
Pasca Ramadan adalah pembuktian, apakah kita telah tergolong para ahli ibadah sejati, ataukah baru sekadar penggembira amal dadakan dan musiman saja?
Pasca Ramadan adalah pembuktian, apakah amal ibadah istimewa sebulan penuh kemaren itu hanya karena faktor bulan Ramadan sebagai musim amal ibadah, yang serta merta usai dan “bubar” seiring berlalu dan “bubar”-nya bulan teristimewa?
“Kunu rabbaniyyin, wala takunu ramadhaniyyin!” (Jadilah kalian hamba-hamba beriman yang taat sepanjang masa karena Allah semata. Dan janganlah hanya menjadi para ahli ibadah dadakan selama musim Ramadhan saja!).
Pasca Ramadan adalah pembuktian, apakah taqwa istimewa yang merupakan goal dari ibadah puasa Ramadhan telah benar-benar membuat kita menjadi lebih “kebal” terhadap segala tipu daya setan penggoda, setelah ia lepas dan bebas kembali dari rantai dan belenggunya, ataukah justru sebaliknya?
Nah, karena itu semua, maka pertanyaan penting pasca Ramadan yang harus kita ajukan kepada diri masing-masing dan sekaligus menyiapkan jawaban terbaiknya, adalah: Bagaimanakah agar kita tetap bisa istiqamah dalam mempertahankan kondisi keimanan spesial plus segala amal istimewanya dengan berlalunya bulan termulia?
Istiqamah memang berat, karena minimal ada tiga rukun utamanya, dimana masing-masingnya benar-benar tidak ringan, yakni: ilmu, amal dan ajeg (kontinu/berkelanjutan).
Sehingga seseorang yang berilmu tapi tidak diamalkan, belum istiqamah.
Dan yang beramal tanpa ilmu, juga tidak istiqamah.
Demikian pula yang tidak ajeg dalam mengamalkan ilmu, sama saja, juga berarti belum atau tidak istiqamah.
Jadi, istiqamah adalah beramal dengan ilmu yang benar dan baik, secara kontinu dan berkesinambungan.(***)



