PERINGATAN hari lahir ibu RA Kartini yang dirayakan tanggal 21 April 2924 ini bertepatan dengan momentum pasca Hari Raya Idulfitri 1445 H yang masih di bulan Syawal. Hari raya Iedul Fitri atau Lebaran 1445 H dilaksanakan pada Rabu tanggal 10 April, lalu dilanjutkan Lebaran Kupatan pada Rabu tanggal 17 April dan seterusnya.
Meski kebanyakan kaum muslim mungkin tidak atau belum melaksanakan puasa Sunnah Syawal selama 6 hari, tetap mereka memiliki semangat merayakan Lebaran Kupatan tersebut dengan gegap gempita dengan tujuan saking memaafkan satu sama lain.
Tradisi Lebaran Kupatan awalnya dilaksanakan di Desa Kamulan, Kec. Durenan, Trenggalek sekitar puluhan tahun lalu. Setelah itu diikuti beberapa desa di Kec. Boyolangu sekitar 10 tahun lalu hingga sekarang.
Yang terbaru dilaksanakan hari Rabu tanggal 17 April lalu. Bahkan, Dusun Glotan Desa Tanggung, Kec. Campurdarat pun baru melaksanakan tadi malam atau Sabtu (malam Minggu, 20 April) yang dihadiri Kades Tanggung Suyahman, Gus Anang Muhsin dari Ponpes Al Fattahiyah Ngranti serta dr. Kasil Rokhmad (Kepala Dinkes dan Kepala RSUD dr. Iskak Tulungagung) yang akrab dipanggil Kang Kasil.
Sementara peringatan hari Ibu RA Kartini juga dirayakan di sekolah-sekolah pada hari Senin tanggal 22 April dengan ditandai para siswa mengenakan pakaian adat khas Jawa.
Selain itu organisasi perempuan Puspa BARANUSA (Barisan Adat Raja Sultan Nusantara) Tulungagung juga mengadakan peringatan hari lahir Ibu RA Kartini pada hari Minggu sore tanggal 21 April di Lotu's Garden Ketanon, Kedungwaru, Tulungagung.
Sumur Dapur Pupur Kasur
Pada peringatan hari Ibu RA Kartini tahun ini, barangkali kita bisa memetik nilai hikmahnya bahwa para perempuan itu tidak hanya diposisikan dengan peran sebagai wanita domestik, tetapi ia juga memiliki peran sebagai wanita karir.
Menjadi perempuan tidak harus berkutat di wilayah klasik, yaitu sumur, dapur, kasur dan pupur saja. Para peerempuan sekarang bukan zamannya hanya mengurusi cucian baju di dekat sumur, memasak di dapur, berkutat di tempat tidur dan menghias diri dengan pupuran saja, tetapi juga memiliki peran mengabdikan diri sesuai dengan bidang yang dipelajarinya, ada yang bekerja di instansi pemerintahan, hakim, pengusaha, guru dan sebagainya.
Dalam konteks ini tentu harus bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang kebablasan. Hendaknya para perempuan bekerja secara normatif di masyarakat dengan tetap menjaga budaya ketimuran. Jangan mengatasnamakan emansipasi wanita dengan bekerja melampaui kodrat sebagai perempuan, seperti menjadi tukang kuli bangunan, pemain tinju, debt collector, dan sebagainya.
Terlebih dalam khasanah budaya Jawa, perempuan yang berasal dari kata "empu" artinya ada yang memiliki (memimpin) dan ditambah awalan per serta akhiran an. Dalam hal ini, betapapun hebatnya seorang perempuan, mohon harap diingat bahwa ia harus tunduk terhadap kepemimpinan sang suami.
Sebab bagaimana pun perempuan itu ada yang memiliki, yaitu suaminya. Selain itu, dalam kiratha basa Jawa, wanita itu juga dapat diartikan "wani ditata" yaitu oleh suaminya sendiri. Sebaliknya, seorang suami juga harus menghormati, menghargai dan memperlakukan istrinya (perempuan) dengan baik. Tidak boleh merasa jumawa serta bersikap adigang-adigung-adiguna. Ingatlah bahwa kehormatan atau kesuksesan seorang laki-laki (suami) karena ada perempuan (istri) di sampingnya, begitu juga sebaliknya.
Filosofi Kupatan
Maraknya perayaan Lebaran Kupatan di Tulungagung terutama di daerah Boyolangu dan sekitarnya mudah-mudahan bukan karena euforia saja, tetapi juga menjiwai makna filosofinya. Lebaran Kupatan, sesuai dengan namanya diambil dari kata kupat atau ketupat yang bentuknya segi empat dan dibuat dari janur kelapa. Para leluhur orang Jawa dulu memaknai ketupat atau kupat itu dengan mengaku lepat, sehingga kaum muslimin saling mohon maaf lahir batin satu sama lain. Semua itu dimaksudkan untuk menggapai tujuan Nurullah, diambil dari bahan janur (sejane Nur Allah).
Demikianlah perspektif Jawanisasi Islam yang dikemas melalui tradisi (kultur budaya) orang Jawa dengan penonjolan simbol dari unsur alam, seperti kupat (ketupat), janur, beras dan sebagainya.
Sementara segi empat bentuk ketupat juga memiliki makna simbolik, yakni;
1. Lebaran atau setelah menunaikan ibadah puasa
2. Laburan yaitu melabur atau mengecat dinding rumah dengan warna putih (kesucian) atau warna lain yang indah dan rapi.
3. Leburan yaitu saling melebur dosa atau bermaaf-maafan
4. Luberan yaitu memberikan sebagian rizkinya kepada sanak-saudaranya dan faqir miskin.
Sosialisasi PSN
Kepala Dinkes dan Kepala RSUD Umum Tulungagung, dr. Kasil Rokhmad dalam kesempatan Lebaran Kupatan di Glotan Desa Tanggung menyapa warga Glotan dengan mengatakan, "Saya dulu sewaktu masih kecil sering bermain ke sini (Glotan). Tapi dulu saya sering dipanggil Mad begitu oleh teman-teman di sini. Memang nama lengkap saya Kasil Rokhmad, tapi sekarang lebih sering dipanggil Kasil."
Maklum dr. Kasil alias Kang Kasil kelahiran Desa Ngranti, Kec. Boyolangu yang letaknya hanya sekitar 1 km sebelah utara Dusun Glotan, Desa Tanggung.
Pada kesempatan itu Kang Kasil menyosialisasikan tentang pentingnya PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) Demam Berdarah (DB), yakni dengan cara 3 M yaitu Menguras, Mengubur dan Menutup. Dalam hal ini menguras bak mandi, mengubur botol atau barang bekas yang masih menyimpan air dan menutup benda-benda yang dapat digenangi air.
"Ketika sedang menyapu halaman lalu menemukan benda atau barang bekas yang masih ada airnya segera ditengkurapkan atau menimbunnya. Itulah cara PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) Demam Berdarah karena sekarang ini sedang banyak pasien sakit DB," ujar dr. Kasil menyosialisasikan program PSN.
Pada waktu ini warga Glotan Desa Tanggung memang cukup banyak yang dirawat di RSUD Umum Tulungagung maupun RSUD Campurdarat karena sakit DB. Demikian halnya dengan warga Ngranti. Makanya kemarin di Ngranti dilaksanakan fogging atau pengasapan untuk mengusir nyamuk DB.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra