciptakan lagu, Yono juga merancang pola kendangan sendiri yang kemudian dikenal dengan gaya kendangan gecul.

Pola ini berkembang menjadi salah satu ciri khas kendangan tayub Tulungagung.

“Gaya kendangan bapak itu unik dan banyak ditiru sampai sekarang,” kata Purna.

Sebagian besar karya Yono Prawito dimainkan bersama kelompok karawitan Mardhi Budaya, yang menjadi bagian penting dalam perjalanan karier seninya.

Menjelang akhir hayatnya, Yono Prawito bahkan masih sempat mengarsipkan karya-karyanya.

Pada 2004, setahun sebelum meninggal, dia menuliskan arsip lagu menggunakan mesin ketik manual.

“Setiap hari beliau mengetik satu lembar arsip lagu. Notasi aslinya masih tulisan tangan bapak dan sampai sekarang masih kami simpan,” jelas Purna.

Yono Prawito meninggal dunia pada 24 September 2005 dalam usia 54 tahun.

Meski telah lebih dari dua dekade berlalu, karya dan gaya kendang ciptaannya masih sering dimainkan oleh seniman tayub di Tulungagung hingga berbagai daerah lain.

Sekadar diketahui, salah satu lagu karya Yono Prawito yang cukup dikenal masyarakat adalah yang mengiringi reog kendang, yakni Kulon Kutha Tulungagung.

Namun masih ada ratusan judul lain yang pernah diciptakan.

Bahkan, karya sang maestro juga pernah diteliti mahasiswa ISI Surakarta pada 2013 dan dianggap membawa gaya tersendiri pada kekayaan seni musik tradisional Jawa.(sri/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#pengendang #yono prawito #Hari Musik Nasional 2026 #Tayub