Senin, 23 Jul 2018
radartulungagung
icon featured
Features
Akbar Novianto Hadaningputra

Diundang Pemerintah Jepang untuk Benchmarking Inovasi Pelayanan Publik

Jumat, 23 Mar 2018 11:02 | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERKESAN : Akbar (tengah) berfoto bersama pejabat Prefektur Wamayama saat kunjungan ke Pusat Studi Tsunami

BERKESAN : Akbar (tengah) berfoto bersama pejabat Prefektur Wamayama saat kunjungan ke Pusat Studi Tsunami (DOK PRIBADI FOR RADAR TRENGGALEK)

 Mewakili negara dan bangsa tercinta di kancah internasional tentu menjadi sebuah kesempatan berharga. Seperti yang dialami Akbar Novianto Hadaningputra, aparatur sipil negara (ASN) yang mengabdi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappedalitbang) yang mewakili Indonesia di program JENESYS yang dihelat di Jepang.

 TITIN RATNA RAHAYU

 Pemkab Trenggalek kembali mengambil peran serta dalam event dunia. Kali ini melalui Program JENESYS (Japan-East Asia Network of Exchange for Student and Youths). Dalam program ini, seorang ASN Muda Pemkab Trenggalek, yaitu Akbar Novianto Hadaningputra, SPi, MSi, 32, yang kini menjabat sebagai Kasubbid Sosial dan Kesejahteraan Rakyat, Bidang Perencanaan Sosial, Budaya, dan Pemerintahan Bappedalitbang melibatkan diri.

“Kami 14 ASN muda dan 10 diplomat muda asal Indonesia diberi kesempatan Pemerintah Jepang mewakili Indonesia untuk mengikuti JENESYS yang merupakan bagian dari Japan's Friendship Ties Programs atau Program Peningkatan Pemahaman terhadap Jepang. Itu dalam rangka pertukaran pemuda antarnegara. Kami juga diundang dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia,” terang alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Indonesia (UI) ini.

Program Kementerian Luar Negeri Jepang melalui Japan International Cooperation Center (JICE) tersebut merupakan salah satu program dalam rangka membangun fondasi persahabatan dan kerja sama antara pemerintah Jepang dan negara-negara di Asia Pasifik termasuk Indonesia. Program JENESYS diselenggarakan dalam beberapa batch/group. Dalam batch 9 (politik) yang bertema Exchange of Young Government Officer, seluruh peserta adalah ASN muda yang berusia maksimal 35 tahun dan sedang menduduki jabatan struktural.

ASN yang diundang dalam program ini berasal dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nanggroe Aceh Darussalam, Pemprov Sumatera Utara, Pemprov Jawa Timur, Pemprov Sulawesi Selatan, Pemprov Papua, Pemkab Serdang Bedagai, Pemkab Banyuwangi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar, Pemkab Supiori Papua, perwakilan kepolisian, dan perwakilan perguruan tinggi.

“Tentu merupakan suatu kebanggaan untuk saya bisa mewakili Trenggalek merepresentasikan pemuda Indonesia. Yakni dalam menyampaikan potensi dan inovasi daerah serta mengenal ASN berprestasi yang berasal dari daerah dan negara lain dengan spesialisasi yang beragam. Pemerintah Jepang melalui Kementerian Luar Negeri, mengharapkan kami dapat bertukar informasi tentang inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Sekaligus menyampaikan hal-hal baik tentang Jepang saat kami kembali ke Indonesia,” kata Akbar yang juga merupakan lulusan terbaik Diklat PIM IV Tahun 2017 ini.

Program ini diselenggarakan pada tanggal 19 hingga 27 Februari 2018 lalu di dua kota di Jepang. Yakni Tokyo dan Wakayama. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, seluruh peserta program melaksanakan kunjungan kehormatan. Di antaranya ke majelis rendah (DPR), KBRI di Tokyo, beberapa instansi pemda, tempat pelayanan publik, kepolisian daerah, industri lokal, pusat studi tsunami, serta ke situs budaya dan bangunan bersejarah yang ada di Negeri Matahari Terbit itu. 

Selain kunjungan ke beberapa tempat, setiap harinya dilaksanakan workshop/diskusi yang membahas penyelenggaraan pemerintahan, inovasi program pembangunan, dan pelayanan publik di Jepang. “Beberapa hal-hal positif tentang negara Jepang, di antaranya tentang kedisplinan dan ketekunan orang-orang Jepang yang membawa Jepang bangkit setelah kalah dalam Perang Dunia II, dan kemudian kini menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia. Selain maju dalam pengembangan teknologi, Jepang juga sangat serius melestarikan budaya yang diwariskan nenek moyang mereka. Itu terbukti dari beberapa situs budaya mereka menjadi situs warisan dunia UNESCO,” tuturnya.

Pria ramah ini melanjutkan, Jepang juga sangat memperhatikan kebutuhan masyarakat rentan, terutama difabel dan lansia. Sehingga fasilitas-fasilitas umum dan tempat-tempat pelayanan publik seluruhnya harus ramah dan mudah diakses oleh masyarakat berkebutuhan khusus. Pemerintah Jepang juga secara aktif melibatkan masyarakat luas dalam berbagai proses pembangunan untuk meningkatkan rasa memiliki.

Sementara terkait kemiskinan, sangat sulit mengidentifikasi kemiskinan di Jepang karena orang-orang Jepang sulit mengaku “miskin”. Padahal, pemerintah menghitung setidaknya ada 16 persen warga Jepang yang hidupnya di bawah standar hidup layak dan harus diintervensi dengan program pemerintah. Tentunya, fenomena sosial ini berbanding terbalik dengan fenomena yang terjadi di Indonesia. Hal lainnya yang bisa direplikasi di Indonesia adalah cara pemerintah Jepang mendidik masyarakatnya untuk siap menghadapi bencana. “Jepang dan Indonesia memiliki kesamaan. Yakni merupakan daerah rawan dan rentan bencana alam (gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, dll),” jelasnya seperti yang dikutip dari resume laporan kunjungan program JENESYS.

Sementara itu, Plt Bupati Trenggalek H Mochammad Nur Arifin menyampaikan apresiasi dan kebanggaan atas hadirnya perwakilan Kabupaten Trenggalek pada event tingkat dunia tersebut. Dia berharap, ilmu yang didapat selama di Jepang bisa direplikasi dan diimplementasikan agar membawa manfaat bagi masyarakat Kabupaten Trenggalek. (*/ed/rka)

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia