Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Tulungagung – Perilaku flexing atau pamer termasuk kepribadian yang narsistik. Hal itu lantaran berniat ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain, seperti yang dilakukan oleh crazy rich Candra Bayu atau Bayu Walker.
Pria asal Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, ini dikenak cukup kaya raya oleh sebagian masyarakat Tulungagung. Terbukti dia sering bepergian dengan mobil mewahnya lewat jalan raya. Namun, barang itu sedikit mulai hilang lantaran disita kepolisian pada Kamis (30/3) malam.
“Penyebab flexing ada beberapa faktor. Di antaranya dari latar belakang, pola asuh orang tua, lingkungan, dan konsep diri. Tiap psikologi mental seseorang pasti gak ada yang tiba-tiba, pasti ada akarnya,” ujar psikolog Tulungagung, Ifada Nurrohmania.
Selain itu, flexing juga dibentuk oleh proses konstruksi otak yang membentuk kepribadian narsistik. Namun, itu juga melihat dari self image yang dibentuk oleh orang tersebut, seperti pernah tidak dihargai, direndahkan, kemarahan, atau kecemasan dalam hidupnya. Maka, orang tersebut ingin ada titik balik dalam hidupnya.
Kepribadian narsistik memiliki ciri-ciri ingin diakui, dikagumi, dan dianggap penting. Jika dalam taraf wajar masih bisa dimaklumi. Namun, dalam kasus Bayu Walker, ada kondisi impulsif yang bertindak tanpa berpikir panjang. Apalagi, dia ingin mengubah hidupnya, tetapi ada orang-orang yang menjadi korban.
“Impulsif seperti itu karena ada kemarahan atau kekecewaan yang segera dihilangkan. Namun, pasti ada hal yang mengendap dalam kondisi psikologisnya,” tuturnya.
Orang yang seperti Bayu Walker bisa sadar dan bisa tidak jika perbuatannya merugikan orang lain. Tergantung kebutuhan yang dimiliki, seperti aktualisasi diri, penghargaan, rasa aman, nyaman, dan fisiologis. Namun, hal itu bertahap. Orang seperti Bayu dimungkinkan ada kerapuhan pada dirinya, karena ingin eksis dalam kondisi pribadi yang belum matang.
Jika orang seperti Bayu ingin dihargai atau diakui orang dengan kekayaan yang dimiliki, pasti membuatnya menghalalkan segala cara instan untuk cepat ke langkah itu. Namun, dalam hal itu dia memilih melompat pola psikologis sehingga emosionalnya tidak seimbang.
“Dari kerpibadian narsistik ekstrem, juga terjadi sifat manipulatif. Karena orang manipulatif tidak tiba-tiba, ada kondisi depresinya. Selain itu, cara berpikir atau pola pikir yang harus diubah,” terangnya.
Orang yang manipulatif itu ada cairan di otak yang tidak seimbang sehingga perlu dilakukan treatment oleh psikolog atau psikiater. Apalagi, hal ini juga bisa disebut mental illness yang harus diatasi.
“Orang flexing harus diasesmen psikologi sehingga bisa diketahui treatment-nya. Bahkan, minum obat saja tidak cukup. Butuh pendampingan ke psikolog atau psikiater,” pungkasnya. (jar/c1/din)
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



