RADAR TULUNGAGUNG - Kinerja Keuangan KAI Semester I 2025, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat kinerja positif sepanjang semester I 2025.
Laba bersih mencapai Rp1,18 triliun, naik 8 persen dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan KAI meningkat tipis menjadi Rp16,83 triliun dengan kontribusi utama dari angkutan penumpang yang naik 9 persen menjadi 236 juta orang.
Di sisi lain, angkutan barang tumbuh terbatas hanya 1 persen menjadi 33,3 juta ton. EBITDA perusahaan mencapai Rp4 triliun, tumbuh 18 persen secara tahunan.
Aset KAI kini menyentuh Rp102,3 triliun, namun liabilitas juga membengkak menjadi Rp65,7 triliun. Meski kinerja terlihat sehat, utang proyek Kereta Cepat Whoosh dinilai sebagai beban berat.
Baca Juga: Majelis Hakim Tolak Permohonan PKPU Dahlan Iskan, PT Jawa Pos Terbukti Tak Punya Utang
Kendati demikian utang Whoosh yang berpotensi menyeret keuangan KAI. Ketua Komisi VI DPR, Anggia Ermarini, menegaskan bahwa kinerja positif bisa runtuh karena belenggu utang.
Darmadi Durianto bahkan memproyeksikan beban keuangan KCIC dapat menembus Rp4 triliun pada 2025.
Catatan kerugian pun cukup mengkhawatirkan. Tahun 2024, KAI menanggung rugi Rp3,1 triliun dari proyek ini.
Jika tren berlanjut, total utang KAI diperkirakan mencapai Rp6 triliun pada 2026. Rieke Diah Pitaloka menambahkan bahwa KAI sudah menyuntikkan modal Rp7,7 triliun untuk menopang KCIC pada 2025.
Pada tahun 2024, KAI mencatat kerugian sebesar Rp3,1 triliun akibat beban proyek KCIC. Memasuki 2025, kerugian diperkirakan meningkat hingga Rp4 triliun.
Jika kondisi tersebut terus berlanjut tanpa solusi konkret, utang KAI diproyeksikan menembus Rp6 triliun pada tahun 2026.
Baca Juga: Polri Umumkan Hasil Tes DNA Ridwan Kamil, Tidak Identik dengan Anak Lisa Mariana
Sementara itu Direktur Utama baru KAI, Bobby Rasyidin, menyebut utang KCIC sebagai "bom waktu" yang bisa menggerus kinerja BUMN transportasi ini.
Dia menegaskan KAI akan menggandeng Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk mencari solusi.
Danantara telah menyiapkan strategi restrukturisasi keuangan proyek Whoosh. Langkah ini termasuk opsi pembayaran utang agar tidak mengganggu bisnis inti KAI.
COO Danantara, Dony Oskaria, menyatakan penyelesaian ini akan dikaji bersama pemerintah. Harapannya, beban utang bisa ditekan agar tidak menggerogoti keuntungan KAI ke depan.
Baca Juga: Buku “Jokowi’s White Paper”, Benarkah Jadi Babak Baru Demokrasi Kritik di Indonesia?
Struktur Konsorsium Proyek Whoosh
Konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memegang kendali atas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). KAI menjadi pemegang saham terbesar dengan 58,53 persen, diikuti Wijaya Karya 33,36 persen, Jasa Marga 7,08 persen, dan PTPN 1,03 persen.
Total investasi proyek Whoosh mencapai USD7,2 miliar atau sekitar Rp116 triliun. Sebagian besar dana proyek bersumber dari pinjaman China Development Bank senilai USD4,55 miliar.
Besarnya beban keuangan inilah yang membuat DPR menilai utang proyek Whoosh bisa menjadi ancaman serius. ****
Editor : Dharaka R. Perdana