Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Umat Tionghoa di Tulungagung Gelar Festival Cioko

Anggi Septian Andika Putra • Kamis, 30 Agustus 2018 | 19:00 WIB
umat-tionghoa-di-tulungagung-gelar-festival-cioko
umat-tionghoa-di-tulungagung-gelar-festival-cioko

Agenda tahunan umat Tionghoa di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tjoe Tik Kiong untuk perayaan bulan hantu, dihadiri ribuan warga untuk berburu sembilan bahan pokok (sembako) kemarin (29/8).


AGUS DWIYONO


Suasana di sekitar Jalan WR Supratman masuk Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung, sekitar pukul 11.30 kemarin (29/8) begitu ramai. Ribuan warga berasal dari Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Kediri, dan Nganjuk, tumplek blek di halaman TITD Tjoe Tik Kiong.


Ribuan warga tertib antre sambil menunggu instruksi dari panitia untuk masuk bergiliran ke dalam gedung di samping TTID.


Selain warga, tampak dilibatkan puluhan aparat kepolisian dan TNI yang disiagakan. Tujuannya membantu ketertiban selama kegiatan berlangsung dari awal hingga akhir.


Saat masuk ke dalam gedung di samping TTID itu, tampak ribuan sembilan bahan pokok (sembako) yang dikemas dalam plastik berwarna merah dan akan ditaruh di atas panggung tepat di halaman klenteng.


Selain itu, beberapa buah-buahan seperti semangka, jeruk, atau nanas, tak luput disiapkan.


Ya, kegiatan itu merupakan agenda tahunan berupa perayaan bulan hantu yang jatuh pada bulan tujuh kalender Tionghoa dan dirayakan umat Tionghoa di TITD Tjoe Tik Kiong. Yakni dengan cara mengadakan kegiatan Festival Cioko atau sembahan rebutan.


“Dalamkepercayaan kamimerupakanbulan arwahyang nantinya pintu neraka dibuka. Arwah turun ke bumi untuk mencari makan,” ungkap ketua panitia,Wibitono.


Menurut warga Desa/Kecamatan Kedungwaru itu, adanya perayaan tersebut bagi keturunan Tionghoa yang masih hidup, tidak jarang menyediakan berbagai macam-macam jamuan untuk menyambut leluhur yang datang ke dunia. Jamuan itu antara lain seperti sesajen dari berbagai buah-buahan, nasi tumpeng, ayam bakar, dan lain sebagainya.


“Setiap bulan ketujuh itu, tepatnya pada tanggal 15 rutin menggelar sembahyang rebutan,” ungkapnya.


Pria 70 tahun itu mengaku, pembagian sembako sudah dipersiapkan sekitar 3.000 paket dikemas di dalam plastik berwarna merah. Juga ada berbagai buah-buahan seperti nanas, semangka, atau jeruk.


“Orang yang datang sekitar tiga ribu orang dari berbagai tempat se-Tulungagung dan dari luar kabupaten,” jelasnya.


Dia menjelaskan, beberapa benda diserahkan kepada warga yang membutuhkan sekarang mengalami perubahan. Jika dulu memilih buah-buahan yang dijadikan sesajen dan dibagikan ke warga, sekarang panitia memilih mengganti dengan memperbanyak sembako. Meski demikian, beberapa buah dengan jumlah sedikit masih tetap diadakan.


“Setiap tahun ada perubahan berkaitan dengan barang yang akan dibagikan. Tergantung dengan kesepakatan panitia,” ungkapnya.


Dia menambahkan, perubahan itu dilakukan dengan alasan sembako termasuk mi, beras, minyak, dan gula, lebih dibutuhkan masyarakat daripada buah-buahan.


Menurut dia, kegiatan itu dimulai setelah dilakukan sembahyang oleh beberapa jemaah dan simpatisan. Setelah itu, dilakukan doa untuk beberapa sesajen yang akan disuguhkan kepada nenek moyang.


“Setelah semua rangkaian selesai, lantas sembako dibagikan kepada semua warga yang hadir. Baik itu orang tua, laki-laki, perempuan, atau anak-anak yang turut hadir,” ujarnya. (*/ed/din)

Editor : Anggi Septian Andika Putra