KOTA BLITAR – Adanya kasus stunting alias gizi buruk disikapi serius oleh DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kota Blitar. Perhimpunan profesi ini menilai bahwa penanganan kasus tersebut harus dilakukan secara sistematis dari hulu ke hilir. Untuk itu, perlu adanya edukasi yang masif.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua DPC Persagi Kota Blitar, Lusi Dwi Arina, saat bertemu Jawa Pos Radar Blitar kemarin (6/9). Perempuan berjilbab ini mengatakan, sebagian besar masyarakat menganggap penanganan stunting dilakukan pada bayi usia 1-5 tahun. Padahal, ini adalah persepsi yang kurang tepat. “Justru itu sudah terlambat. Pencegahan harus dilakukan jauh sebelum itu,” jelasnya.
Perempuan ramah ini mengungkapkan, pencegahan sepatutnya dilakukan di tingkat hulu. Dalam artian, seorang anak harus dicukupi kebutuhan gizinya secara menyeluruh oleh orang tua. Hal ini harus terus dilakukan hingga anak beranjak dewasa. “Jika orang dengan asupan gizi yang cukup ini menikah, kemungkinan besar generasi berikutnya juga tidak akan kekurangan gizi. Asal orang tua tetap menjaga pola makan dengan gizi seimbang,” sambungnya.
Nah, oleh sebab itu perlu dilakukan langkah strategis agar masyarakat bisa teredukasi. Salah satunya dengan gencar menggelar sosialisasi ke berbagai kelompok masyarakat. Bukan hanya warga dengan usia dewasa saja, Persagi Kota Blitar juga menyasar siswa sekolah dalam program eduaksi ini. “Ini memang harus digencarkan secara masif agar masyarakat itu menjadi teredukasi. Lalu, juga ada kami yang berperan dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi di keluarga,” kata dia.
Dia mengimbau agar masyarakat jeli dalam memilih asupan makanan harian. Itu penting guna meminimalkan kemungkinan terjadinya kasus stunting pada generasi selanjutnya. “Pencegahannya harus sedari awal. Tidak hanya belakangan saja, karena itu sudah jauh terlambat,” ujar Lusi. (*/c1/dit)
Editor : Doni Setiawan