Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu (Renungan Hari Ibu)

Wawan Susetya • Selasa, 23 Desember 2025 | 02:39 WIB

Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung
Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung

PADA suatu hari ada seorang laki-laki yang menghadap Rasulullah SAW lalu bertanya siapa yang harus dihormati atau diperlakukan secara baik, lantas dijawab oleh Nabi Muhammad, “Ibumu.”

Setelah itu laki-laki tadi bertanya lagi, setelah itu siapa? Dijawab pula oleh Rasulullah “Ibumu.” Kurang puas terhadap jawaban itu si pemuda bertanya lagi, namun dijawab “Ibumu” pula oleh Nabi Saw.

Ketika laki-laki tadi melanjutkan pertanyaannya, maka dijawab oleh Rasulullah Saw “Bapakmu.”

Dengan demikian jawaban Nabi Saw “Ibumu” sampai tiga kali, kemudian setelah itu “Bapakmu”.

Makna hadits Rasulullah Saw tersebut jelas mengisyaratkan bahwa kemuliaan seorang ibu harus dijunjung lebih tinggi oleh anaknya, bahkan tiga kali lebih besar daripada penghormatan kepada bapaknya.

Atau katakanlah penghormatan si anak kepada ibu 3 : 1 (tiga banding satu) lebih besar daripada penghormatan kepada bapak.

Mengapa penghormatan dan memuliakan kepada ibu lebih besar dan lebih tinggi daripada bapak? Sebab ibulah yang paling menyayangi, mengasihi dan memperhatikan kepada putra-putrinya dibanding bapaknya.

Barangkali kita masih teringat dengan lagu Kasih Ibu yang mengekspresikan betapa besarnya kasih-sayang ibu kepada anak-anaknya; Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw juga menyampaikan ekspresi sebagai bentuk penghormatan kepada ibu dengan sabdanya dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shagir: “Al jannatu tahta aqdamil ummahat” (artinya; surga di bawah telapak kaki ibu).

Menurut budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), makna sabda Nabi Saw ‘surga di bawah telapak kaki ibu’ tersebut hendaknya dipahami secara seimbang, yakni dilihat dari sisi anak maupun ibu, bukan hanya satu pihak saja.

Pertama, bagi si anak, hadits Nabi Saw tersebut hendaknya dimaksudkan untuk kepentingan ibunya.

Kedua, bagi si ibu, hadits Nabi Saw tersebut dimaksudkan  untuk kepentingan anaknya.

Dengan demikian hadits Nabi ‘surga di bawah telapak kaki ibu’ dapat dipahami secara seimbang dan proporsional antara dua pihak, si anak maupu ibu.  

Bagi si anak hendaknya ada suatu kesadaran bahwa betapa susah-payahnya sang ibu ketika mengandung selama 9 bulan 10 hari dan melahirkan anaknya kemudian menyusuinya selama dua tahun.

Sehingga ungkapan ‘surga di bawah telapak kaki ibu’ mencerminkan keharusan atau kewajiban si anak untuk berbakti kepada ibundanya.

Sebaliknya bagi si ibu, ungkapan sabda Nabi Saw ‘surga di bawah telapak kaki ibu’ akan menjadikan semangat dari si ibu untuk mendoakan, merawat, menjaga dan membesarkannya serta mendidik dengan baik dan islami.

Sehingga kelak menjadi orang-orang yang sholeh/sholihah dan bermanfaat bagi bangsa dan negaranya.

Bahkan, ketika seorang pemuda datang menemui Rasulullah Saw yang hendak bergabung dalam perang jihad (melawan orang kafir), tetapi ibunya yang sudah tua tidak ada yang menjaganya di rumah, maka Rasulullah Saw bersabda: “Tinggallah bersama ibumu, sebab surga berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR Ahmad dan Nasa-i).

Hal itu mengisyaratkan bahwa menjaga, merawat, menyantuni dan berbhakti kepada seorang ibu (orang tuanya) identik dengan perang jihad, yang sama-sama berpeluang meraih surga Allah tanpa hisab.

Bukankah kaum muslimin yang bergabung dalam barisan perang jihad, lalu jika mereka gugur di medan laga menjadi syuhada—kemudian dijamin masuk surga tanpa hisab?!

Sebaliknya, jika seorang anak durhaka kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibunya, ia akan berdosa besar.

Hal itu sesuai urutan tiga dosa besar, yakni pertama, menyekutukan Allah Swt; kedua, durhaka kepada kedua orang tua; dan ketiga, sumpah palsu.

Jadi dengan demikian, jika si anak durhaka atau tidak berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama kepada sang ibu maka ia celaka, seperti dijelaskan Rasulullah Saw.

Hal ini, tentu merupakan “ancaman” serius yang dialamatkan kepada seorang anak yang berani melawan dan membangkang kepada kedua orang tuanya. 

Sebaliknya, jika seseorang dengan tulus-ikhlas berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibundanya maka ibaratnya ia menapakai ‘jalan tol’ menuju surga-Nya.

Ajaran Islam sungguh sangat mulia; yakni si anak diwajibkan berbakti kepada kedua orang tuanya terutama kepada sang ibu secara tulus.

Sebaliknya kedua orang tua pun berkewajiban merawat, mendidik, dan membesarkan anaknya dengan perjuangan yang extra ordinary.

Perjuangan kedua orang tua untuk mencukupi kebutuhan kehidupan keluarganya (terutama untuk anak-anaknya), bahkan seringkali diungkapkan dengan ungkapan yang sungguh menggelitik, ibaratnya, “kepala dijadikan kaki, kaki dijadikan kepala”.  

Seringkali pula, perjuangan itu diwarnai dengan tetesan peluh keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya dan tetesan perih air mata mereka.

Dengan demikian, wajar kiranya jika Nabi Saw menyatakan dengan ungkapan yang menyentuh kalbu si anak, yakni ‘surga di bawah telapak kaki ibu’.

Agar mereka (anak-anak) dengan tulus-ikhlas senantiasa berbakti dan mengabdi kepada kedua orang tuanya.

Dalam hal ini termasuk kewajiban anak mendoakan kepada kedua orang tuanya terutama ketika mereka telah wafat.

Dan sebaliknya bagi ibu (orang tua) hendaknya berusaha seoptimal mungkin menyayangi mengasihi serta mendoakan mereka (anak-anaknya) yang dibarengi dengan mendidik atau memfasilitasi dengan memberikan pendidikan yang memadai kepada anak-anaknya sehingga menjadi sholeh-sholihah. [*]

 

 

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#hari ibu #Rasulullah SAW