Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puasa, Ekonomi Barokah dan Efisiensi

W
Penulis: Wawan Susetya❯

Wawan Susetya, Penulis dan Budayawan Tulungagung
Wawan Susetya, Penulis dan Budayawan Tulungagung


Advertisement

MOMENTUM bulan suci Ramadhan 1446 H yang bersamaan dengan program efisiensi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto nampaknya sangat tepat dijadikan suatu perenungan hidup.

Bagaimana pun Pak Prabowo sangat cemas dan prihatin memikirkan kebocoran APBN tiap tahunnya hingga ratusan trilyun rupiah sebagaimana yang sering disampaikan dalam berbagai kesempatan.

Setidaknya kebocoran itu sampai mencapai Rp 200-300 trilyun yang berarti korupsi.

Advertisement

Memang, sekarang ini korupsi makin menggila yang nilainya gede-gede. Kalau dulu hanya hitungan milyaran, tapi sekarang sudah trilyunan.

Dan, yang terbaru korupsi di Pertamina hingga ratusan trilyun. Pendek kata sekarang ini Kejagung dan KPK panen menangani masalah korupsi merampok uang negara.

Praktik korupsi yang sangat marak di negara kita jelas mengisyaratkan adanya sesuatu yang tidak beres para pejabat negara, terutama menyangkut beberapa hal, yakni;

Advertisement

Pertama, mengisyaratkan adanya penyakit hati berupa tamak alias rakus bagi pejabat atau penyelenggara negara sehingga ingin menumpuk harta sebanyak-banyaknya meski ditempuh dengan cara culas dan kotor.

Kedua, mereka para pejabat tersebut terang-terangan mencuri—yang berarti maling—uang negara atau uang rakyat.

Ketiga, praktik korupsi tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa mereka para pejabat itu tidak amanah dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan yang berarti tidak layak mendapat kepercayaan rakyat.

Keempat, mereka para pejabat yang korup itu bertolak belakang 180 derajat dengan program efisiensi Presiden Prabowo Subianto.

Kelima, mengisyaratkan dengan jelas bahwa praktik korupsi yang sangat mewabah di negara kita itu menunjukkan betapa jauhnya keadaan di negara kita dengan kebarokahan atau perekomian yang membawa berkah.

Bagaimana pun, tentu kita sebagai bangsa dan negara membutuhkan suatu keadaan yang penuh rahmat (kebaikan) seperti diisyaratkan pada 10 hari pertama di bulan Ramadhan.

Selanjutnya pada 10 hari kedua penuh dengan barokah (tetapnya kebaikan) dan 10 hari ketiga di bulan Ramadhan terbebas dari siksa api neraka.

Setidaknya itulah yang diisyaratkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengenai keadaan di bulan Ramadhan.

Belajar Ekonomi Barokah
Jika kita ingin belajar tentang konsep ekonomi barokah, marilah kita belajar kepada Nabi Yusuf As.

Seringkali, ketika nama Yusuf as disebut maka kebanyakan orang terlintas pada kisah pemuda tampan (putra Nabi Ya’kub) itu yang digoda dan dirayu oleh Siti Zulaikha—isteri pembesar Mesir—hingga bajunya sobek terkoyak bagian belakang.

Itu memang benar; yakni ketika membahas tentang topik sabar. Kesabaran yang dilakukan Yusuf as ketika itu adalah sabar—berpuasa atau menahan diri—menolak maksiat.

Kecemerlangan Yusuf bukan di bidang kesabaran saja, tetapi juga dikaruniai Allah berupa ilmu keuangan, akuntansi, administrasi secara detail dan rapi yang produk kerjanya mengamankan dan menyejahterakan secara sosial dilandasi dengan kejujuran dan keimanan.

Kepada Sang Raja Mesir, Nabi Yusuf dengan percaya diri mengatakan: “Jadikanlah aku Bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS Yusuf : 55).

Tak ayal jika Raja Mesir kemudian menjadikan Yusuf sebagai orang yang dekat (dengan raja) dan mengangkatnya sebagai Bendaharawan Negeri Mesir. Raja pun juga memberikan gelar kehormatan kepada Nabi Yusuf, yakni gelar Almakinuun Amien; artinya orang yang berkedudukan tinggi, ahli atau pakar yang profesional lagi terpercaya (QS 12 : 54).

Kecerdasan otak Yusuf tadi, sebenarnya, berawal dari sebuah mimpi; mimpi Raja Negeri Mesir yang seolah-olah melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus.

Begitu pula terlihat ada tujuh batang pohon gandum yang hijau dan tujuh pohon gandum yang kering.

Karena ada pejabat kerajaan Mesir yang mengetahui bahwa Yusuf ahli dalam menakwilkan mimpi, maka berita itu sampai pada raja yang kebetulan baru saja mimpi yang aneh seperti di atas.

Yusuf pun dihadapkan raja dan diminta untuk menakwilkan mimpi tadi.

Sebagaimana disebutkan dalam Surah Yusuf ayat 47-49, maka Nabi Yusuf menangani paceklik di Mesir dengan program penanaman gandum selama 7 tahun.

Dan hasilnya untuk makan rakyat Mesir dengan diikuti menyimpan bahan makan (gandum) itu seperti program efisiensi yang dicanangkan Presiden Prabowo saat ini.

Mengapa melaksanakan program efisiensi? Sebab, 7 tahun selepas itu Mesir akan menghadapi masa sulit, bahkan akan menghabiskan bahan makan yang telah disimpannya.

Tapi setelah musim paceklik 7 tahun terlewati, setelah itu musim hujan datang kembali yang berarti kemakmuran bagi rakyat Mesir.

Semenjak itu, Yusuf As dipercaya oleh Raja Mesir untuk merancang, menyusun dan menerapkan strategi khusus untuk mendistribusikan gandum kepada rakyat Mesir saat krisis (paceklik): kekurangan pangan selama tujuh tahun. Sedangkan, manajemen Yusuf bersumber dari wacana tentang barokah dan maslahah.

Mimpi Raja Mesir tadi ternyata benar, yakni sesuai apa yang telah ditakwilkan Nabi Yusuf.

Ketika tujuh tahun masa bercocok tanah terlewati, giliran berikutnya adalah musim krisis yang berlangsung juga selama tujuh tahun.

Pada saat itulah, Yusuf As benar-benar menjadi tokoh sentral dalam merancang, menyusun dan menerapkan strategi khusus untuk mendistribusikan bahan makanan kepada rakyat Mesir secara keseluruhan.

Di situlah letak kepakaran atau keahlian Yusuf As dalam catat mencatat (pembukuan) yang akhirnya mendapat gelar: Almakinuun Amien.

Pada saat musim paceklik di Negeri Mesir selama tujuh tahun tadi, ternyata juga dialami oleh Nabi Ya’kub beserta putra-putranya yang tinggal di daerah Palestina.

Nabi Ya’kub pun juga memerintahkan kepada anak-anaknya agar mencari bahan makanan ke negeri Mesir yang khabarnya tersedia bahan makanan yang cukup dan didistribusikan secara adil.

Dalam hal ini, Nabi Ya’kub memerintahkan kepada anak-anaknya supaya berpencar atau tidak bersama-sama memasuki satu pintu gerbang Negeri Mesir, tetapi masuk dari pintu-pintu gerbang yang berlainan.

Apa yang disampaikan Nabi Ya’kub kepada anak-anaknya agar tidak melewati satu pintu gerbang, tetapi masuk dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain tersebut.

Ada seorang ulama yang menafsirkan secara perekonomian atau cara mengais rizki Allah dengan berbagai macam jalan.

Bukan satu jalan semata. Sebab, dengan banyak jalan yang ditempuh, maka selain mendapatkan hasil yang berlipat atau jumlah yang lebih banyak, diharapkan kebarokahannya pun juga makin besar pula.

Ekonomi barokah itu suatu konsep perekonomian di mana Allah terlibat secara aktif-partisipatoris.

Allah berfungsi langsung sejak awal, dan bukan hanya ‘duduk’ pasif menunggu hamba-hamba-Nya berdoa.

Jadi gambar ekonomi barokah tidak datar, linier, melainkan ada garis vertikalnya, terdapat dialektika horisontal-vertikal, sehingga bermekanisme siklikal.

Atau, sederhananya bahwa ekonomi barokah itu merupakan perubahan dari Materi ke Energi menuju Cahaya.

Apa saja yang berbentuk materi (misalnya, uang, tenaga, pikiran, tanah, dan sebagainya) hendaknya digerakkan (dienergikan) agar menjadi cahaya (maslahat dan barokah).

 

Advertisement
Editor : Dharaka R. Perdana

Artikel Terkait

Dari Efisiensi 2025 ke Efisiensi 2026: Sinyal Apa yang Pasar Beri?

Dari Efisiensi 2025 ke Efisiensi 2026: Sinyal Apa yang Pasar Beri?

Ketika belanja besar didahulukan sementara penerimaan belum dikuatkan, yang tersisa hanyalah memangkas berulang kali pos-pos yang sama.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer