Jumat, 20 Jul 2018
radartulungagung
icon featured
Politik
Lebih Dekat dengan Cawagub Mbak Puti

 Belajar Ngaji ke Bu Fat, Ikuti Jalan Politik Bung Karno

Senin, 26 Mar 2018 10:53 | editor : Anggi Septian Andika Putra

IKUTI JEJAK BUNG KARNO: Saat kecil bersama sang nenek, Bu Fatmawati.

IKUTI JEJAK BUNG KARNO: Saat kecil bersama sang nenek, Bu Fatmawati.

 NAMANYA panjang. Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri. Lahir di Jakarta 26 Juni 1971. Satu tahun setelah kakeknya, Bung Karno, Sang Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia, meninggal dunia 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Kota Blitar.

 Ia anak tunggal, puteri semata wayang, Guntur Soekarnoputera. Guntur adalah putera sulung Bung Karno dengan Ibu Fatmawati. Ibunda Puti berasal dari Pasundan Henny Emilia Hendayani.

 “Atas nama yang panjang, saya minta putusan pengadilan untuk menetapkan menjadi Puti Guntur Soekarno,” kata Puti. Nama itu pula yang dipakai resmi sebagai Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, dalam Pilkada 2018, mendampingi Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri

Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri

 Mengutip kamus Wikipedia Indonesia, arti kata ‘Puti’ adalah nama kecil atau gelar bangsawan perempuan Minangkabau, baik raja maupun datuk. Kakek buyutnya memang berasal dari Minangkabau. 

 Puti kecil tumbuh, diasuh dan mengenal sang nenek, Hj. Fatmawati. Bu Fat berasal dari Bengkulu. Ia putera Datuk Hasan Din, pengusaha asal Minangkabau yang menjadi tokoh Muhammadiyah Bengkulu. 

 Ibunda Bu Fat, bernama Siti Chadijah, keturunan Kerajaan Inderapura di pesisir selatan Sumatera Barat. Saat remaja, Bu Fat pernah aktif di Nasyiatul Aisyiyah, organisasi pandu puteri Muhammadiyah.

Berkat Bu Fatmawati, dua kain merah dan putih pemberian perwira Jepang, kemudian dijahit tangan menjadi bendera Merah Putih. Inilah bendera pusaka yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Kenangan masa kecil bersama sang nenek sangat membekas pada diri Puti. Ia memanggil Bu Fat dengan sebutan khusus. “Saya memanggilnya ‘Mbu’. Dari bahasa Bangka, artinya Eyang,” kata Puti.

 Rumah tinggal sang nenek di kawasan Cilandak, Jakarta. “Saya suka bermain di rumah Mbu. Suka tidur bareng beliau. Saya juga belajar mengaji sama Mbu,” cerita Puti.

 Masih kuat ingatan Puti, ketika itu, menjelang Mahgrib atau Isya, neneknya mengaji. “Lantunan suara Bu Fat lembut dan merdu,” katanya. Di saat seperti itu, Puti datang mendekat, duduk di samping neneknya yang mengaji Alquran.

 Dari Bu Fat, Puti mendapat pelajaran agama Islam, tentang kesederhanaan dan pentingnya rasa syukur. Juga tentang hidup yang harus dijalani dengan optimisme. Bu Fatmawati juga mengajarkan kepribadian perempuan Indonesia. 

 Terjun Ke Dunia Politik

 Dekade 1970-an, Puti Guntur Soekarno tumbuh di tengah kuatnya represi rezim Orde Baru. Terlebih, pemerintahan Presiden Soeharto saat itu berupaya untuk mengerdilkan kekuatan politik Orde Lama, termasuk Partai Nasionalis Indonesia (PNI), yang didirikan Bung Karno tahun 1927.

 Tidak ada sisa-sisa kebesaran keluarga Presiden Pertama yang diberikan rezim Soeharto. Sepanjang Orde Baru sering disebut sebagai era deSoekarnoisasi. Selain kekuatan politik warisan Soekarno dikerdilkan, pikiran dan ajaran yang diwariskan juga tidak diberi tempat untuk tumbuh pada generasi penerus.

 Puti masih ingat, ketika Bu Fatmawati sesekali menjemput dia pulang sekolah dengan naik bajaj. “Saat itu tidak ada mobil,” kata Puti.

 Selain mengaji, Fatmawati merupakan orang yang berjasa mengenalkannya pada buku, “Kalau dulu suka ada yang jual buku-buku loakan, diikat di kain, terus dipanggul? Dulu Mbu suka sekali membelikan buku dari situ,” kata Puti.

 Buku yang dibelikan seringnya berupa komik-komik cerita rakyat Indonesia, seperti wayang, atau sejarah zaman dulu. Pengetahuan Puti tentang budaya dan kesenian sangat terpengaruh dari lingkungan keluarganya. “Saya agak tergila-gila sama Mahabharata, Baratayuda, atau kisah Rama Sinta, karena dulu suka baca buku-buku. Saya suka cerita wayang,” jelasnya.

 Selain dari ayahnya, Guntur Soekarno, Puti juga mendapat banyak cerita dari Bu Fat tentang sejarah, kiprah perjuangan dan pikiran-pikiran Bung Karno. Dari Bu Fat pula ia mendengar banyak cerita tentang sulitnya perjuangan Bangsa Indonesia di masa sebelum dan setelah kemerdekaan.

 “Semua itu menjadi bekal saya, ketika menapaki masa dewasa. Mempengaruhi pikiran-pikiran saya. Keputusan saya untuk meniti karir di bidang politik, juga tidak terlepas dari pengaruh pewarisan sejarah dari keluarga,” kata Puti.

 Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu kata pepatah. Puti kuliah dan lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Ia terjun menjadi politisi di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Partai politik yang melanjutkan dan mewarisi ajaran-ajaran Bung Karno. Puti mengikuti jalan hidup kakeknya.

 Sebelum menjadi Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Puti Guntur 2 kali menjadi anggota DPR RI Komisi X yang membidangi pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, dan pariwisata.

 Bagi Puti Guntur, politik harus dijalankan dengan martabat, penuh keadaban, dan etika moral. “Politik harus dijalankan dengan jiwa kebudayaan. Dengan kepribadian kita, anak Indonesia,” kata dia.(*)

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia