Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perjalanan Maybe No Maybe yes

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Joko Ibrahim


Advertisement

Bulan mei penuh kejutan, yang awalnya may-be not may-be yes tentang banyak hal, akhirnya terjadi sesuai prediksi dan rencana, sisanya on the way.

Hingga akhir mei 2025, setidak tidaknya bisa menambah 100 karyawan berkat keikusertaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kini memasuki bulan Juni, separo tahun ini terlampaui, moment bagus untuk menantang hal baru yang lebih “membahayakan” sebagai petualangan petualangan mental dan pikiran, agar berkehidupan lebih bermakna dalam.

Advertisement

Hari ini, saya menyampikan terima kasih untuk @armi Radar Tulungagung yang sore ini menjadi teman diskusi via WhatsApp mengenai pemikiran dan tulisan yang selayaknya menjadi pengkayaan pengetahuan yang bisa dibagi.

Atas motivasinya, saya telah siap menjadi relawan kontibutor medianya.

Tak hanya itu, kepada Mas Gempur dan Mas Desti yang tak henti support dengan tulus, rela menerimai komentar nyeleneh dari saya dalam berbagai isu isu pembangunan atau kriminal lokal, sejauh ini kalian berdua berhasil meracuni virus penulisan, baiklah sampai bertemu di dunia kuasa kata ya kawan.

Advertisement

Malam ini, saya belum menulis, karena sedang memaknai perjalanan yang tidak lebih 20 km, dari Rejotangan ke Sumbergempol untuk beberapa aktivitas sederhana, mengunjungi nenek dan menghadiri pernikahan kawan.

Tak seperti biasanya, kalau di hari minggu menempuh perjalanan sejauh 38 km, dari Ngunut ke Kediri, untuk melakukan kontrol pekerjaan di sektor wisata.

Makna perjalanan singkat ini adalah perburuan, memburu beraneka fenomena sosial yang kemudian ditangkap, disimpan untuk dimengerti.

Meskipun nyatanya untuk mengerti makna perburuan juga memerlukan sejumlah perangkat gagasan agar pengertian perburuan sesungguhnya dapat dipahami dengan baik dan benar. 

Dari sekian perburuan fenomena, saya mengecualikan tanpa ampun tentang gelaja atau perkara perkara tentang individu-individu atau kelompok kelompok yang berusaha merebut kekuasaan dengan cara apakah yang benar benar demokrat tidak relevan untuk dibicarakan.

Bagi saya, kekuasaan yang layak untuk di diperjuangkan adalah kuasa diri mengatasi kebutuhan ekonomi.

Sepanjang berhubungan dengan ekonomi, maka mari rebutan, kalau hanya sekedar jabatan sosial, atau status tertentu, buat apa, untuk apa? Apakah saya memudar nasionalisme, bela negara, berbakti mengabdi?

Oh tidak, justru di sinilah saya merasai kepenuhan sebagai manusia yang konsisten pada prinsip utama dari pemikiran materialisme nasionalisme, berjuang dalam konteks sesuai momen.

Setiap orang yang dewasa tidak akan terlalu sulit untuk merasakan bahwa keadaaan sekarang, dalam segala hal, adalah lebih sulit dan berat dihadapi dari keadaan tahun sebelumnya, saya memilih landasan berpikir ala “Dokein”, berpikir dengan cara lain atau “heterodoxa” berpikir secara baru.

Sesingkat cerita, seserhana kata, pada akhirnya perjalanan adalah berburu makna. Untuk mengisi kehidupan yang asyik ini, meresponi fenomena sosial dengan doktrin nasionalisme, atau tekanan dogma pengabdian tidak relevan.

Benar kata bijak, materi yang akan mengubah kita, ekonomi yang mengubah kita. Jadilah homo economicus, untuk dokein yang seluruhnya. (*)

Advertisement
Editor : Didin Cahya Firmansyah
Sumber : DIOLAH

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer