Sabtu, 21 Jul 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Rangkap di Puskesmas, Pustu Sering Tutup

Kekurangan Tenaga Medis

Minggu, 06 Aug 2017 15:00 | editor : Andrian Sunaryo

Seputar Pustu

Seputar Pustu (Alwi/Radar Trenggalek)

TULUNGAGUNG – Keberadaan Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tersebar Kota Marmer yang sering dianggap masyarakat tak maksimal.  Pasalnya, banyak pustu yang sering tutup pelayanan di hari-hari efektif.  Padahal, keberadaannya yang tersebar mencapai sekitar 67 itu, dianggap bisa membantu masyarakat yang ingin berobat, karena ada perawat dan bidan di pustu tersebut. Memang tidak semua pustu tutup, tapi hanya ada beberapa pustu.  “Seperti salah satu Pustu di Desa Tapan ini, seminggu, banyak tutupnya. Katanya sih ada giat (kegiatan) di Puskesmas Induk,” ungkap salah seorang yang tidak mau disebutkan namanya ini.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, M. Mastur melalui Kasubag Umum, Sriyono mengatakan, Dinkes diwajibkan membangun fasilitas pelayanan kesehatan (Fayankes) hingga tingkat dasar. Seperti adanya, keberadaan Polindes, Ponkesdes, Pustu dan lainnya. Hal itu dilakukan untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat untuk mudah mendapatkan pelayanan kesehatan. “Nah pelayanan dasar itupun juga harus ada tenaga medisnya. Misal pustu itu biasanya ada perawat dan juga bidan, begitu juga dengan polindes dan lainnya,” katanya.

Namun sayang, keberadaan tenaga medis maupun non medis di Puskesmas Induk kurang, maka menjadikan Puskesmas harus mengambil tenaga lain. Yakni, memanggil mereka (tenaga medis, red) yang ditugaskan di pustu, polindes dan lainnya. Selain itu, tak membuka pelayanan biasanya juga karena ada kegiatan lain. Misal agenda posyandu, kelas bumil atau lainnya.   “Bukannya tidak kerja, mereka (petugas pustu, red) aktif masuk dan kami anggap maksimal. Itu terlihat dari absensi ceklok di Puskesmas. Itu karena mereka (petugas pustu, red) merupakan bagian dari puskesmas induk yang biasa merangkap tugas tak hanya sebagai tenaga medis, tapi juga dibebani menjadi tenaga administrasi atau lainnya,” katanya

Pria ramah ini mengatakan, keterbatasan tenaga di puskesmas induk tak lain karena banyaknya pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Dinkes Tulungagung yang pensiun. Selain itu, tidak adanya perekrutan pegawai, karena memoratorium dan lainnya. “Merekrut sendiri tidak boleh. Siapa yang mau bayarin gajinya. Makanya, banyak petugas kami di tingkat Fayankes tersebut yang tugasnya merangkap,” katanya. (*) 

(rt/lai/dre/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia