Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pakai Cangkang Telur untuk Melukis Tokoh Nasional

Dharaka Russiandi Perdana • Kamis, 16 Juli 2020 | 23:00 WIB
pakai-cangkang-telur-untuk-melukis-tokoh-nasional
pakai-cangkang-telur-untuk-melukis-tokoh-nasional

Terus berkarya meski tak lagi muda. Kalimat itu cocok untuk Wiwik Andri Duana. Pensiunan aparatur sipil negara (ASN) itu tetap produktif. Dia memanfaatkan cangkang telur untuk melukis.


Tak sulit menemukan rumah Wiwik Andri Duana. Yakni di Jalan Maninjau, Perum Pakunden Permai. Rumahnya cukup unik. Didominasi cat hijau. Keramik lantai dan pagar besinya juga sama. Tak hanya itu, ada beragam jenis tanaman di sana. Ini membuat suasana semakin teduh dan nyaman.


Puluhan bingkai lukisan dipajang di dekat pintu masuk rumah. Lukisan berbagai ukuran itu ditata rapi di dinding. Ketika masuk, lukisan itu seolah turut menyambut ramah. Tak lama, Andri, sapaan Wiwik Andri Duana, datang menemui wartawan Koran ini. Wanita dengan rambut sebahu ramah. Dia mempersilahkan masuk untuk duduk di kursi ruang tamu.


Di dinding ruangan itu, lagi-lagi terdapat lukisan. Jumlahnya mencapai puluhan. Ukurannya juga beragam. Setelah melihat lebih teliti, itu bukanlah lukisan menggunakan cat. Semua dibuat menggunakan telur ayam.


Hebatnya lagi, hampir semua lukisan karya Wiwik adalah gambar para tokoh nasional Indonesia. Beberapa di antaranya, Ir Soekarno sebagai Sang Proklamator, Joko Widodo yang merupakan Presiden RI sekarang, Susi Pudjiastuti yang pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan, dan lain sebagainya.


Wanita ramah itu pun menceritakan tentang seni melukis menggunakan cangkang telur. Ternyata, dia mulai mencoba pada 2014 lalu. Semua bermula dari keresahan. Yakni banyak cangkang telur yang terbuang dan bisa membahayakan. "Dari resah sebenarnya. Blitar produsen telur ayam terbesar di Jatim, otomatis limbah terlurnya juga banyak," ujarnya.


Dia mengatakan, selain cangkang telur, triplek juga dipakainya. Alasanya, lebih ringan dan mudah menempel dengan lem. Ya, lukisan karya Andri dibuat dengan teknik menempelkan cangkang telur pada sebuah media. "Sebelum ditempel, ya dicuci, dibersihkan dulu. Dikeringkan kemudian baru bisa digunakan," jelasnya.


Proses melukis menggunakan cangkang telur cukup rumit. Selain itu butuh konsentrasi tinggi. Sebab tak sekedar menempelkan pada sketsa gambar. Namun tapi juga memperhatikan setiap detail potongan cangkang telur.


Selain menempel, tahapan lain yakni mewarnai. Ini juga butuh keahlian yang tak semua orang bisa. Gelap dan terangnya cahaya pada suatu gambar harus diperhatikan untuk menyesuaikan dalam proses pewarnaan. "Jika semua sudah selesai, nanti diolesi lagi dengan lem. Kemudian dijemur, dicek ulang sebelum dibingkai," kata wanita berusia 66 tahun itu.


Satu lukisan cangkang telur ukuran kecil, dapat diselesaikan dalam waktu satu hari. Sedangkan lukisan dengan ukuran sedang hingga paling besar, bisa memakan waktu satu minggu, bahkan sebulan. Semua tergantung tingkat kesulitan dan ukurannya.


Dia mengaku, tak pernah mengharapkan rupiah dari setiap karya dan usahanya. Penghasilan atau pendapatan dari karyanya adalah bonus. Dia juga tak pernah memasarkan karyanya. Hanya mengikuti pameran tanpa memperjual belikan. "Ya paling cuma teman-teman saja yang lihat, kemudian banyak yang ke sini memesan lukisan," terangnya.


Mengapa lebih memilih melukis tokoh nasional? Ibu satu anak itu mengatakan, tokoh-tokoh itu memiliki perjuangan dan pengaruhnya tersendiri di setiap kehadirannya. Andri mengaku lebih menyukai pribadi dan perjuangan para tokoh yang berperan besar pada masyarakat. "Bung Karno kan orang sini, saya juga orang sini. Jadi saya tahu betul siapa itu Bung Karno. Ini (lukisan. Red) hanya bentuk apresiasi saya kepada beliau," tuturnya.


"Tokoh - tokoh lain juga banyak yang saya gambar, termasuk pak Gus Dur," tambahnya.


Menurut dia, para tokoh nasional dinilai memiliki banyak pengaruh kebaikan kepada bangsa Indonesia. Sehingga, perjuangan mereka perlu diapresiasi dengan sebuah karya.


Alumni IKIP Malang itu juga menceritakan, mendalami dunia seni rupa sejak usia dini. Dimulai seni tari sebagai hobi sejak sekolah dasar. Ketertarikan pada dunia seni terus berlanjut hingga memutuskan mengambil pendidikan strata satu jurusan seni rupa pada saat itu. Andri tak bosan dan lelah dengan seni. Baginya, dunia seni selalu menghiasi dan mengisi waktu luang setiap hari. "Suka saja sama seni rupa, sampai saya dapat kerja dan sekarang pensiun semua berhubungan dengan seni," terangnya.


"Saya tidak mau nanggur, saya mau semua waktu saya bermanfaat untuk orang lain," pungkasnya.(*)

Editor : Dharaka Russiandi Perdana