
Oleh H. Khamim, SE
Tanggal 12 Rabiul Awal merupakan tanggal istimewa bagi umat Islam. Pada tanggal itu, Nabi Muhammad dilahirkan. Saat kelahirannya disambut sukacita oleh banyak orang, tidak semata oleh keluarganya, namun juga oleh masyarakat Makkah pada umumnya. Menandakan bahwa kelak ia akan menjadi orang yang mempunyai peran penting di masyarakat. Lahir dari keluarga terpandang, hidup dalam situasi lingkungan yang heterogen, menempa hidup Muhammad kecil untuk bisa menjadi orang yang mempunyai karakter terpuji sesuai dengan namanya.
Situasi lingkungannya yang rusak oleh peradaban bebas nilai bahkan sampai membunuh bayi perempuan hidup-hidup sekalipun menjadi hal biasa, tidak menjadikannya hanyut dalam keterlibatan, bahkan justru menjadi keprihatinannya. Tampilan Muhammad yang moralis hingga mendapatkan gelar Al-Amin (orang yang tepercaya) pada saat ia masih muda belia. Sebuah gelar yang disematkan kepadanya bukan semata karena kebijaksanaannya saat menyelesaikan pertikaian kabilah-kabilah di Makkah untuk menempatkan kembali Hajar Aswad pada posisi semula setelah terjadi bencana banjir melanda Baitullah, tetapi lebih karena Muhammad muda mampu menampilkan gaya hidup yang mempesona, kejujurannya, kasih sayangnya, amanahnya, ketawaduanya, dan sikap indah lainnya yang pantas diteladani.
Seiring berjalannya waktu, di usia yang keempatpuluh tahun, Muhammad mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira yang menandai diangkatnya sebagai nabi dan rasul. Status barunya inilah yang akhirnya membuat gempar dunia Arab pada waktu itu, antara pro dan kontra, karena misi kenabiannya untuk mengubah wajah peradaban manusia yang jauh dari nilai-nilai menuju suatu peradaban mulia. Sebuah peradaban yang berintikan pada nilai tauhid dan mengemban misi rahmatan lil’alamin, mengajarkan tata kehidupan dalam suatu peradaban manusia yang transenden, humanis, dan egaliter.
Maulid
Peringatan maulid nabi bagi umat Islam mempunyai makna istimewa, karena selain untuk menunjukkan rasa cinta kepadanya peringatan ini berperanan untuk memperbarui ingatan akan keluhuran akhlaknya. Iqbal pernah melukiskan keluhuran dan kebesaran akhlak Nabi SAW.
Sungguh, hati muslim dipatri cinta nabi
Dialah pangkal mulia
Sumber bangga kita di dunia
Dia tidur di atas tikar kasar
Sedang umatnya mengguncang tahta Kisra
Inilah pemimpin bermalam-malam terjaga
Sedang umatnya tidur di ranjang raja-raja
Di Gua Hira ia bermalam
Sehingga tegak bangsa, hukum dan negara
Kala salat, pelupuknya tergenang air mata
Di medan perang, pedangnya bersimbah darah
Dibukanya pintu dunia dengan kunci agama
Duhai, belum pernah insan melahirkan putra semacam dia
Penampilan Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari sekaligus dalam mengajarkan Islam sangat patut diteladani. Hatinya yang lembut, tidak semata berlaku kepada kawan dan orang-orang dekat semata, akan tetapi juga kepada musuhnya sekaligus, sehingga kepribadian beliau membuat segan kawan dan lawannya. Inilah kiranya yang menjadikan dia sebagai orang yang paling berhasil dalam mempengaruhi orang sepanjang sejarah. Ketika bercerita tentang Nabi Muhammad, Will Durant menyatakan bahwa jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, maka ia adalah di antara tokoh-tokoh besar dalam sejarah. Ia telah berusaha meningkatkan tingkat ruhani dan moral suatu bangsa yang dicengkeram kebiadaban karena panas dan ketandusan Sahara. Ia lebih berhasil dibanding setiap pemburu manapun.
Sisi hidupnya layak diteladani karenanya tidak boleh dilupakan, itulah pentingnya peringatan maulid Nabi dilestarikan, agar generasi muslim yang semakin jauh rentangnya dari kehidupan nabi ini tetap senantiasa memiliki eksistensi. Maka peringatan maulid nabi ini memiliki dua kompetensi, kompetensi ritual sebagai wujud rasa cinta kepada nabi dan kompetensi sosial untuk melestarikan nilai-nilai yang dibawa oleh nabi bagi umat dan alam semesta.
Salawat...
Alquran pada surah Al Ahzab [33]:56 menyatakan bahwa “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”. Membaca salawat untuk nabi merupakan wujud cinta kepada yang dicintainya yaitu Nabi Muhammad. Membaca salawat ini ajaran langsung dari Allah karenanya dengan bersalawat akan melahirkan berkah. Salawat mampu mendatangkan keberkahan dan menolak azab. Salawat yang dipanjatkan dengan hati yang ikhlas akan memberikan kemanfaatan atas apa yang dimiliki. Dan sebaik-baik muslim adalah yang suka bersalawat, demikian dikatakan Kiai Hasim Muzadi.
Membaca salawat dengan demikian penting sekali bagi seorang muslim. Karena selain salawat mampu memberikan nuansa nilai kebaikan bagi umat. Salawat mempunyai pesan-pesan penting yang bisa menjadi solusi bagi berbagai permasalahan umat. Pertama; salawat membuat emosi menjadi stabil. Stabilitas emosi sangat berpengaruh pada spiritualitas. Setiap manusia memiliki rasio, akan tetapi kecerdasan manusia tidak menjamin untuk menjadi benar. Mengapa demikian, karena seseorang akan bergantung kepada yang mengendalikan rasionya, nafsu atau nuraninya?. Di balik itu ada rasa yang memiliki korelasi dengan nurani yang disebut spirit dan spiritual. Maka dengan berkali-kali membaca shakawat akan menumbuhkan stabilitas emosi. Stabilitas inilah yang akan mengendap dalam spiritualisme, maka semakin banyak salawat yang dibaca akan semakin baik bagi pengendalian emosinya.
Kedua; salawat akan membimbing pikiran manusia menuju sesuatu yang lurus dan benar. Orang yang benar belum tentu lurus ia masih bisa belak belok kanan kiri, maka salawat akan meluruskan dengan keberkahannya. Mengapa demikian? Karena orang yang bersalawat koneksinya dengan Alquran dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Ketiga; setiap orang lahir berada dengan tantangannya, fitnah dan perjuangannya. Pada ruang ini ada kejujuran, kekerasan, kemunafikan, kesabaran, ketergesa-gesaan, kerasukan dan sebagainya. Ketahanan seseorang dalam hal ini berhubungan dengan koneksinya pada spiritualnya, maka salawat yang mengkoneksikan kepada aspek spiritualnya yaitu Allah dan Muhammad sebagai nabi-Nya.
Maulid Nabi merupakan cara untuk mengagungkan Allah yang didalamnya terdapat berbagai pujian dan salawat kepada Rasulullah. Adapun jika di dalamnya ada makan dan minum, itu hanyalah pelengkap semata. Di tengah hiruk-pikuk tumpukan masa yang banyak, untuk menyatukan setiap perbedaan salawatlah adalah kuncinya. Menyatukan perbedaan yang bermuara pada kesatuan dan kesatuan itu dirajut agar membawa berkah bagi hidup manusia. Maulid Nabi adalah kreasi manusia bukan syariat, sedangkan salawat kepada nabi adalah syariatnya.(*)
