Meski ditengah pandemi Covid-19, tidak menghalangi Muhammad Zaky Fikri meraih prestasi. Siswa asal MAN 2 Tulungagung itu berhasil mendapatkan gold champion dalam East Java Green Scout Inovation Challenge 2020. Dia berhasil menjadi yang terbaik dari ribuan peserta lomba yang berasal dari berbagai kota di Jawa Timur (Jatim).
MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Boyolangu, Radar Tulungagung.
Raut wajah penuh kebahagian tidak bisa ditutupi oleh Muhammad Zaky Fikri. Pasalnya hampir dua bulan lamanya dia telah berjuang untuk bisa menjadi yang terbaik dalam East Java Green Scout Inovation Challenge 2020. Teryata tidak hanya dia yang merasakan kebahagian, orang tuanya pun juga turut bahagia karena anaknya bisa mendapatka gold champion.
Zaky, –sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa tidak menyangka bisa mendapatkan gold champion. Karena sebelumnya dia merasa kesulitan dalam membagi waktu untuk sekolah dengan mempersiapkan lomba. Apalagi dengan adanya pandemi Covid-19, lomba tersebut dilakukan secara daring, ini merupakan tantangan tersendiri baginya. “Selama persiapan lomba saya kesulitan membagi waktu antara sekolah dan persiapan lomba. Tapi saya hanya bisa berusaha dan yakin saja,” tuturnya.
Pria yang tergabung dalam Carsamada itu menjelaskan, perlombaan tersebut merupakan lomba yang cukup panjang secara durasi. Pasalnya, mulai dari babak penyisihan hingga masuk dalam final, membutuhkan waktu setidaknya dua bulan lamanya. Selain itu, setiap tahap dalam perlombaan juga berbeda-beda seperti, dalam penyisian yang dilombakan adalah cerdas cermat, kemudian tahap semi final diharuskan membuat bisnis plan dan di final mengaktualisasikan bisnis plan tersebut. “Di dalam cerdas cermat saya harus bersaing dengan ribuan peserta dari seluruh Jatim. Setelah itu masuk ke semi final saya dengan membuat bisnis plan. Dan alhamdulillah bisnis plan saya masuk untuk dilombakan di final,” jelasnya.
Remaja yang tinggal di lingkungan Pondok Darul Taqwa, Desa Beji, Kecamatan Boyolangu itu menambahakan, bisnis plan yang dia buat adalah mengenai rempeyek yang anti mainstream, yakni rempeyek ikan tuna. Karena dia melihat bahwa kebanyakan rempeyek yang ada di masyarakat terbuat dari kacang, teri, dan lain sebagainya saja. Maka dari itu dia membuat inovasi dalam produk rempeyek tuna yang dia ciptakan. “Saya tidak tahu secara pasti, tapi juri menilai bahwa bisnis plan saya sangat menarik. Membuat inovasi rempeyek dengan toping ikan tuna,” tambahnya.
Di babak final, cowok empat bersaudara itu juga harus mengimplementasikan bisnis plan yang telah dia buat. Karena pagi hari dia harus sekolah, maka dia menggunakan malam hari untuk menjual rempeyek tuna di angkringan-angkirngan. Di sini dia harus pintar-pintar dan disiplin dalam membagi waktu, agar semua kewajibanya tetap berjalan. “Jadi kalau pagi saya harus sekolah, setelah itu malamnya saya harus berjualan rempeyek ikan tuna,” tuturnya.
Zaky menegaskan bahwa tidak ada hasil yang menghianati perjuangannya. Meski awalnya sempat bingung dalam membagi waktu, tapi dengan keyakinan dan usaha yang kuat bisa mendapatkan hasil sesuai dengan harapan. “Tidak ada usaha yang menghianati hasil,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq