Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Keluh Kesah Seniman Barongsai Tak Bisa Semarakkan Imlek

Choirurrozaq • Jumat, 12 Februari 2021 | 18:45 WIB
keluh-kesah-seniman-barongsai-tak-bisa-semarakkan-imlek
keluh-kesah-seniman-barongsai-tak-bisa-semarakkan-imlek

Dampak pandemi Covid-19 juga dirasakan para seniman barongsai di Tulungagung. Selain sepi tanggapan, mereka juga tak bisa merayakan Imlek dengan semarak seperti tahun-tahun sebelumnya.


SITI NURUL LAILIL MA’RIFAH, Kota, Radar Tulungagung


Suasana berbeda di rumah San­toso yang berada di lingkungan padat di Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung, Rabu kemarin (10/2). Rumah pelatih barongsai ini biasanya ramai muda-mudi latihan untuk persiapan perayaan Imlek, kali ini terlihat sepi. Hal ini disebabkan tidak ada yang menyewa atraksi barongsai, mengingat situasi masih dalam pandemi Covid-19. 


Lantas, hari-hari Santoso kini lebih banyak di rumah. Sekadar mengisi waktu luang, pria berusia 60 tahun itu memilih menjaga warung internet (warnet). Tak jarang, untuk menghibur diri, dia bermain Erhu (alat musik tradisional Tiongkok). “Kesibukannya sekarang ya ini (jaga warnet, Red). Nggak ada latihan karena nggak ada tanggapan untuk menyemarakkan Imlek,” ucap pemilik nama Tionghoa, Liem Giok Sam ini saat ditemui Koran ini di rumahnya. 


Padahal normalnya, kata Santoso, seminggu sebelum Imlek sudah banyak jadwal untuk beratraksi bersama 30 anak didiknya. Bahkan, malam Imlek nanti biasanya ada yang sewa pertunjukan seni barongsai hingga dua atau tiga tempat. Namun itu, tidak berlaku di tengah pagebluk sekarang ini. “Padahal, sudah jadi budaya, setiap Imlek pasti ada barongsai. Karena keberadaan barongsai itu diyakini warga Tionghoa dapat membawa kesuksesan dan keberuntungan serta dapat mengusir roh-roh jahat,” jelasnya.


Sepinya tanggapan barongsai ini diduga karena regulasi pemerintah daerah yang melarang menggelar pertunjukan yang bersifat mengumpulkan massa. Karena berisiko penularan Covid-19. Santoso pun hanya bisa pasrah dan mematuhi aturan yang berlaku. “Misal ingin nanggap, kesulitan sama izinnya. Bahkan, tahun ini juga belum ada panggilan dari kelenteng. Sepertinya ditiadakan karena situasi masih pandemi,” jelasnya.


Dengan tidak adanya atraksi, Santoso dan 30 anak didiknya sebagai pemain kehilangan pendapatan. Padahal saat Imlek, untuk Santoso saja sebagai koordinator sekaligus pelatih mampu meraup Rp 20 juta. Pendapatan itu bisa lebih banyak didapat para pemain ketika menyemarakkan Imlek dengan keliling kota. “Sekali show itu bisa capai Rp 5 juta. Kalau ecer hitungannya per kepala. Satu kepala Rp 1 juta. Tergantung waktu aktraksi juga,” tuturnya.


Santoso menyebut, barongsai tak hanya menunjukkan atraksinya saat Imlek saja, tapi juga sering ditanggap untuk pembukaan toko, ulang tahun, pertunangan, pitonan, hingga pernikahan. Namun, semenjak pandemi datang pada April lalu, belum satu pun kepala barongsai yang keluar untuk atraksi. “Kalau ulang tahun dan pitonan itu yang sering warga pribumi. Kalau pembukaan toko dan pernikahan itu lebih banyak warga Tionghoa,” terangnya.


Lama tidak ada tanggapan, delapan kepala barongsai berwarna hitam, kuning, merah, dan putih milik Santoso kini hanya jadi penghias dinding ruang tengah rumahnya. Sedangkan untuk tonggak justru dijadikan tatakan tanaman hias. “Program vaksinasi sudah jalan. Semoga pandemi segera mereda dan pemerintah memperbolehkan lagi pertunjukan seni. Karena banyak seniman seperti kami yang menggantungkan ekonominya dari ini (atraksi barongsai, Red),” harapnya. (*)

Editor : Choirurrozaq