JAKARTA - Sariawan atau stomatitis merupakan salah satu masalah kesehatan mulut yang kerap mengganggu masyarakat dari anak-anak hingga dewasa. Luka kecil di bibir, lidah, pipi bagian dalam, atau langit-langit mulut ini dapat menimbulkan rasa perih sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari makan hingga berbicara. Menurut dr. Lempeng, seorang praktisi telemedicine, sariawan sebenarnya bisa dicegah dan ditangani asalkan memahami penyebab dan faktor pemicunya.
Secara medis, sariawan adalah ulkus atau luka pada mukosa mulut yang bisa berwarna putih atau kekuningan dengan lapisan merah di sekitarnya. Meskipun kebanyakan sariawan sembuh dalam 4–14 hari, kondisi tertentu membuat luka ini menjadi kronis atau berulang. Faktor utama yang memicu sariawan meliputi cedera mekanis akibat tergigit, gigitan dari gigi tajam, atau gesekan kawat gigi, serta kebersihan mulut yang kurang optimal.
Penyebab Sariawan yang Sering Terlewatkan
Selain cedera mekanis, sariawan juga bisa disebabkan oleh kekurangan vitamin B dan C, kurang minum sehingga mulut kering, serta sistem kekebalan tubuh yang rendah. Infeksi virus, jamur, dan bakteri juga menjadi pemicu yang perlu diperhatikan. Pada kasus tertentu, reaksi hipersensitivitas terhadap zat tertentu, seperti zinc phosphate, dapat memicu sariawan yang parah dan menyakitkan.
Stres, kecemasan, dan tekanan emosional juga diketahui meningkatkan risiko sariawan. Menurut dr. Lempeng, orang dengan tingkat stres tinggi lebih mudah mengalami sariawan karena kombinasi faktor imun dan perilaku seperti tergigit secara tidak sengaja. Kondisi kronis pada orang dengan penyakit sistem imun lemah, misalnya TBC atau HIV, dapat menyebabkan sariawan yang luas dan sulit sembuh.
Gejala dan Dampak Sariawan
Gejala utama sariawan adalah rasa sakit di area mulut, kesulitan makan dan minum, serta sensasi terbakar. Pada kasus tertentu, sariawan bisa muncul bersamaan dengan faringitis atau radang tenggorokan, dan bahkan disertai demam ringan. Jika dibiarkan tanpa penanganan, sariawan yang luas atau kronis dapat memicu komplikasi seperti tonsilitis kronis dan infeksi sekunder di mulut.
Cara Mengatasi Sariawan di Rumah
Beberapa langkah sederhana dapat mempercepat penyembuhan sariawan. Penggunaan larutan garam untuk berkumur, konsumsi makanan lunak yang kaya vitamin B dan C, serta menghindari makanan pedas atau asam dapat membantu mengurangi iritasi. Salep kortikosteroid atau obat kumur antiseptik juga bisa digunakan sesuai anjuran dokter. Dr. Lempeng menekankan pentingnya madu murni sebagai antiinflamasi alami dan menjaga hidrasi tubuh agar mulut tetap lembap.
Pencegahan Sariawan Agar Tidak Kambuh
Pencegahan utama adalah menjaga kebersihan mulut. Sikat gigi dua kali sehari dengan sikat lembut, rutin membersihkan lidah, dan melakukan pemeriksaan ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali sangat dianjurkan. Menjaga asupan vitamin B-kompleks, C, dan zat besi melalui makanan sehat juga penting. Hindari stres berlebihan, makanan yang bersifat iritatif, serta kebiasaan mengunyah atau makan dengan tergesa-gesa.
Dr. Lempeng menegaskan bahwa sariawan yang tidak kunjung sembuh selama lebih dari seminggu, jumlahnya banyak, atau menimbulkan nyeri berat harus segera diperiksakan ke dokter. Penanganan medis bisa melibatkan obat topikal, salep antiinflamasi, atau terapi khusus sesuai penyebabnya.
Dengan memahami penyebab, gejala, dan langkah pencegahan, sariawan dapat diminimalkan, sehingga aktivitas sehari-hari tetap nyaman dan mulut tetap sehat.
Editor : Divka Vance Yandriana