
PONPES Al-Falah Ploso, Kediri menjadi perhelatan akbar Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026. Menyebut nama ponpes ini, ingatan saya langsung tertuju pada sosok KH Nurul Huda Djazuli. Beliau adalah pimpinan Ponpes Al-Falah Ploso, Kediri.
Saat menjalankan ibadah Haji Tahun 2017, saya sekitar tujuh hari tidur sekamar dengan Kiai Nurul Huda--panggilan KH Nurul Huda Djazuli. Tepatnya saat menginap di hotel transit di Mina, sebelum melakukan ibadah Wukuf di Arofah. Menjelang Wukuf, kebanyakan jemaah haji memang tinggal di Mina, lokasinya dekat dengan Arofah.
Subhanallah. Bisa tidur sekamar dengan Kiai Nurul Huda ibaratnya saya mendapatkan "berkah". Selama tujuh hari itu saya bisa menjadi makmum shalat lima waktu dengan imam Kiai Nurul Huda. Menjadi makmum kiai sepuh di kalangan NU ini terasa "sesuatu banget". Khusuk, senang, dan bangga. Alhamdulillah.
Apalagi, saya seperti santrinya, bisa ikut "melayani" Kiai Nurul Huda. Menyiapkan hidangan makan dan mengambilkan air mineral ketika beliau minum obat. Saat itu kesehatan Kiai Huda memang tidak sehat, mungkin akibat kecapaian setelah melakukan penerbangan jauh dan menjalankan Tawaf Qudum. Suhu udara Saudi saat itu pun sangat panas, mencapai 47 derajat celsius lebih.
Sekamar dengan Kiai Nurul Huda, kakak kandung Gus Miek (KH Hamim Tohari Djazuli penggagas "Dzikrul Ghofilin" dan dikenal "Kiai Khos") itu, terbilang tak disangka-sangka seperti 'keceblokan duren". Rejeki nomplok. Saat itu, Kiai Nurul Huda yang berangkat haji dengan santrinya tidak mendapat hotel transit di Mina.
Hotel yang dipesan sudah ditempati jemaah lain. Broker hotel di Saudi rata-rata memang begitu kelakuannya. Ada yang berani harga tinggi, pemesan awal dibatalkan secara sepihak. Ingkar janji. Demi "fulus", mereka tak peduli orang lain "mamfus". Sangat merugikan.
Saat tak mendapat hotel transit itu, teman saya (Ebo) yang pernah jadi santrinya segera mengetahui kejadian itu. Lalu, dengan cepat ia meminta tempat tidur saya untuk dipakai Kiai Nurul Huda. Melihat Kiai Huda yang sepuh dan tak sehat akibat kecapekan itu, saya pun merelakannya, tempat tidur saya dipakai oleh Kiai Nurul Huda.
Saya dan teman rela tidur di lantai, persis di bawah Kiai Nurul Huda beristirahat. "Cak, nggak apa-apa ya jenengan tidur di lantai. Anggap saja kita ini sekarang mencari barokah dari kiai sepuh," kata teman merayu saya.
Saya mengangguk menyetujui. "Saya senang mas, bisa melakukan ini di Tanah Suci. Apalagi sedang dalam rangkaian ibadah haji," jawab saya yang bersamaan itu dalam ceruk hati berbisik, "Haji itu hakikatnya berkurban. Saat ini dirimu rela tidak tidur di kasur empuk, demi kiai sepuh yang kecapekan. Inilah bentuk ibadahmu haji."
Selama tujuh hari itu, saya juga rela sering tidak tidur hingga larut malam. Maklum, hampir setiap malam Kiai Nurul Huda dikunjungi oleh para alumni santrinya, yang umumnya sudah menjadi pemimpin pondok, pengusaha, dan pejabat negara. Ketika Kiai Huda memberi "wejangan" dan "doa" kepada para alumni santrinya itu saya juga ikut merasainya. Alhamdulillah.
