Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dari Sketsa Gambar, Maf Rikhatu Mubayyana Kembangkan Quilling Paper

Choirurrozaq • Senin, 15 Februari 2021 | 16:30 WIB
dari-sketsa-gambar-maf-rikhatu-mubayyana-kembangkan-quilling-paper
dari-sketsa-gambar-maf-rikhatu-mubayyana-kembangkan-quilling-paper


Berinovasi dan ulet, itulah kunci untuk dapat bertahan di tengah hantaman pandemi Covid-19 ini. Memanfaatkan sisa kertas origami, Maf Rikhatu Mubayyana berhasil mengubahnya menjadi kerajinan quilling paper yang menarik. Seni menggulung dan membentuk kertas warna-warni menjadi karya seni bernilai estetik.  


 


ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Ngunut,Radar Tulungagung


 


Tak sulit menemukan kediaman Maf Rikhatu Mubayyana di Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut. Ketika ditemui di kediamannya, Mafrika -sapaan akrabnya- tengah asyik mengerjakan quilling paper milik salah satu pembeli. Quilling paper sendiri merupakan keterampilan dalam menggulung kertas agar menghasilkan karya seni yang bernilai estetik. Beberapa produk yang berhasil dibuatnya antara lain, custom nama, hiasan dinding, hingga mahar pernikahan.


Meski kerajinan quilling paper tergolong banyak diminati, pandemi Covid-19 seperti saat ini sangat berimbas pada bisnis yang telah dia geluti sedari SMA ini. Terlebih beberapa perayaan seperti wisuda dan pernikahan sempat dihentikan beberapa waktu lalu. Kondisi ini membuat omzetnya pun ikut mengalami penurunan selama pandemi. “Yang pasti ada penurunan karena memang selama pandemi tidak ada wisuda juga. Mungkin kalau dihitung bisa sampai 20-30 persen,” jelasnya.


Untuk itu, gadis kelahiran 23 Agustus 2000 ini harus memutar otak untuk menarik minat pelanggannya. Salah satunya dengan berinovasi membuat quilling paper jenis 3 dimensi (3D). Selain tampak lebih unik, kerajinan ini tergolong masih baru untuk di Tulungagung. Untuk itu, dia pun mengambil peruntungan dengan mengembangkannya terlebih dahulu.


Karena berbentuk 3D, maka tingkat kesulitan dan ketelitian termasuk tinggi. Bahkan untuk setiap bagian kecil, dia harus memperhatikan setiap detail gambar sketsa yang telah dibuat. “Perlu usaha lebih keras memang untuk menyelesaikan yang 3D ini. Lebih rumit dan detail juga,” terangnya.


Namun berkat usaha dan keuletannya ini, Mafrika berhasil menarik kembali pelanggan-pelanggan yang sempat berhenti order darinya. Terlebih semenjak Satgas Penanganan Covid-19 kembali memperbolehkan warga untuk melangsungkan pernikahan dengan cara sederhana. “Saat itu rata-rata yang pesan untuk mahar karena pernikahan yang diizinkan saat itu hanya untuk akad saja. Jadi alhamdulilah sedikit-sedikit rezeki mulai mengalir,” imbuhnya.


Quilling paper bukan hal asing bagi alumnus SMAN 1 Kedungwaru ini. Ini ketika dari hobinya membuat origami. Seni melipat kertas asal Jepang ini menjadi hobinya semasa kecil. Tak jarang, ketika membuat origami terdapat sisa potongan kertas yang tidak terpakai. Anak kedua dari empat bersaudara ini pun mencoba memanfaatkan sisa kertas dari hasil origami untuk membuat karya lain. “Dulu waktu SD, awalnya sering manfaatkan hasil guntingan kertas origami itu saya tempel di kertas dan digulung. Ternyata ini namanya quilling paper,” urainya.


Karena kesibukan sekolah, dia pun sempat melupakan seni quilling paper. Hingga dia pun beralih menekuni hobinya dalam menggambar sketsa. Bermodal kertas gambar dan pensil gambar, kemampuan gambarnya kian terasah berkat seringnya dia belajar secara otodidak. Memasuki SMP, dia kian serius tekuni dunia gambar. Mendapat apresiasi dari teman-temannya, dia pun memberanikan diri membuka jasa sketsa.


Melihat bisnis sketsanya kian berkembang, memotivasinya untuk mencoba membuat kerajinan baru. Lantas dia pun teringat dengan karya-karya quilling paper semasa kecilnya. Ini membuatnya untuk kembali tekuni seni menggulung kertas ini. Bermodal referensi dari media sosial, dia pun memulai kembali membuat quilling paper. Tak disangka, quilling paper buatannya menuai pujian dari teman-temannya. “Waktu itu iseng aja teringat pernah buat quilling paper, ternyata teman-teman banyak yang suka,” terangnya seraya tertawa. 


Menurutnya, quilling paper merupakan salah satu kesenian yang unik. Selain hanya bermodal kertas sederhana dan lem, masih mampu menghasilkan karya seni yang menarik. Mahasiswa IAIN Tulangagung ini mengaku, salah satu kesulitan dalam membuat quilling paper adalah dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Serta imajinasi agar dapat membuat karya yang bagus. Karena tak sekadar menggulung kertas, tapi memperhatikan padu padan warna kertas serta bentuk gambar yang akan dibuat.


Gadis yang bercita-cita menjadi seorang ilustrator ini mampu menyelesaikan satu karya quilling paper dalam waktu 3-4 jam. Tergantung dari tingkat kerumitan dan besarnya area gambar yang dibuat. Kini selain sketsa dan quilling paper, Mafrika juga merambah bisnis buket hijab dan snack. “Kalau buket itu musiman. Saat banyak yang wisuda atau ulang tahun, baru ramai,” tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq