Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Dewa 19 Lengkap: Dari Band SMP di Surabaya hingga Legenda Musik Indonesia dengan Jutaan Album Terjual

Izahra Nurrafidah • Selasa, 24 Februari 2026 | 19:00 WIB

Sejarah Dewa 19 Lengkap: Dari Band SMP di Surabaya hingga Legenda Musik Indonesia dengan Jutaan Album Terjual
Sejarah Dewa 19 Lengkap: Dari Band SMP di Surabaya hingga Legenda Musik Indonesia dengan Jutaan Album Terjual
TULUNGAGUNG - Sejarah Dewa 19 menjadi salah satu perjalanan paling ikonik dalam industri musik Indonesia. Band yang lahir dari pertemanan siswa SMP di Surabaya ini berhasil menembus batas generasi dan zaman, menjelma sebagai legenda dengan puluhan lagu hits serta jutaan album terjual. Perjalanan panjang Dewa 19 bukan hanya soal popularitas, tetapi juga dinamika konflik, pergantian personel, hingga keberanian bereksperimen dengan berbagai genre musik.

Awal sejarah Dewa 19 dimulai pada 1986. Band ini dibentuk oleh empat siswa SMP Negeri 6 Surabaya, yakni Ahmad Dhani, Andra Junaidi, Erwin Prasetya, dan Wawan Juniarso. Nama “Dewa” sendiri merupakan akronim dari nama para personel awalnya. Markas latihan mereka berada di rumah Wawan di kawasan Universitas Airlangga, Surabaya, yang menjadi saksi lahirnya embrio band besar Indonesia.

Pada fase awal, Dewa mengusung musik pop, lalu sempat berbelok ke jazz setelah Erwin memperkenalkan genre tersebut. Perubahan arah musik memicu konflik internal, hingga Wawan hengkang pada 1988. Nama band sempat berubah menjadi Down Beat dan cukup dikenal di Jawa Timur lewat berbagai festival musik. Namun, tak lama kemudian, Wawan kembali dan mengajak Ari Lasso, sekaligus mengganti nama menjadi Dewa 19—merujuk usia rata-rata personelnya saat itu.

Perjuangan Dewa 19 menuju industri rekaman nasional tidaklah mudah. Dengan modal Rp10 juta dari seorang rekan, mereka hijrah ke Jakarta untuk merekam album. Ahmad Dhani bahkan harus berkeliling dari satu label ke label lain menggunakan bus kota demi menawarkan master lagu. Kerja keras itu berbuah manis ketika album debut Dewa 19 dirilis pada 1992 dan meledak di pasaran setelah diambil alih oleh Aquarius Musikindo.

Kesuksesan berlanjut lewat album Format Masa Depan (1994) dan Terbaik-Terbaik (1995). Album Terbaik-Terbaik bahkan disebut banyak pengamat sebagai mahakarya Dewa 19 dan masuk daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi Rolling Stone. Dari sinilah istilah “Baladewa” mulai digunakan untuk menyebut para penggemar setia mereka.

namun, puncak popularitas juga dibarengi badai masalah. Ketergantungan narkoba yang dialami Ari Lasso dan Erwin Prasetya membuat aktivitas band lumpuh. Konflik internal memuncak hingga Ari Lasso dikeluarkan secara halus pada 1999. Dewa 19 sempat tersisa dua personel sebelum akhirnya merekrut vokalis baru, Once Mekel, yang membawa warna berbeda dalam perjalanan band.

Era Once menjadi titik balik besar melalui album Bintang 5 (2000). Album ini menjadi yang tersukses sepanjang sejarah Dewa 19, dengan penjualan resmi lebih dari 1,7 juta kopi dan total estimasi—termasuk bajakan—mencapai jutaan keping. Lagu-lagu seperti Roman Picisan, Risalah Hati, dan Separuh Nafas merajai radio di seluruh Indonesia.

Memasuki era 2000-an, Dewa 19 semakin matang dan berani mengangkat isu sosial melalui album Republik Cinta (2006). Single Laskar Cinta bahkan mendapat apresiasi internasional karena pesan perdamaian dan toleransi. Meski ambisi go international tak sepenuhnya tercapai, Dewa 19 tetap diakui sebagai ikon musik nasional dan dinobatkan sebagai Duta Surabaya.

Pergantian personel kembali terjadi hingga akhirnya Once resmi keluar pada 2019. Isu bubarnya Dewa 19 pun mencuat. Meski demikian, sejarah Dewa 19 telah terlanjur terpatri kuat di benak publik. Lagu-lagu mereka terus hidup, dinyanyikan lintas generasi, dan menjadi bukti bahwa Dewa 19 bukan sekadar band, melainkan bagian penting dari sejarah musik Indonesia.

Editor : Izahra Nurrafidah
#ahmad dhani #lagu dewa 19 #band legendaris Indonesia #Dewa 19 Surabaya #Sejarah Dewa 19