Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gempa Megatrust Pacitan 6 Februari 2026 Bikin Geger, BMKG Ungkap Fakta Sejarah Tsunami 1840 dan Potensi Ancaman di Pesisir Selatan Jawa

Divka Vance Yandriana • Kamis, 12 Februari 2026 | 17:44 WIB

Gempa Megatrust Pacitan 6 Februari 2026 dikaitkan sejarah tsunami 1840. BMKG jelaskan potensi dan risikonya.
Gempa Megatrust Pacitan 6 Februari 2026 dikaitkan sejarah tsunami 1840. BMKG jelaskan potensi dan risikonya.

JAKARTA - Gempa Megatrust Pacitan yang mengguncang Jawa Timur pada Jumat (6/2/2026) dini hari menyita perhatian publik. Guncangan terasa di sejumlah wilayah dan langsung memicu kekhawatiran akan potensi tsunami di pesisir selatan Jawa.

Peristiwa gempa Megatrust Pacitan ini kembali mengingatkan pada catatan sejarah tsunami besar yang pernah melanda kawasan tersebut pada 4 Januari 1840. Kala itu, gempa kuat di selatan Jawa memicu gelombang pasang yang menerjang pesisir Pacitan dan wilayah sekitarnya.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dariono, menjelaskan bahwa gempa yang terjadi dini hari tersebut memiliki mekanisme sumber berupa pergerakan naik atau thrust fault. Karakter ini identik dengan aktivitas Megatrust di selatan Pulau Jawa.

“Gempa Pacitan memiliki mekanisme naik (thrust fault) yang menjadi ciri khas aktivitas Megatrust Jawa,” ujarnya.

Baca Juga: Polemik Anggaran 1582 Kapal Ikan Berlanjut, Purbaya Akui Data Bisa Salah dan Singgung Dana Pinjaman

Mekanisme Sumber dan Kedalaman Gempa

Dariono menegaskan, gempa Megatrust Pacitan kali ini tergolong gempa dangkal. Namun magnitudonya tidak mencapai angka 7. Artinya, secara parameter teknis, energi yang dilepaskan belum cukup kuat untuk memicu tsunami besar.

Menurutnya, apabila magnitudo melampaui 7, potensi tsunami akan meningkat signifikan, terutama karena posisi Pacitan yang berhadapan langsung dengan zona subduksi aktif.

Zona subduksi di selatan Jawa terbentuk akibat pertemuan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Proses ini menciptakan akumulasi energi tektonik dalam waktu lama yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan dalam bentuk gempa besar atau gempa Megatrust.

Meski gempa kali ini tidak berpotensi tsunami, BMKG tetap melakukan analisis mendalam dengan mengaitkannya pada rekam jejak kegempaan dan tsunami di wilayah tersebut.

Baca Juga: Polemik Anggaran 1582 Kapal Ikan Memanas, Trenggono Sentil Purbaya soal Dana Pinjaman Inggris

Catatan Tsunami 1840 dan 1859

Sejarah mencatat, pada 4 Januari 1840 terjadi gempa kuat di selatan Jawa yang guncangannya terasa hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setelah gempa utama, gelombang tsunami dilaporkan menerjang pesisir selatan Pacitan.

Dariono menyebut peristiwa tersebut sebagai bukti historis bahwa gempa besar di zona Megatrust Jawa berpotensi memicu tsunami merusak.

Selain itu, tsunami pada 20 Oktober 1859 juga tercatat dalam katalog tsunami serta arsip kolonial. Meski detail datanya terbatas, laporan saat itu menyebut adanya korban jiwa akibat terjangan gelombang laut.

Pacitan termasuk wilayah yang kerap muncul dalam histori tsunami di selatan Jawa. Letak geografisnya yang berhadapan langsung dengan zona Megatrust menjadikannya kawasan berisiko tinggi terhadap gempa besar dan tsunami.

Baca Juga: SKTPG Info GTK Belum Terbit? Ini Cara Agar SKTPG Cepat Muncul dan TPG Guru Tidak Hangus

Faktor Geologis yang Memperbesar Risiko

Secara morfologi, pesisir selatan Pacitan memiliki bentuk teluk dan garis pantai relatif sempit. Kondisi ini berpotensi memperkuat atau mengamplifikasi gelombang tsunami apabila terjadi gempa besar di laut selatan.

Selain itu, struktur lempeng di bawah wilayah tersebut diduga memiliki segmen slab yang lebih landai dengan kopling subduksi kuat. Dalam kajian geofisika, kopling kuat berarti bidang kontak antar lempeng terkunci rapat, sehingga energi dapat terakumulasi dalam jumlah besar.

Jika pelepasan energi terjadi secara tiba-tiba, gempa yang dihasilkan bisa berkekuatan besar dan berpotensi memicu tsunami.

Dengan kombinasi faktor historis dan geologis tersebut, selatan Jawa, termasuk Pacitan, dikategorikan sebagai kawasan rawan gempa Megatrust dan tsunami.

Baca Juga: THR 2026 Guru Dipastikan Masuk Anggaran Negara, Benarkah Maret Terima Tiga Kali Cair? Ini Penjelasan Lengkapnya

BMKG: Tetap Tenang, Jangan Panik

Meski memiliki karakter Megatrust, gempa Pacitan 6 Februari 2026 dipastikan tidak berpotensi tsunami. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi.

Warga pesisir selatan Jawa diminta meningkatkan literasi kebencanaan, memahami jalur evakuasi, serta segera menjauh dari pantai apabila merasakan gempa kuat dan berdurasi lama.

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang memiliki aktivitas tektonik tinggi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko bencana.

Gempa Megatrust Pacitan kali ini menjadi pengingat bahwa ancaman gempa besar di selatan Jawa bersifat nyata secara geologis. Namun dengan pemantauan intensif BMKG dan kesiapsiagaan masyarakat, dampak yang lebih besar dapat diantisipasi.

Editor : Divka Vance Yandriana
#bmkg #bencana alam #Gempa Guncang Pacitan