Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

To Be Great Leader with Power of Love

T
Penulis: Titin Ratna Rahayu❯

JIWA PEMIMPIN: Rizky Sembada M.M.M.Psi
JIWA PEMIMPIN: Rizky Sembada M.M.M.Psi

Oleh : Rizky Sembada S,E,. M.M,. M.Psi

Perkembangan era menuju 5.0 menuntut semua elemen menjadi serba canggih , cepat, dan tepat. Pemimpin-pemimpin dunia semakin berlomba-lomba untuk meningkatkan perkembangan di masing-masing negaranya. Akan tetapi, kalau kita merujuk pada Nabi Muhammad SAW menyampaikan dalam sabdanya “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin” (HR. Bukhari 6605). Oleh karena itu, kita perlu memahami bahwa keberhasilan atau kegagalan dalam memenuhi tugas sebagai khalifah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Sebagai pemimpin, tugas kita bukan hanya menjaga alam dan sumber daya, melainkan juga menjaga akhlak, keadilan, dan kesejahteraan sosial. Allah menciptakan kita dengan akal, sehingga kita dapat menggunakan kebijaksanaan dan keadilan dalam menjalankan amanah tersebut. Di luar sana masih banyak yang belum tahu bahwa memimpin sebenarnya adalah sebuah seni. Seni dalam artian, setiap orang bisa menjadi pemimpin dan mempelajari seni itu agar bisa memberikan pengaruhnya dalam suatu kelompok, institusi, yang dalam hal ini adalah lingkungan kerja yang dia pimpin. Tanpa pengaruh yang kuat, seorang pemimpin mustahil bisa menjalankan tujuan dan kepentingannya serta mendapatkan respek dari orang-orang yang dipimpin.

Sebuah istilah yang mungkin sering terdengar yakni “memimpin bukan hanya soal mengorganisir, tapi memimpin juga tentang bagaimana cara kita berhubungan dengan manusia ‘kan?“ kata-kata tersebut mungkin bisa menjadi benar adanya di beberapa kalangan. Hal tersebut mampu dijabarkan, yakni manusia itu punya sifat, watak, kehendak, sikap, serta karakter yang berbeda-beda. Jadi, kita sebagai pemimpin menggunakan cara pendekatan yang berbeda-beda pula untuk masing-masing individu. Manusia juga penuh gejolak emosi, kadang bisa semangat kadang juga bisa turun motivasinya. Semuanya tergantung dari cara kita sebagai pemimpin untuk mengerti apa yang harus dilakukan dalam situasi tersebut.

Untuk menjadi seorang pemimpin sejati, pemimpin harus bisa mencintai bawahan terlebih dahulu. Seorang pemimpin untuk dapat menggerakkan bawahannya, dia harus bisa menyentuh “perasaannya”, bukan meyakinkan pikirannya. Karena manusia itu berbeda dengan robot, manusia punya perasaan. Apabila seorang pemimpin ingin bawahan kalian bergerak, sentuhlah dulu perasaanya, belailah emosinya, pahami apa yang dia inginkan dan apa yang tidak dinginkan, berikan motivasi dan dukungan emosional yang “tulus” kepada bawahan.

Konsep cinta dan dicintai pada dasarnya kebanyakan orang mendefinisikan cinta itu adalah rasa suka kepada sesuatu dan ini sifatnya kebetulan seperti anugerah dan bersifat tiba-tiba. Lalu seperti apa yang dinamakan mencintai? Menurut Erich Fromm, seorang tokoh psikologi dan filsuf terkenal yang lahir pada tanggal 23 Maret 1900 di Frankfurt, Jerman, makna cinta itu seperti seni, maka kita harus paham apa itu cinta dan harus dipelajari serta dipraktikkan. Cinta itu tidak datang secara tiba-tiba yang sering disebut dengan istilah fall in love, tapi cinta itu adalah rasa yang harus diusahakan dan dibangun atau stand in love. Jadi, konsep cinta tentang apa yang kamu cintai, tapi bagaimana kamu mencintai. Untuk menjadi pribadi yang mencintai, maka fokuslah bagaimana kamu mencintai yang baik, bukan kepada apa yang kita cintai.

Seorang pemimpin yang bisa memainkan perannya sebagai seorang pemimpin pasti mengerti bagaimana cara mencintai bawahannya di lingkungan kerjanya, terlebih pekerjaannya. Fokusnya adalah ingin memberikan yang terbaik kepada apa yang dicintainya. Secara otomatis dalam hatinya akan muncul rencana, berusaha menjalankan rencananya untuk memberikan yang terbaik, berusaha untuk memperbaiki apa yang dicintainya, serta berani bertanggungjawab dengan akibat yang muncul dari setiap tindakannya. Dan yang paling penting bagi seorang pemimpin yang mencintai, dia akan merasa ikhlas tanpa pamrih memberikan yang terbaik kepada apa yang dicintainya. Hal ini selaras dengan prinsip-prinsip kepemimpinan yaitu:

1. Programmer (pembuat program), seorang pemimpin harus mampu membuat program;
2. Executor (menjalankan program), seorang pemipin harus mampu menjalankan program yang telah dibuatnya;
3. Developer (mengembangkan SDM), seroang pemimpin harus mampu mengatur dan mengembangkan potensi yang ada pada bawahannya;
4. Responsible (bertanggung jawab), seorang pemimpin harus berani bertanggungjawab terhadap hasil yang telah dicapai oleh bawahannya.

Sementara seorang pemimpin yang “hanya ingin” dicintai, fokusnya hanyalah kepada dirinya sendiri, bersifat egois, tidak merasa bebas dalam berbuat karena dalam bertindak dia akan memikirkan bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya, dia akan takut kehilangan simpati dari bawahannya, dan yang paling buruk dari itu semua adalah seorang pemimpin yang ingin dicintai, dia akan kehilangan rasa ikhlas dan selalu pamrih dalam berbuat sesuatu karena setiap tindakan dan kebijakannya timbul karena rasa ingin dicintai. Sebuah ungkapan yang sering di dengar yakni:

”love is expression of the one who love not of those one who is loved”
Cinta itu ekspresi dari orang yang mencintai bukan dari orang yang dicintai.
Bagi seorang pemimpin yang mencintai maka dia akan sibuk mengekspresikan cintanya kepada bawahannya tanpa berpikir apakah dia akan mendapatkan cinta dan simpati dari bawahannya. Seorang pemimpin yang mengerti arti mencintai maka akan lebih mengenal perannya sebagai seorang pemimpin sehingga tidak akan takut kehilangan jabatannya karena baginya menjadi pemimpin bukanlah sekedar soal jabatan tapi soal attitude, menjadi seorang pemimpin tidak harus menjadi seorang pimpinan. Prinsip pemimpin yang mencintai “A leader who doesn’t love is not leader” (Pemimpin yang tidak mencintai bukanlah pemimpin.).

Di dunia ini, unsur yang berharga bagi manusia yaitu diberikan rasa cinta. Cinta yang paling utama adalah cinta kepada Allah SWT. Cinta hanya diberikan oleh Allah kepada makhluk apa pun selain manusia. Seorang pemimpin yang tidak memiliki cinta, maka fokusnya hanyalah pada kepentingan serta ambisi pribadi yang semua itu akan menjadi sumber konflik di lingkungan kerja. Maka, seorang pemimpin harus mampu menumbuhkan rasa cinta. Apabila seorang pemimpin yang mencintai, akan merasakan sakit, karena harus melakukan pengorbanan-pengorbanan. Rasa sakit yang paling dalam bagi seorang pemimpin adalah mengorbankan egonya demi orang-orang yang dicintainya Ummar bin Abdul Azis berkata, “orang yang baik bukanlah orang yang setiap hari berbicara tentang kebaikan, melainkan orang yang menjalankan kebaikan.”

Menurut beliau, seorang pemimpin yang baik harus membangun karakternya terlebih dahulu untuk mampu menjalankan kebaikan-kebaikan, bukan sekedar berbicara tentang kebaikan-kebaikan, dan alasan terbaik bagi seorang pemimpin melakukan kebaikan adalah karena adanya rasa cinta.

Selain hal diatas untuk menumbuhkan cinta kepada bawahan sesuai dengan syariat islam yakni pemimpin juga harus mengutamakan, membela dan mendahulukan kepentingan umat, menegakkan keadilan, melaksanakan syariat, berjuang menghilangkan segala bentuk kemunkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah, sebagaimana firman Allah SWT.
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (QS. Al Maidah: 8).

Ini adalah petunjuk Allah yang jelas tentang bagaimana seorang pemimpin harus bertindak. Pemimpin harus menjadi pelopor kebenaran, menegakkan keadilan, dan tidak dikuasai oleh kebencian terhadap suatu kelompok. Keadilan adalah pondasi utama dalam kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hidupnya. Seorang pemimpin yang mengamalkan keadilan harus membela dan mendahulukan kepentingan umat. Tugasnya bukan hanya sekadar menjalankan amanah formal, tetapi juga berjuang untuk menghilangkan segala bentuk kemunkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah. Dengan demikian, pemimpin akan mampu menjalankan kepemimpinan yang sejalan dengan syariat Islam sehingga mampu dicintai oleh bawahannya atau umatnya.

Pemimpin yang mampu menjalankan amanahnya dengan penuh tanggungjawab, akan menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” (HR Muslim).

Dalam sabda tersebut, Rasulullah SAW menegaskan pentingnya hubungan yang baik antara pemimpin dan umatnya. Pemimpin yang mencintai dan dicintai oleh umatnya akan membangun fondasi kekuatan yang kuat dan harmonis. Keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya terukur dari pencapaian materi, tetapi juga dari keberhasilannya dalam menciptakan kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah masyarakat yang ditimbulkan dari rasa cinta dari umat kepada pemimpinya.

Oleh karena itu, pemimpin yang berkomitmen untuk mencintai dan dicintai harus senantiasa mendengarkan aspirasi dari bawahannya memberikan solusi yang adil, serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Sebaliknya, sebagai bawahan juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung dan mendoakan pemimpinnya agar senantiasa mendapat petunjuk dari Allah. Sebagai umat Islam, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat, bersatu padu dalam membangun kepemimpinan yang penuh kasih sayang, keadilan, dan berkah. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga kita semua mampu menjalankan peran sebagai khalifah dengan baik.(*)


Advertisement

 

 

 

Advertisement

 

Advertisement
Editor : Amalia Rizky Indah Permadani
Sumber : RADAR TRENGGALEK

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer