Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Utang Aman di Kertas, Cemas di Rakyat?

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Rokhmat Subagiyo (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam serta Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Rokhmat Subagiyo (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam serta Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Advertisement

 

Beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, publik kembali dikejutkan oleh angka yang tidak kecil: utang pemerintah per akhir Juni 2026 tercatat menembus Rp10.293,69 triliun, atau setara 41,26 persen terhadap Produk Domestik Bruto.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tenang menegaskan bahwa rasio tersebut masih jauh di bawah batas aman yang ditetapkan Undang-Undang Keuangan Negara, yakni 60 persen PDB.

Advertisement

Dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Juli 2026, ia bahkan melaporkan defisit APBN semester I-2026 terkendali di angka 0,76 persen PDB, disertai surplus keseimbangan primer sebesar Rp85,1 triliun-pertanda penerimaan negara masih sanggup menutup belanja di luar kewajiban bunga.

Argumen yang Masuk Akal dari Jakarta

Klaim itu tidak mengada-ada. Secara teknokratis, argumen pemerintah masuk akal. Utang memang instrumen wajar dalam pengelolaan negara modern, apalagi di tengah tekanan global yang belum juga mereda.

Advertisement

Pemerintah pun berdalih bahwa kebijakan utang dijalankan secara kontrasiklus: ditambah saat ekonomi butuh stimulus, dikurangi saat ekonomi sedang kencang. Bank Indonesia turut menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas, sehingga secara makro, fondasi keuangan negara masih dapat dikatakan terkendali.

Namun, seperti halnya banyak kebijakan fiskal yang dirancang dari balik meja dengan pendekatan teknokratis, angka-angka di atas kertas seringkali belum menjawab kegelisahan yang dirasakan warga biasa.

Media asing bahkan ikut menyoroti kondisi ini, sampai memakai istilah tajam seperti potensi krisis dan pertanyaan soal kesehatan fiskal Indonesia. Di sinilah kebijakan yang diniatkan menjaga stabilitas justru berisiko menimbulkan kecemasan baru di tengah masyarakat.

Ketika Angka Makro Bertemu Dapur Rakyat

Advertisement

Artikel Terkait

Plt Bupati Tulungagung Buka Rumah Terapi ABAKU, Gratis bagi Anak Keluarga Kurang Mampu

Plt Bupati Tulungagung Buka Rumah Terapi ABAKU, Gratis bagi Anak Keluarga Kurang Mampu

Peluncuran Rumah Terapi Anak Berdaya, Aktif, Kreatif, dan Unggul (ABAKU), yang diresmikan langsung oleh Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, Kamis (13/8).

Penutupan JPL 225 Desa Gilang Tulungagung Batal, PT KAI Sepakat Tak Pasang Portal dan Tak Persempit Jalan

Penutupan JPL 225 Desa Gilang Tulungagung Batal, PT KAI Sepakat Tak Pasang Portal dan Tak Persempit Jalan

Penutupan perlintasan sebidang kereta api JPL 225 KM 142+446 di Desa Gilang, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, akhirnya batal.

Heru Tjahjono Dorong Pekerja Tulungagung Perkuat Perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Heru Tjahjono Dorong Pekerja Tulungagung Perkuat Perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan yang diinisiasi Anggota Komisi IX DPR RI Heru Tjahjono di Aula Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Rabu (12/8).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer