Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merdeka Menjadi Ibu, Merdeka Menjadi Manusia

T
Penulis: Tim Redaksi❯
Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, MAg.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, MAg.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Advertisement

 

Dari rahim ibu, kita belajar menjadi manusia

Oleh: Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, M.Ag.

Advertisement

Setiap kali Agustus tiba, ada satu kata yang selalu terasa mahal harganya: kemerdekaan — yang dulu ditebus dengan darah dan air mata. Tapi jarang kita bertanya: sudahkah kemerdekaan itu sungguh-sungguh sampai ke ruang paling kecil dalam hidup kita? Rumah, misalnya.

Pertanyaan ini jadi menarik begitu kita bicara soal ibu. Mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik, menyiapkan makanan, mendampingi anak — semua dijalani sembari tetap dituntut mengikuti zaman yang bergerak cepat.

Kita gemar memuji pengorbanannya, tapi kadang lupa: di balik semua peran itu ada manusia biasa, yang bisa lelah, yang ingin belajar, yang juga punya cita-cita sendiri. Memuliakan ibu, saya kira, bukan berarti menjadikannya korban yang harus terus-menerus berkorban. 

Advertisement

Tiga Kali: Ibumu

Al-Qur’an tidak pernah menggambarkan perjalanan menjadi ibu sebagai sesuatu yang ringan. “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,” begitu Allah mengingatkan (QS. Luqman: 14) — dan di ayat lain, ibu disebut mengandung serta melahirkan dengan susah payah (QS. Al-Ahqaf: 15).

Bukan cuma perintah umum untuk berbuat baik pada orang tua yang bisa kita temukan di sini — Al-Qur’an rupanya menyoroti sesuatu yang lebih spesifik: beban fisik yang harus ditanggung seorang ibu. Ada satu riwayat menarik soal ini. Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, siapa yang paling berhak mendapat perlakuan baik darinya.

Jawaban Nabi tidak biasa — diulang tiga kali sebelum akhirnya menyebut sosok lain: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim). Ada perjalanan panjang yang tidak selalu kelihatan di balik pengulangan itu.

Advertisement
Editor : Vidya Sajar Fitri

Artikel Terkait

Plt Bupati Ahmad Baharudin Kukuhkan 77 Paskibraka Tulungagung, Siap Emban Tugas Sakral HUT Ke-81 RI

Plt Bupati Ahmad Baharudin Kukuhkan 77 Paskibraka Tulungagung, Siap Emban Tugas Sakral HUT Ke-81 RI

Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin secara resmi mengukuhkan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Tulungagung Tahun 2026 di halaman Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso, Sabtu (15/8).

Kemarau Makin Kering, BPBD Tulungagung Genjot Dropping Air ke 4 Desa yang Mulai Krisis Air Bersih

Kemarau Makin Kering, BPBD Tulungagung Genjot Dropping Air ke 4 Desa yang Mulai Krisis Air Bersih

Sumber air warga yang mulai mengering membuat BPBD Tulungagung meningkatkan distribusi air bersih ke wilayah terdampak.

Tak Jadi Ditutup, Perlintasan JPL 225 Gilang Ngunut Tulungagung Tetap Dibuka dengan Syarat Penjagaan 24 Jam

Tak Jadi Ditutup, Perlintasan JPL 225 Gilang Ngunut Tulungagung Tetap Dibuka dengan Syarat Penjagaan 24 Jam

Kepentingan warga untuk mempertahankan akses tetap terakomodasi, sementara upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dapat diperkuat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer