RADAR TULUNGAGUNG - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengumpulkan mantan Menlu dan wakil menteri luar negeri, serta anggota Komisi I DPR RI di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu sore.
Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup tersebut di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks, termasuk isu Palestina dan posisi Indonesia di berbagai forum internasional.
Sejak pukul 14.30 WIB, sejumlah tokoh diplomasi Indonesia tampak merapat ke Istana Kepresidenan Jakarta untuk memenuhi undangan Presiden Prabowo Subianto.
Di antaranya mantan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Martin Natalegawa, Dino Patti Djalal, hingga Alwi Shihab.
Kehadiran para mantan pejabat diplomatik ini menandakan keseriusan Presiden Prabowo dalam merumuskan arah kebijakan luar negeri Indonesia ke depan.
Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengonfirmasi bahwa agenda utama pertemuan tersebut berkaitan dengan diskusi situasi global.
Menurutnya, Presiden Prabowo berkenan menerima para mantan Menlu, Wamenlu, serta sejumlah tokoh terkait untuk bertukar pandangan mengenai perkembangan geopolitik internasional.
Prabowo Kumpulkan Mantan Menlu Bahas Arah Politik Luar Negeri
Arrmanatha menyebut, pertemuan tersebut bersifat diskusi strategis.
Presiden ingin mendengar langsung pandangan dan pengalaman para diplomat senior Indonesia dalam membaca peta politik global.
Terlebih, tantangan geopolitik saat ini dinilai semakin dinamis dan membutuhkan respons kebijakan yang matang.
Sementara itu, mantan Menlu Retno Marsudi memilih irit bicara usai pertemuan.
Hal serupa juga ditunjukkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dino Patti Djalal.
Dino Patti Djalal mengaku hanya mengetahui garis besar agenda pertemuan dari undangan yang diterimanya.
“Saya hanya dapat undangan untuk datang, dan dalam suratnya disampaikan mengenai arah politik luar negeri, termasuk Palestina,” ujarnya singkat kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa belum mengetahui secara detail pandangan Presiden Prabowo terkait isu-isu tersebut, dan baru akan mendengarnya dalam forum diskusi.
Isu Palestina dan Board of Peace Ikut Dibahas
Mantan Menlu periode 1999–2001 Alwi Shihab memberikan sedikit gambaran mengenai materi yang dibahas.
Menurutnya, salah satu topik penting dalam pertemuan tersebut adalah keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian.
Ia berpandangan, keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut memiliki nilai strategis.
Dengan menjadi anggota, Indonesia memiliki ruang yang lebih luas untuk menyuarakan kepentingan global, termasuk dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
“Keanggotaan itu penting agar Indonesia punya ruang bicara. Ada keuntungan, tapi tentu juga ada hal-hal yang perlu dicermati,” ujar Alwi.
Ia menilai keputusan Presiden Prabowo untuk membawa Indonesia bergabung dalam Board of Peace didasari alasan yang kuat dan rasional.
Menurutnya, Presiden tentu memiliki pertimbangan matang sebelum mengambil langkah tersebut.
Pertemuan Tertutup dan Konsolidasi Politik Luar Negeri
Diketahui, pertemuan ini bukan satu-satunya agenda Presiden Prabowo dalam membahas isu geopolitik.
Sehari sebelumnya, Presiden juga mengumpulkan puluhan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Negara Jakarta untuk membahas isu serupa.
Langkah Prabowo kumpulkan mantan Menlu dan berbagai elemen strategis ini dinilai sebagai upaya konsolidasi kebijakan luar negeri Indonesia.
Presiden tampak ingin memastikan bahwa arah diplomasi Indonesia ke depan sejalan dengan kepentingan nasional, sekaligus responsif terhadap isu-isu global yang berkembang.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Istana belum memberikan keterangan resmi terkait hasil pertemuan.
Diskusi berlangsung tertutup dan belum ada pernyataan resmi dari Presiden Prabowo Subianto mengenai kesimpulan yang diambil.
Namun, pertemuan ini menunjukkan sinyal kuat bahwa pemerintahan Prabowo menaruh perhatian besar pada politik luar negeri, khususnya dalam menghadapi tantangan geopolitik global, konflik internasional, dan posisi strategis Indonesia di kancah dunia.***
Editor : Vidya Sajar Fitri