Ternyata masih ada pemuda yang peduli dengan kelestarian alam. Hal itu diwujudkan kelompok sadar wisata (pokdarwis) Sanggarria, Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, dalam menjaga kelestarian habitat penyu yang kini mulai langka. Semua itu dilakukan oleh swadaya mereka sendiri. Dengan harapan, agar anak cucu masih bisa melihat salah satu hewan purba yang kini masih hidup.
Pagi itu angin berembus perlahan melalui pori-pori kulit. Terdengar deburan ombak yang menabrak tebing dan karang yang menancap kuat di hamparan pasir putih. Dari kejauhan, tampak puluhan pemuda berada di bibir pantai dengan membawa bak berwarna hitam yang berisi tukik-tukik. Benar, hari itu merupakan awal dari kehidupan baru bagi tukik-tukik di lautan bebas.
Satu per satu, tukik mulai ditaruh di atas pasir. Seketika itu tukik-tukik mulai berjalan menuju deburan ombak. Ketika tergulung ombak, tukik-tukik tersebur berusaha berenang menuju ke tengah laut. Saat itulah, suara suka cita terdengar dari puluhan pemuda yang mengantar hewan kecil itu pada kehidupan lautan bebas. Rasa senang tak bisa dibohongi dari raut wajah mereka. Puluhan pemuda tersebut merupakan pokdarwis Sanggarria, Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung.
Salah satu anggota pokdarwis Sanggarria, Purwanto mengatakan, pihaknya memang fokus dalam bidang wisata dan pelestarian alam. Hal ini sudah mereka lakukan sejak lima tahun yang silam. Susah senang sudah menjadi teman setiap waktu. Karena bergerak dalam melestarikan alam tentu bukanlah perkara yang mudah bagi mereka, tapi itulah yang menjadi semangat mereka. “Kami hanya ingin alam kita lestari. Kebetulan di daerah sini merupakan tempat pendaratan penyu bertelur,” tuturnya.
Dulu ada cerita dari sesepuh kalau di sini banyak penyu. Tapi karena belum percaya, Purwanto dan beberapa temannya mencoba untuk memastikan cerita tersebut. Ternyata ketika dilakukan penyisiran di pinggir laut, mereka menemukan sarang penyu. Dari situlah mereka memutuskan untuk membuat konservasi penyu. Karena di awal mereka tidak mengetahui bagaimana cara menetaskan dan merawat penyu, akhirnya selama 24 jam mereka melakukan sif untuk menunggu sarang penyu yang ditemukan itu hingga menetas. “Karena penyu mulai langka, kami ingin menjaga habitat dan melestarikan penyu,” ujarnya saat ditemui di Pantai Sanggar.
Pria ramah itu mengungkapkan, hampir tiga hari sekali pihaknya melakukan penyisiran sarang penyu. Karena ekosistem pesisir masih terjaga, hal itu membuat tiap tahunnya menarik penyu bertelur. Bahkan di masa bertelur penyu, hampir tiap hari mereka menemukan telur-telur penyu. “Di sekitar sini air laut masih cukup bersih dan hutan masih terjaga. Maka dari itu kami berusaha untuk menjaga alam biar tidak rusak agar penyu bisa tetap bertelur,” ungkapnya.
Jika hutan mulai gundul dan air laut mulai tercemari sampah, penyu tidak akan mau bertelur. Apalagi ketika musim hujan, banyak sampah kiriman yang memenuhi air laut. Maka dari itu, pihaknya memohon kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, khususnya ke sungai. Karena ketika membuang sampah di sungai, nanti sampah itu akan menuju ke laut dan bisa merusak habitat penyu. “Semua ini kami lakukan dengan swadaya mandiri dari anggota kelompok. Tujuan kami hanya ingin melestarikan alam, khususnya melindungi penyu dari kepunahan. Agar anak cucu masih bisa melihat hewan purba ini,” terangnya.
Kini pokdarwis Sanggaria melakukan konservasi kepada penyu hijau dan jenis lainya yang tergolong sudah langka. Ketika menemukan sarang penyu, mereka segera mengamankan untuk ditetaskan. Sebenarnya tukik yang sudah berumur tiga minggu sudah bisa dilepaskan di laut. Namun untuk menghindari serangan dari predator laut, pihaknya akan melihat apakah cangkang penyu sudah kuat. Jika sudah kuat, mereka akan melepaskan di laut. “Penyu itu bisa bertelur di suhu 33-34 derajat. Kami akan melepas jika tukik sudah memiliki fisik yang kuat agar bisa bertahan hidup di laut bebas,” pungkasnya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana