Senin, 23 May 2022
Radar Tulungagung
Home / Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Milad ke- 35 STAIM Tulungagung, Hilangkan Radikalisme

Gelar Seminar dan Kukuhkan RTIK

30 September 2021, 15: 13: 56 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Milad ke- 35 STAIM Tulungagung, Hilangkan Radikalisme

Share this      

KOTA, Radar Tulungagung - Sekolah Tinggi Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung dalam miladnya yang ke-35 mengadakan Seminar Nasional Kebangsaan.

Acara tersebut bertemakan “Penguatan Nilai-Nilai Wawasan Kebangsaan untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”.

Selain itu, pihak kampus tersebut juga melantik anggota Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK).

Baca juga: STKIP PGRI Trenggalek Gelar Sosialisasi Demi Dorong Kemajuan UMKM

“Kami yang mengadakan acara di Hotel Narita ini telah seizin satgas dan membatasi peserta hanya 55 orang karena masih PPKM level 3. Selain itu, kami juga menyiarkan ini lewat Zoom Meeting dan YouTube,” ujar Ketua STAIM, Suripto, kemarin (29/9).

Dalam acara ini, Suripto bersama RTIK Jawa Timur (Jatim) melantik enam mahasiswa yang menjadi anggota dari RTIK Komisariat STAIM Tulungagung ini. Tentunya dengan dilantiknya RTIK ini dapat membawa literasi digital yang lebih sehat di lingkup STAIM dan sekitarnya.

Tidak hanya itu, STAIM juga melakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan dua lembaga. Pertama, dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Tulungagung tentang moderasi keagamaan melalui jalur pendidikan. Kedua, dengan Balai Pengembang Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika (BPSDMP Kominfo).

Dia menjelaskan, bila tujuannya seminar wawasan kebangsaan ini untuk merespons meredupnya nilai-nilai wawasan kebangsaan dalam hidup masyarakat. Sebab, melihat kini banyak terjadi stagnasi, disorientasi, dan deviasi dalam penyelenggaraan negara.

Contohnya, masih banyak ketidakharmonisan antarumat beragama di Tanah Air. Jadi nantinya dengan adanya seminar ini, Muhammadiyah dapat membawa antarumat agama dapat hidup damai, toleransi, dan tidak anarkis.

Suripto menerangkan dengan adanya seminar ini bila agama Islam bukan agama terorisme dan radikal, melainkan damai seperti konsepnya Muhammadiyah. “Seminar ini menjadi bagian dari tanggung jawab Muhammadiyah dalam moderasi agama Islam. Sebab, Muhammadiyah juga ikut membentuk Indonesia.

Lahirnya pun sebelum negara ini merdeka. Jangan sampai ada kesan Islam itu agama radikal,” terangnya.

(rt/jar/ang/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia