Sabtu, 21 Jul 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Alen-Alen, Jajanan Khas Trenggalek yang Tetap Jadi Primadona

Rabu, 20 Jun 2018 10:42 | editor : Anggi Septian Andika Putra

JANGAN BUAT KECEWA: Nasihah, bersama pekerjaannya ketika mengolah adonan menjadi alen-alen.

JANGAN BUAT KECEWA: Nasihah, bersama pekerjaannya ketika mengolah adonan menjadi alen-alen. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Kerja ekstra keras harus dilakukan Siti Nasihah, salah satu produsen makanan khas Trenggalek, alen-alen, bersama pekerjanya. Pasalnya, dengan Hari Raya Idul Fitri 1439 H seperti saat ini membuat jajanan khas yang dia buat selalu dibanjiri pembeli. Tak ayal, itu membuatnya harus lebih ekstra lagi dalam menambah stok jajanan yang nantinya digunakan setelah maupun saat Lebaran tiba.

ZAKI JAZAI

Pemandangan berbeda terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek melintasi Jalan Raya Bendorejo, Kecamatan Pogalan, kemarin (19/6).

Sebab, di tengah cuaca cerah dengan terik matahari menyengat kulit, terlihat beberapa orang sedang membanjiri area salah satu rumah di daerah tersebut. Saat itu, mereka terlihat sedang asyik memilih jajanan khas Trenggalek dan menimbangnya untuk dibawa pulang.

Ya, kerumunan itu tak lain karena mereka ingin membeli alen-alen dan beberapa jajanan lainnya yang dijual di tempat tersebut untuk keperluan tertentu.

Bukan hanya itu, setelah Koran ini masuk ke area kios, ternyata di belakang kios tersebut juga terlihat aktivitas pembuatan alen-alen. Saat itu terlihat beberapa pekerja sedang mengaduk adonan, membentuk, hingga menggorengnya dan siap untuk dijual.

“Karena masih hari raya, kami membuat alen-alen hanya setengah hari. Semoga saja masih mampu untuk mencukupi kebutuhan,” ungkap Siti Nasihah, produsen alen-alen di tempat tersebut.

Bersamaan itu, dirinya mulai bercerita mengenai aktivitasnya khususnya ketika mendekati hari Lebaran seminggu lalu. Ternyata, di balik keuntungan dengan meningkatnya pembeli jajanan tersebut, dirinya harus bersusah payah untuk mencukupinya.

Sebab, kini dirinya memiliki keterbatasan alat produksi sehingga hanya bisa memaksimalkan tenaga dua pekerja yang membantunya setiap hari.

Apalagi, seluruh pekerjanya tersebut beragama Islam, dipastikan H-1 Lebaran, yang jatuh pada Kamis (14/6) lalu, pekerja meminta libur untuk persiapan Lebaran bersama keluarga.

“Makanya, tidak ada hal yang kami lakukan selain menggenjot produksi. Namun namanya manusia apalagi saat itu berpuasa tenaganya terbatas sehingga tidak ada patokan khusus,” katanya.

Untuk itu, dirinya hanya memaksimalkan tenaga pekerja yang ada, dengan cara memastikan seluruh peralatan yang digunakan bisa beroperasi sebagaimana mestinya.

Untuk itu, sebelum para pekerjanya memulai kegiatan, dirinya selalu mengecek peralatan terlebih dahulu. Seperti membersihkan tempat untuk mengeringkan dan membentuk adonan, hingga memastikan tungku gas untuk bahan penggorengan mencukupi.

Ditambah, dirinya juga menambah seluruh pekerja di beberapa bagian, berdasarkan kemampuan atau keahlian yang dimiliki, seperti menyiapkan adonan, membuat adonan, menggoreng hingga mengemas. Itu dilakukan agar semuanya tetap bisa fokus akan pekerjaan masing-masing.

Sehingga dalam setiap hari, dirinya mampu meracik sekitar 125 kilogram adonan, untuk dijadikan sekitar 70 kilogram alen-alen.

“Saya juga mengurangi pasokan ke kios lain agar bisa memenuhi permintaan. Sebab, satu minggu menjelang dan satu minggu sesudah Lebaran, jumlah pembelinya hampir sama dengan tiga bulan di hari biasanya,” ujar nenek 56 tahun ini.

Sedangkan, untuk menyiasati pilihan rasa konsumen agar tidak bosan, dirinya memberi empat varian rasa pada alen-alen buatannya tersebut. Seperti rasa bawang seperti alen-alen pada umumnya, rasa balado, dan jagung manis. Tak ayal, hal itu cukup mampu untuk memenuhi permintaan para konsumen saat ini.

Dengan upaya tersebut, membuat alen-alen produksinya begitu digemari para pelanggan. Itu terlihat berdasarkan pengamatan dari jumlah jajan yang habis terjual, omzetnya meningkat tiga kali lipat daripada lebaran tahun sebelumnya. Sedangkan untuk pembeli, kebanyakan dari wisatawan yang berkunjung ketika Lebaran dari Surabaya, Solo, Jogjakarta, dan beberapa tempat lain di penjuru Jawa Timur.

“Saya telah memiliki pelanggan pasti setiap tahunnya. Makanya sebisa mungkin berbuat agar mereka tidak kecewa,” jelas nenek tiga cucu ini. (ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia