Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Perpecahan Sunni dan Syiah: Bermula dari Suksesi Nabi Muhammad hingga Perang Saudara Islam Pertama

Divka Vance Yandriana • Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:35 WIB

Sejarah perpecahan Sunni dan Syiah bermula dari suksesi Nabi Muhammad hingga konflik politik awal dalam dunia Islam.
Sejarah perpecahan Sunni dan Syiah bermula dari suksesi Nabi Muhammad hingga konflik politik awal dalam dunia Islam.

JAKARTA - Perpecahan Sunni dan Syiah menjadi salah satu topik penting dalam sejarah Islam yang masih sering dibahas hingga kini. Dengan jumlah umat Islam lebih dari 1,9 miliar di seluruh dunia, perbedaan pandangan antara Sunni dan Syiah bukan sekadar soal teologi, tetapi juga berkaitan dengan sejarah politik awal setelah wafatnya Nabi Muhammad.

Menurut data World Population Review, umat Islam mencakup sekitar 24,7 persen populasi dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 87 hingga 90 persen merupakan penganut Sunni, sementara 10 hingga 13 persen lainnya adalah Syiah. Meski sama-sama berpegang pada Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad, perbedaan tafsir sejarah membuat kedua kelompok ini berkembang dengan identitas yang berbeda.

Perdebatan mengenai perpecahan Sunni dan Syiah sebenarnya bermula dari persoalan kepemimpinan umat Islam setelah Nabi Muhammad wafat pada tahun 632 Masehi.

Baca Juga: Update Transfer Pemain Asing Putri: Jakarta Pertamina Enduro Hadapi Beban Berat di Final For Proliga 2026

Awal Mula Perpecahan Sunni dan Syiah

Salah satu tokoh penting dalam sejarah ini adalah Ali bin Abi Thalib. Ia merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad dan termasuk orang pertama yang memeluk Islam. Ali dikenal sebagai sosok yang bijaksana, berani, serta dipercaya oleh Nabi dalam berbagai urusan penting.

Ali juga menikahi putri Nabi, Fatimah az-Zahra, yang semakin mempererat hubungan keluarga antara keduanya. Dalam sejarah Islam, Ali sering disebut sebagai salah satu sahabat paling setia dan memiliki peran besar dalam perkembangan awal Islam.

Namun, setelah Nabi Muhammad wafat, muncul pertanyaan besar: siapa yang berhak memimpin umat Islam selanjutnya.

Baca Juga: Cara Lapor SPT Tahunan di Coretax DJP Terbaru 2026, Panduan Lengkap Online Anti Ribet untuk Wajib Pajak

Sebagian umat Islam meyakini bahwa kepemimpinan seharusnya diberikan kepada Abu Bakar melalui musyawarah para sahabat. Pandangan ini kemudian menjadi dasar bagi kelompok Sunni.

Di sisi lain, kelompok yang kemudian dikenal sebagai Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang paling berhak menggantikan Nabi Muhammad, baik karena kedekatan keluarga maupun karena dianggap telah ditunjuk secara spiritual.

Perbedaan Tafsir Hadis

Perbedaan pandangan antara Sunni dan Syiah juga dipengaruhi oleh penafsiran terhadap beberapa hadis penting. Salah satunya adalah peristiwa di Ghadir Khum.

Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad disebut menyampaikan pesan tentang kedudukan Ali. Namun kata “maula” yang digunakan dalam hadis tersebut ditafsirkan berbeda.

Kaum Sunni menafsirkan kata tersebut sebagai pelindung atau sahabat dekat. Sementara itu, Syiah menafsirkan “maula” sebagai pemimpin atau penerus kepemimpinan umat Islam.

Baca Juga: Jadwal Pekan ke-30 Liga Inggris 2025-2026: Arsenal vs Everton Hingga Liverpool Hadapi Tottenham Hotspur

Perbedaan tafsir inilah yang kemudian memperkuat garis pemisah antara kedua kelompok.

Kontroversi Hadis Pena dan Kertas

Peristiwa lain yang sering menjadi bahan perdebatan adalah hadis yang dikenal sebagai “Hadis Pena dan Kertas”. Beberapa hari sebelum wafatnya, Nabi Muhammad dikabarkan meminta pena dan kertas untuk menulis pesan agar umat Islam tidak tersesat setelah kepergiannya.

Namun permintaan tersebut tidak terlaksana karena muncul perdebatan di antara para sahabat yang hadir saat itu. Sebagian menganggap Al-Qur’an sudah cukup sebagai pedoman, sementara yang lain ingin Nabi menuliskan pesan tersebut.

Hingga kini, para ulama Sunni dan Syiah memiliki interpretasi berbeda mengenai peristiwa ini.

Perebutan Kepemimpinan dan Awal Konflik

Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat berkumpul di Madinah untuk menentukan pemimpin baru. Dalam musyawarah tersebut, Abu Bakar akhirnya dipilih sebagai khalifah pertama.

Ali bin Abi Thalib pada awalnya tidak hadir dalam pertemuan tersebut karena sedang mengurus pemakaman Nabi. Ia kemudian menerima keputusan tersebut meskipun sebagian pendukungnya merasa keputusan itu tidak sepenuhnya adil.

Setelah Abu Bakar wafat, kepemimpinan berlanjut kepada Umar bin Khattab dan kemudian Utsman bin Affan. Baru pada tahun 656 Masehi, Ali diangkat sebagai khalifah keempat.

Namun masa kepemimpinannya tidak berjalan mudah.

Perang Saudara Islam Pertama

Ali menjadi khalifah di tengah situasi politik yang sangat tegang. Konflik mulai muncul setelah terbunuhnya Khalifah Utsman.

Sebagian tokoh penting menuntut agar para pelaku pembunuhan segera dihukum. Ketegangan tersebut akhirnya memicu perang saudara pertama dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai “Fitnah”.

Salah satu pertempuran besar yang terjadi adalah Perang Jamal atau Pertempuran Unta pada tahun 656 Masehi. Konflik kemudian berlanjut dengan pertentangan antara Ali dan Muawiyah, gubernur Suriah saat itu.

Ketegangan tersebut akhirnya berujung pada peristiwa tragis ketika Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh kelompok Khawarij pada tahun 661 Masehi.

Dampak Sejarah hingga Kini

Kematian Ali dan peristiwa-peristiwa setelahnya memiliki dampak besar terhadap perkembangan Sunni dan Syiah hingga saat ini.

Bagi Syiah, tragedi Karbala yang menewaskan putra Ali, Husein bin Ali, menjadi simbol perjuangan melawan ketidakadilan. Peristiwa tersebut diperingati setiap tahun pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura.

Sementara itu, umat Sunni memandang kepemimpinan para khalifah pertama sebagai bagian dari sejarah politik Islam yang terbentuk melalui musyawarah.

Meski memiliki perbedaan sejarah dan interpretasi, baik Sunni maupun Syiah tetap menjadi bagian dari komunitas besar umat Islam di seluruh dunia.

Editor : Divka Vance Yandriana
#syiah #sunni #sunni dan syiah