RADAR TULUNGAGUNG - Rencana pembangunan Tol Malang Kepanjen terus digodok oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Jalan tol sepanjang 30 kilometer yang menjadi terusan ruas Gempol–Malang itu ditargetkan bisa beroperasi pada 2030. Namun hingga kini, proyek strategis tersebut masih berada pada tahap studi pendahuluan dan viability study.
Tol Malang Kepanjen digadang-gadang menjadi pengungkit konektivitas wilayah selatan Kabupaten Malang. Sayangnya, sampai saat ini belum ditentukan siapa investor atau badan usaha yang akan menggarap proyek tersebut.
Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum, Aisyah Zakiah, mengungkapkan bahwa progres Tol Malang Kepanjen masih dalam tahap awal perencanaan. Studi yang tengah berjalan mencakup berbagai aspek teknis dan proyeksi kebutuhan lalu lintas di masa mendatang.
Masih Tahap Studi Pendahuluan
Menurut Aisyah, hingga bulan ini proyek Tol Malang Kepanjen baru sampai pada tahap studi pendahuluan dan viability study. Ia belum dapat memastikan kapan tahapan tersebut akan rampung karena prosesnya masih terus berjalan.
Studi tersebut meliputi penentuan panjang dan lebar jalan, proyeksi volume lalu lintas harian (traffic forecast), hingga analisis trase atau jalur yang akan dilewati. Selain itu, tim teknis juga tengah mengkaji titik-titik lokasi exit tol yang dinilai strategis untuk mendukung konektivitas kawasan.
Tahap ini menjadi fondasi penting sebelum proyek masuk ke fase berikutnya, seperti penetapan lokasi (penlok), pembebasan lahan, hingga proses lelang investor atau badan usaha pelaksana.
Terusan Gempol–Malang
Tol Malang Kepanjen dirancang sebagai perpanjangan dari ruas tol Gempol–Malang. Dengan terhubungnya jalur tersebut hingga Kepanjen, akses dari wilayah utara ke selatan Kabupaten Malang diharapkan semakin lancar.
Selama ini, arus kendaraan menuju kawasan selatan masih mengandalkan jalur arteri yang rawan kemacetan, terutama saat akhir pekan dan musim liburan. Kehadiran tol baru diyakini dapat memangkas waktu tempuh dan meningkatkan efisiensi distribusi logistik.
Selain memperkuat konektivitas, tol ini juga diproyeksikan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di Malang Selatan. Kawasan tersebut memiliki potensi besar di sektor pariwisata, pertanian, dan industri kecil menengah yang membutuhkan akses transportasi memadai.
Target Operasional 2030
Meski masih dalam tahap studi, Kementerian Pekerjaan Umum mematok target Tol Malang Kepanjen dapat beroperasi pada 2030. Target ini tentu bergantung pada kelancaran proses perencanaan, pembebasan lahan, hingga penetapan investor.
Belum adanya kepastian mengenai siapa yang akan menggarap proyek ini menjadi salah satu tantangan tersendiri. Skema pembiayaan dan kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) kemungkinan akan menjadi opsi dalam pelaksanaan proyek.
Dalam proyek jalan tol, studi kelayakan menjadi faktor krusial untuk menarik minat investor. Proyeksi volume lalu lintas dan potensi pendapatan tol akan sangat menentukan tingkat keekonomian proyek tersebut.
Penentuan Trase dan Exit Tol
Salah satu fokus utama dalam studi Tol Malang Kepanjen adalah penentuan trase. Jalur yang dipilih harus mempertimbangkan aspek teknis, lingkungan, hingga dampak sosial terhadap masyarakat sekitar.
Tim juga tengah memetakan titik-titik exit tol yang akan menjadi simpul konektivitas baru. Lokasi exit tol biasanya dirancang agar mampu mengakses pusat ekonomi, kawasan industri, maupun destinasi wisata.
Dengan panjang sekitar 30 kilometer, ruas ini diharapkan mampu menjadi tulang punggung konektivitas selatan Malang. Namun, semua itu masih menunggu rampungnya studi pendahuluan yang kini sedang berjalan.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mematangkan perencanaan agar Tol Malang Kepanjen benar-benar siap masuk tahap konstruksi. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, target operasional pada 2030 bukan hal yang mustahil.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina