Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Puasa Bikin Anak Lebih Sering Tantrum, Guru SLB Harus Fleksibel

Wanda Asmah Khoiriyah • Minggu, 16 Maret 2025 | 21:02 WIB

Suasana Pondok Ramadan di SLB Kemala Bhayangkari I Trenggalek, para siswa diajarkan mengenai nilai-nilai agama dan berpuasa.
Suasana Pondok Ramadan di SLB Kemala Bhayangkari I Trenggalek, para siswa diajarkan mengenai nilai-nilai agama dan berpuasa.

PENDIDIKAN - Puasa di bulan Ramadan seperti saat ini memiliki tantangan tersendiri bagi siswa inklusi.

Pasalnya, para guru mendapati bahwa kondisi mental siswa inklusi cukup berpengaruh saat menjalani ibadah puasa.

Sering kali, mereka mengalami tantrum lebih sering dari biasanya sehingga pendekatan pembelajaran pun harus lebih fleksibel.

Hal ini seperti yang terjadi dalam kegiatan Pondok Ramadan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kemala Bhayangkari Trenggalek. 

Baca Juga: Integrasi P5, MTsN 4 Trenggalek Manfaatkan Media Digital

Plt Kepala SLB Kemala Bhayangkari, Musthafa Para Mardan, mengungkapkan bahwa meskipun mayoritas siswa di sekolah ini beragama Islam, tidak semua mampu menjalankan puasa hingga magrib.

"Sebagian siswa sudah mulai melaksanakan puasa, namun kebanyakan belum mampu bertahan hingga magrib," terangnya.

Dani, sapaan akrab Musthafa Para Mardan, menjelaskan bahwa selama Pondok Ramadan, siswa inklusi dikenalkan pada berbagai materi seperti tata cara berpuasa dan ketentuan meng-qadha puasa.

Namun, tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana puasa berdampak pada kondisi mental mereka.

Baca Juga: Menggiurkan, Omzet Pedagang Pasar Takjil Bisa Tembus Jutaan Rupiah Per Hari

"Puasa sangat berpengaruh pada kondisi mental siswa inklusi. Mereka lebih mudah mengalami tantrum, bahkan lebih sering dari biasanya," ungkapnya.

Selain itu, durasi fokus belajar siswa inklusi pun semakin terbatas saat menjalani puasa.

Biasanya, mereka hanya mampu berkonsentrasi selama 7 hingga 10 menit sebelum akhirnya kehilangan fokus.

Untuk mengatasi hal ini, para guru harus bersikap fleksibel.

"Kami memberikan waktu istirahat bagi siswa yang mulai gelisah atau tantrum. Setelah mereka kembali tenang, pembelajaran akan dilanjutkan dengan metode yang lebih nyaman bagi mereka," jelasnya.

Dani juga menambahkan bahwa hanya sebagian kecil siswa yang mampu menjalankan puasa penuh, seperti mereka yang tunarungu atau autis dengan tingkat kemandirian lebih tinggi.

Baca Juga: Ditahan Brighton 2-2, Manchester City 'Nyaman' di Urutan Lima Klasemen Liga Primer Inggris

Sebagian lainnya hanya mampu bertahan hingga siang atau bahkan tidak berpuasa sama sekali.

Meskipun tidak diwajibkan, pihak sekolah tetap berusaha mengenalkan nilai-nilai ibadah kepada siswa sesuai kemampuan mereka.

"Dengan adanya Pondok Ramadan, kami berharap siswa inklusi bisa mendapatkan pengalaman berharga dan memahami nilai-nilai agama yang dianut tanpa harus merasa terbebani," pungkas Dani. (mg1/c1/jaz)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#slb #siswa #ramadan #inklusi #puasa #pondok Ramadan