Hingga hari kelima pascakejadian, ribuan warga masih terisolasi, ratusan korban jiwa dilaporkan meninggal dunia, sementara akses jalan, listrik, dan distribusi logistik di sejumlah daerah belum sepenuhnya pulih.
Pemerintah pusat pun bergerak cepat dengan menurunkan bantuan dan melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak.
Di Provinsi Aceh, banjir bandang menerjang sedikitnya 15 kabupaten dan kota. Kabupaten Gayo Lues menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah.
Data sementara mencatat lebih dari 2.200 rumah rusak, 15 di antaranya hanyut terbawa arus. Sebanyak 10 kecamatan dilaporkan terisolasi akibat akses jalan terputus dan lumpuhnya jaringan listrik serta komunikasi.
Hampir 6.000 jiwa terjebak dan membutuhkan bantuan segera.
Kondisi serupa juga terjadi di Aceh Timur. Dari 24 kecamatan yang terdampak banjir, tiga kecamatan yakni Serbajadi, Peunaron, dan Simpang Jernih hingga kini masih terisolasi total.
Selama enam hari, warga di wilayah pedalaman tersebut belum menerima bantuan logistik karena jalan penghubung tertutup longsor dan banjir bandang.
Kebutuhan paling mendesak adalah makanan siap saji dan air bersih.
Distribusi Bantuan Lewat Udara
Untuk menjangkau daerah terisolasi akibat banjir bandang Aceh dan Sumatera, pemerintah mengerahkan helikopter milik TNI Angkatan Udara dan Kementerian Pertahanan.
Jalur udara menjadi satu-satunya akses distribusi bantuan berupa makanan, obat-obatan, serta air bersih ke wilayah-wilayah yang tidak bisa ditembus kendaraan darat.
Berdasarkan data resmi Pemerintah Aceh, total korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor mencapai 83 orang, sementara 65 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Proses pencarian dan evakuasi terus dilakukan dengan dukungan personel gabungan dari TNI, Polri, BNPB, dan relawan.
Sumatera Utara dan Sumatera Barat Tak Luput
Di Sumatera Utara, banjir bandang dan longsor melanda Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.
Visual udara memperlihatkan Kecamatan Tukka yang sebelumnya hijau dengan hamparan sawah kini porak-poranda.
Ratusan hektare lahan pertanian rusak, puluhan rumah warga hancur, dan sedikitnya 50 warga dilaporkan tewas.
Sementara itu, Sumatera Barat mencatat dampak yang lebih besar.
Pemerintah daerah melaporkan sebanyak 129 orang meninggal dunia, 118 orang hilang, dan 16 orang luka-luka akibat banjir bandang yang tersebar di 16 kabupaten/kota dan 28 nagari.
Sejumlah wilayah seperti Kabupaten Agam dan Kecamatan Malalak Timur masih terisolasi sehingga penyaluran bantuan dilakukan melalui udara.
Presiden Prabowo Tinjau Lokasi Bencana
Presiden Prabowo Subianto turun langsung meninjau sejumlah lokasi terdampak banjir bandang Aceh dan Sumatera.
Presiden memulai kunjungan dari Bandara Silangit, Sumatera Utara, lalu menggunakan helikopter untuk meninjau kawasan terdampak di Tapanuli Tengah.
Presiden juga menyambangi dapur umum dan posko pengungsian, serta berdialog langsung dengan warga.
Dalam keterangannya, Presiden menegaskan pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk pemulihan fasilitas dan infrastruktur desa.
Ia juga memastikan kebutuhan dasar seperti BBM dan listrik akan menjadi prioritas utama pemulihan pascabencana.
Di Aceh Tenggara, Presiden meninjau Jembatan Pantai Dona yang putus akibat banjir bandang.
Jembatan tersebut merupakan akses vital penghubung tiga kecamatan.
Presiden menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menegaskan negara hadir untuk membantu masyarakat hingga kondisi kembali normal.
Dugaan Pembalakan Liar Disorot
Di Tapanuli Selatan, warga menyoroti banyaknya gelondongan kayu besar yang terbawa arus banjir bandang.
Temuan tersebut memicu dugaan adanya aktivitas penebangan hutan di wilayah hulu sungai yang memperparah bencana.
Warga dan pemerintah daerah meminta aparat terkait mengusut tuntas dugaan pembalakan liar tersebut.
Pemerintah pusat melalui BNPB telah membuka posko penanganan bencana dan mengerahkan helikopter tambahan untuk mempercepat distribusi bantuan dan evakuasi korban.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo