
Tanggal 19 Februari 2026, Presiden Prabowo dan Presiden Trump menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington D.C. Dunia bisnis menyambutnya dengan optimisme.
Media ramai memberitakan kemenangan diplomatik. Tarif yang tadinya 32 persen berhasil ditekan menjadi 19 persen.
Namun di kandang-kandang ternak pedesaan Jawa Timur, termasuk di wilayah Kabupaten Ponorogo, muncul pertanyaan yang jauh lebih sederhana dan mendasar. Apa artinya ini buat kita?
Yang Bisa Jadi Peluang
Jagung dan dedak kedelai. Dua kata yang menjadi keluhan petani selama bertahun-tahun. Melonjak saat panen buruk, tidak turun saat panen baik.
Yang dirasakan semua peternak domba di Sampung, peternak ayam di Sawoo, peternak sapi di Pudak, pembayaran pakan makin tinggi dengan margin kian kecil yang itu tidak menguntungkan.
ART memungkinkan sekitar 1,4 juta ton impor jagung dari Amerika Serikat (AS) setiap tahun untuk sektor pakan dan makanan. Kedelai dan bungkil kedelai juga mengikuti dengan jumlah signifikan.
Asumsinya akan menurunkan harga bahan pakan, distribusi seimbang, dan petani kecil akan dapat sedikit bersantai.
Itu kalau genetika ternak juga terbuka. Jika benih yang lebih baik dan lebih murah benar-benar dapat diakses oleh petani kecil. Mulai ayam keturunan kakek nenek (GPS) dari AS, termasuk domba, sapi, kambing, dll.
Yang Perlu Kita Waspadai
Ada yang tidak beres dalam perjanjian ini dan kita perlu jujur menyebutnya.
Indonesia telah menurunkan tarif menjadi 0% untuk 99% barang AS. Sedangkan AS menurunkan tarif menjadi 19% untuk barang Indonesia. Gerbang mereka terbuka. Gerbang kita hampir tertutup. Kita tidak mendapat apa-apa.



