RADAR TULUNGAGUNG - Tangis Arum pecah saat pertama kali tiba di rumah duka di kawasan Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Kedatangannya setelah kabar ditemukannya kerangka yang diyakini sebagai putranya, Alvaro Kiano Nugroho atau Alvaro, menjadi momen memilukan yang menyedot perhatian publik.
Kasus penculikan Alvaro yang hilang selama delapan bulan itu kini memasuki babak baru setelah polisi mengungkap identitas pelaku.
Arum, yang selama ini bekerja di Malaysia, tak kuasa menahan kesedihan ketika menapakkan kaki di rumah duka.
Kepulangannya ke Indonesia dilakukan setelah polisi menemukan jenazah di wilayah Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang kemudian dikaitkan dengan kasus penculikan Alvaro.
Masyarakat ikut memantau perkembangan kasus ini karena sifatnya yang janggal dan penuh kejanggalan sejak awal menghilangnya bocah tersebut.
Tes DNA Jadi Penentu Identitas Jenazah
Sebelum menuju rumah duka, Arum telah menjalani tes DNA di Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur.
Tes tersebut dilakukan untuk memastikan apakah kerangka yang ditemukan di Tenjo benar milik Alvaro.
“Yang diambil sampelnya air liur saja, sama sedikit wawancara,” ujar Arum ketika ditemui usai pemeriksaan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian yang sejak awal intens menangani kasus penculikan Alvaro.
Arum berharap proses identifikasi bisa segera tuntas agar jenazah putranya dapat dimakamkan dengan layak.
Menurutnya, delapan bulan pencarian penuh harapan dan kecemasan membuat keluarga seperti hidup dalam ketidakpastian panjang.
Pelaku Ternyata Ayah Tiri, Kini Tewas Bunuh Diri
Fakta mencengangkan terungkap dalam kasus penculikan Alvaro.
Sosok pelaku penculikan sekaligus pembunuhan ternyata adalah ayah tirinya sendiri.
Pria tersebut ditangkap polisi setelah penyelidikan mengarah kuat kepadanya.
Namun, ia tidak sempat menjalani proses hukum sepenuhnya.
Ayah tiri Alvaro justru mengakhiri hidup di ruang konseling Polres Metro Jakarta Selatan.
Polisi menyatakan pelaku bunuh diri saat sedang dalam masa pemeriksaan.
Kabar ini menambah pukulan bagi Arum.
Ia tidak pernah menduga bahwa orang yang sempat tinggal satu rumah dengannya justru menjadi ancaman terbesar bagi nyawa anaknya sendiri.
Hilang 8 Bulan, Pencarian Tak Pernah Berhenti
Kasus penculikan Alvaro bermula Maret lalu ketika bocah 6 tahun itu dinyatakan hilang di kawasan Pesanggrahan.
Keluarga bersama polisi dan warga sekitar sempat melakukan pencarian besar-besaran.
Namun, pencarian itu tak membuahkan hasil hingga berbulan-bulan.
Selama di Malaysia, Arum terus memantau perkembangan kasus dan beberapa kali berkomunikasi dengan pihak kepolisian.
Ia bahkan sempat menyampaikan rasa terima kasih kepada tim Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan yang terus mem-follow up laporan kehilangan putranya.
“Terima kasih untuk Polres Jakarta Selatan, terutama Bu Sela, yang selalu follow up berita tentang hilangnya Alvaro,” ucap Arum.
Penemuan Kerangka di Tenjo Menguak Misteri
Terobosan besar dalam penyelidikan muncul ketika polisi menemukan kerangka anak-anak di Tenjo, Kabupaten Bogor.
Lokasi itu berada tak jauh dari rumah kerabat pelaku.
Temuan kerangka tersebut langsung memantik dugaan bahwa Alvaro menjadi korban pembunuhan.
Setelah olah TKP dan serangkaian pemeriksaan forensik, polisi akhirnya menautkan temuan kerangka dengan laporan penculikan Alvaro.
Dugaan itu semakin menguat setelah pelaku menunjukkan gelagat mencurigakan dalam pemeriksaan.
Arum pun dipanggil untuk menjalani tes DNA demi memastikan identitas kerangka tersebut.
Proses konfirmasi ini menjadi momen emosional baginya.
Meski berat menerima kenyataan, ia berharap hasil tes dapat memberikan kejelasan bagi keluarganya.
Keluarga Masih Menunggu Kepastian
Hingga kini, keluarga masih menunggu hasil akhir pengujian DNA dari Rumah Sakit Polri.
Meski keyakinan kuat mengarah pada Alvaro, Arum tetap ingin kepastian ilmiah demi proses pemakaman yang layak.
Ia juga belum menerima informasi lanjutan dari pihak keluarga pelaku.
Tidak ada komunikasi maupun permintaan maaf.
Yang ada hanyalah kesunyian panjang di tengah duka yang sedang dialami.
Kasus penculikan Alvaro ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga.
Di sisi lain, publik berharap tragedi ini menjadi pelajaran penting tentang perlindungan anak serta kewaspadaan terhadap ancaman dalam lingkup terdekat.***
Editor : Vidya Sajar Fitri