JAKARTA - Ali Khamenei tewas dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Kabar mengenai Ali Khamenei tewas ini langsung menyita perhatian dunia karena ia merupakan pemimpin tertinggi Iran sekaligus figur paling berpengaruh dalam sistem politik Republik Islam tersebut.
Ali Khamenei tewas setelah serangan udara dilaporkan menghantam kediamannya di Teheran. Pria berusia 86 tahun itu disebut menjadi target utama dalam operasi militer yang dikabarkan melibatkan Israel dengan dukungan Amerika Serikat. Hingga kini, detail resmi mengenai kronologi serangan masih terus berkembang.
Kabar Ali Khamenei tewas bukan sekadar berita duka nasional bagi Iran, tetapi juga berpotensi memicu dinamika geopolitik baru di Timur Tengah. Pasalnya, selama lebih dari tiga dekade, Khamenei menjadi pusat kekuasaan politik, militer, dan spiritual di negara tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Melonjak Tajam, Tembus USD 5.200! Sinyal Menuju 10.000 atau Awal Bubble Ekonomi?
Pemimpin Tertinggi Sejak 1989
Ali Khamenei resmi menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 1989, menggantikan Ayatullah Ruhollah Khomeini yang wafat. Sejak saat itu, ia memegang kewenangan luas, termasuk sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata dan pemimpin spiritual umat Syiah di Iran.
Posisi pemimpin tertinggi di Iran berada di atas presiden. Jabatan ini memiliki otoritas dalam menentukan arah kebijakan luar negeri, pertahanan, serta menunjuk pejabat penting negara. Dengan kewenangan tersebut, Khamenei dikenal sebagai tokoh terkuat dalam struktur pemerintahan Iran.
Peran dalam Revolusi Iran
Perjalanan politik Khamenei tak lepas dari Revolusi Iran 1979. Pada 1976, ia bertemu Ayatullah Ruhollah Khomeini, tokoh sentral yang memimpin perlawanan terhadap Dinasti Pahlavi. Dua tahun kemudian, gelombang protes besar menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi dan mengubah Iran menjadi republik Islam.
Sejak revolusi tersebut, Khamenei aktif terlibat dalam pembentukan sistem politik baru. Ia menjadi salah satu figur penting yang membantu mengokohkan fondasi pemerintahan berbasis teokrasi di Iran.
Pada 1981, Khamenei sempat menjadi target percobaan pembunuhan. Serangan tersebut membuatnya mengalami cedera serius. Namun insiden itu justru memperkuat posisinya sebagai tokoh penting dalam revolusi dan pemerintahan Iran.
Dari Aktivis hingga Penguasa Tertinggi
Setelah Revolusi Iran, karier politik Khamenei terus menanjak. Ia pernah menjabat sebagai presiden Iran sebelum akhirnya diangkat menjadi pemimpin tertinggi pada 1989.
Sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei memegang kendali atas angkatan bersenjata, termasuk Garda Revolusi Iran. Ia juga memiliki pengaruh besar dalam kebijakan nuklir, hubungan internasional, serta arah ideologi negara.
Di bawah kepemimpinannya, Iran menghadapi berbagai sanksi internasional dan ketegangan dengan Barat, terutama Amerika Serikat dan Israel. Namun di sisi lain, ia juga dikenal sebagai figur yang konsisten mempertahankan kedaulatan nasional Iran di tengah tekanan global.
Dampak Geopolitik
Kematian Ali Khamenei berpotensi menciptakan ketidakpastian politik di Iran. Sistem suksesi pemimpin tertinggi diatur melalui Majelis Ahli, yang bertugas memilih pengganti. Proses ini akan menjadi sorotan internasional mengingat posisi Iran yang strategis dalam geopolitik Timur Tengah.
Selain itu, hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel diprediksi akan semakin tegang pasca serangan tersebut. Dunia kini menanti bagaimana respons resmi pemerintah Iran dan langkah diplomatik atau militer yang mungkin diambil.
Ali Khamenei dikenal sebagai sosok yang disegani sekaligus kontroversial. Bagi pendukungnya, ia adalah simbol keteguhan revolusi Islam. Bagi para pengkritiknya, ia merupakan figur yang keras terhadap oposisi dan Barat.
Kini, dengan kabar Ali Khamenei tewas, Iran memasuki babak baru dalam sejarah politiknya. Perubahan kepemimpinan di level tertinggi bisa membawa arah kebijakan yang berbeda atau justru melanjutkan garis ideologi yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Perkembangan situasi ini akan terus dipantau karena dampaknya tidak hanya dirasakan di Iran, tetapi juga di panggung politik global.
Editor : Divka Vance Yandriana