Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Janur Kuning

W
Penulis: Wawan Susetya❯
WAWAN SUSETYA, BUDAYAWAN
WAWAN SUSETYA, BUDAYAWAN

SUATU malam sekitar 7 tahun lalu, saya mendapat undangan tasyakuran haji seorang sahabat di daerah Blitar. Saya pun memenuhi undangan tersebut bersama dua orang sahabat yang juga mendapat undangan yang sama.


Advertisement

Setelah sampai di rumah sahabat di perumahan daerah Pakunden Blitar, ternyata sudah banyak undangan lain yang datang. Mereka duduk dengan rapi di halaman masjid yang kebetulan berada di depan rumah sahabat saya.

Kira-kira jumlah undangan tasyakuran haji malam itu lebih dari 100 an orang yang kebanyakan para tetangga, famili dan rekan kerja sahabat yang bekerja sebagai Pengawas Dinas Pendidikan.

Acara pun dimulai yang dipandu oleh seorang MC (Master of Ceremony) dengan membacakan susunan acara tasyakuran haji. Betapa tersentaknya hati saya ketika MC membacakan acara inti mauidhah hasanah yang akan diberikan kepada saya.

Advertisement

Dalam hati saya sempat bergumam, apakah sahabat saya ini akan ngerjain saya? Bagaimana mungkin saya akan memberikan mauidhah hasanah soal haji, sedang saya belum dipanggil menunaikan ibadah Rukun Islam kelima itu.

Lagi pula, sahabat saya itu lho kok bisa-bisanya menunjuk saya secara spontan mengisi mauidhah hasanah pada tasyakuran haji malam itu. Apa boleh buat, MC sudah membacakan susunan acara tasyakuran haji. Dan, satu-persatu acara pun dimulai dari pembacaan ayat suci al-Qur'an, sambutan-sambutan hingga tiba giliran saya. Sekali lagi ini namanya terfetakompli atau "ketiban sampur".

Ya apa boleh buat, bismillah, saya pun akhirnya didaulat menuju mimbar podium dengan diawasi ratusan pasang mata. Namun saya tetap mencoba berusaha untuk tenang. Sambil berjalan menuju podium, terus terang saya masih berpikir apa yang nanti akan saya sampaikan di hadapan ratusan orang itu?

Advertisement

Setelah mengucap salam dan kalimat pembuka serta memberikan penghormatan kepada para pejabat dan tokoh masyarakat yang hadir, saya mengoreksi tugas yang diberikan kepada saya yaitu mauidhah hasanah lalu saya ganti refleksi nilai-nilai haji. Hal itu maksud saya agar tidak terkesan sakral, apalagi saya belum menunaikan ibadah haji.

Jadi, soal itu yang saya katakan di awal saya mendapat kesempatan bicara.
Dalam kesempatan itu saya mengungkapkan empat jenis air yang disebutkan di dalam al-Qur'an yang merupakan simbol, perlambang atau metafora dalam Rukun Islam.

Dari lima Rukun Islam tersebut yang dilambangkan air di surga tersebut yaitu shalat puasa zakat dan haji, sedang syahadat tidak disimbolkan karena tidak terlihat bentuk amaliyahnya. Maka penjelasannya dimulai dari shalat puasa zakat dan haji.

Pertama, air hujan itu melambangkan shalat. Sebagaimana kita ketahui bahwa proses terjadinya hujan karena adanya pencahayaan. Dari pencahayaan matahari ke lautan dan sungai-sungai di bumi maka air tersebut akan menguap ke atas lalu menjadi awan dan setelah itu menjadi hujan.

Maka proses terjadinya hujan yang bisa dimaknai sebagai rizki melimpah dan menyuburkan tanah itu semata-karena adanya proses pencahayaan. Demikian halnya orang yang mengerjakan shalat, kalau shalatnya benar tentu mereka akan mengalami proses pencahayaan.

Dirinya sudah menjadi cahaya yang dapat menerangi orang-orang di sekitar lingkungan nya. Dan, salah satu output dari produk shalat sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an yaitu mencegah perbuatan keji dan munkar.
Kedua, air khamr atau tape badheg atau tape ketan itu melambangkan puasa. Proses pembuatan air khamr atau tape melalui fermentasi atau peragian, sehingga berpengaruh pada terjadinya produk yang baik.

Ketela singkong yang semula keras, tapi setelah diadakan proses peragian, maka akan menyebabkan menjadi lembek dan enak.

Demikian halnya dengan orang yang berpuasa selama sebulan penuh di Bulan Ramadhan niscaya hatinya akan menjadi lembut. Dalam bahasa agama, tujuan berpuasa tidak lain agar menjadi hamba yang bertakwa.

Orang yang berpuasa selama sebulan penuh juga identik dengan proses kepompong melakukan "tapa brata" selama 40 hari.

Kepompong yang lagi ngenthung selama 40 hari tadi akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang bebas beterbangan menikmati kemerdekaannya.

Padahal kepompong tadi awalnya adalah ulat yang membuat gatal-gatal. Setelah menjadi kupu-kupu, makanannya pun menghisap madu yang menyehatkan.

Ketiga, air susu domba melambangkan zakat. Air susu domba termasuk susu kambing atau sapi dan hewan lainnya tentu akan diberikan kepada anak-anaknya.

Meski air susu tersebut rasanya nikmat, tapi si induknya tidak bermaksud untuk meminumnya melainkan diberikan kepada anak-anaknya. Sebaliknya jika si induk tidak mengeluarkan atau memberikan susunya kepada anak-anaknya niscaya ia akan menjadi sakit karenanya.

Demikian halnya dengan zakat, sesungguhnya harta tersebut bukan lagi haknya tetapi menjadi hak para penerima zakat, seperti faqir miskin, anak-anak yatim piatu, orang yang berhutang, para musafir, amil, dan sebagainya.

Dengan demikian jika harta seseorang tidak dikeluarkan melalui zakat setahun sekali, termasuk zakat mal, niscaya sama halnya dengan mencuri harta para faqir miskin.
Keempat, air madu melambangkan haji. Madu merupakan minuman yang menyehatkan dihasilkan dari lebah.

Lebah sendiri oleh Rasulullah Saw diidentikkan dengan orang mukmin. Artinya, lebah hanya makan makanan yang baik (menghisap sari bunga) dan yang dihasilkannya juga sesuatu yang baik (madu). Maka minuman madu tersebut melambangkan haji.

Makna ihram yang utama yaitu sudah melebur dan menghilangkan premis-premis jabatan kedudukan dan kepangkatan keduniawian sehingga menjadi "manusia universal" yang paripurna.

Orang yang hajinya mabrur tidak lagi tidak lagi menonjolkan lagi watak ego yang primordial lantaran memiliki "kesadaran baru" dengan memberikan kemaslahatan kepada orang-orang di sekitarnya dan lingkungannya.
Selain itu, saya juga menyelipkan cerita ketika saya sowan kepada sesepuh yang kemudian memberikan "sesuatu" kepada saya. Sesepuh tadi mengilustrasikan bahwa Rukun Islam itu identik dengan pohon kelapa dan buahnya. Pohon kelapa yang tinggi seperti huruf Alif melambangkan Syahadat.

Orang yang memanjat pohon kelapa identik dengan shalat. Selanjutya si pemanjat kelapa tadi "ngepos" atau istirahat dengan cara duduk di atas "blarak", itulah simbol puasa. Pasa oleh orang Jawa diistilahkan "ngeposne rasa" atau mengistirahatkan pikiran dan rasa untuk semata-mata taqarrub ilallah.

Selanjutnya si pemanjat kelapa memetik buah kelapa dan menjatuhkannya. Meskipun buah kelapa dijatuhkan, tetapi jangan khawatir karena tidak akan pecah dan rusak. Itulah gambaran dari amaliah zakat yang hasilnya akan kembali kepadanya.

Terakhir si pemanjat kelapa berdiri untuk mengambil janur; sejane neng Nur (Nurullah: Cahaya Allah). Dan, janur tersebut merupakan lambang haji.

Itulah sedikit yang bisa saya sampaikan dalam acara tasyakuran haji sahabat saya di Blitar 7 tahun lalu.***

Advertisement
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer