Rabu, 29 Jan 2020
radartulungagung
icon featured
Features
Siswoyo, Pengrajin Miniatur Gamelan

Butuh Ketelatenan, Pertahankan Pewarnaan

19 Juli 2017, 11: 38: 20 WIB | editor : Whendy Gigih Perkasa

HASIL INOVASI: Siswoyo menata miniatur kendang karyanya.

HASIL INOVASI: Siswoyo menata miniatur kendang karyanya. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Perlu sebuah inovasi agar seni budaya tetap eksis. Seperti yang dilakukan Siswoyo, warga Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru. Pria yang dikenal sebagai pengrajin kendang ini membuat miniatur gamelan sebagai media untuk memperkenalkan kekayaan seni budaya Kota Marmer.

DHARAKA R. PERDANA

Matahari sudah mulai condong ke barat tatkala ini mendatangi sebuah rumah di Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru. Begitu sampai di halaman rumah yang tidak begitu luas tersebut, pandangan mata sudah diramaikan dengan tumpukan kulit dan kaleng cat. Namun jangan menyangka, si empunya rumah itu seorang pengrajin sepatu. Mengingat di dalam rumah bergaya limas tersebut justru dipenuhi kendang berbagai ukuran.

Setelah menunggu beberapa saat, Siswoyo si pemilik rumah datang. Ternyata dia baru saja mencari pakan ternak. Setelah menempatkan karung berisi rumput di belakang rumah, pria 60 tahun lalu tersebut langsung menemui Koran ini di ruang kerjanya. Apalagi saat itu masih banyak kendang reog berukuran besar maupun mini yang belum selesai dikerjakan. “Untuk pembuatan miniatur ini sebenarnya belum begitu lama,” katanya memulai obrolan ini kemarin (17/7).

Berkebalikan dengan kerajinan kendang reog yang sudah turun temurun. Untuk miniatur seperangkat gamelan untuk pertunjukan reog kendang ini sebenarnya muncul tatkala ada saran untuk membuatnya. Itu dari sesepuh reog kendang yang menyarankannya untuk membuat gamelan berukuran mini. Ini sebagai upaya mempertahankan eksistensi kesenian khas Tulungagung ini. “Makanya saya membuatnya jadi seperangkat miniatur gamelan,” jelasnya.

Miniatur maupun kendang reog asli sebenarnya tidak jauh berbeda untuk proses pembuatannya. Kalaupun yang membedakan hanya ukuran dan jenis kayunya. Namun untuk pewarnaan tidak ada yang berbeda. Begitupun untuk gong dan boning juga sama persis, meskipun terbuat dari kayu yang diwarnai kuning keemasan.

Walaupun terkesan sederhana, tetapi ketelatenan dan kejelian harus tetap dipegang Siswoyo. Untuk urusan pembubutan pun harus sangat berhati-hati karena berukuran sangat kecil. Setelah wujud asli mulai terlihat, barulah proses pewarnaan dilakukan. Kali ini ayah dua putra ini sampai melibatkan seluruh anggota keluarganya. Apalagi ini nantinya juga dirangkai menjadi satu dalam sebuah kotak kaca. “Semua anggota keluarga saya libatkan dalam hal ini,” tuturnya.

Saat ditanya untuk menentukan harga, pria ramah ini terkesan bingung menjawab. Bahkan dia sampai bertanya kepada anak lelakinya yang kebetulan sedang membantunya. Mengingat harga satu set miniatur bisa mencapai Rp 750 ribu. Tetapi anehnya selalu laris terjual. “Ini diibaratkan sudah memanen dari kesabaran menggeluti kerajinan ini,” ujarnya sambil tersenyum.

Disinggung untuk rencana ke depan, pria paro baya ini ingin mempersiapkan miniatur gamelan terbaik untuk dibawa pameran ke Jakarta. Ini menjadi momentum baginya untuk memperkenalkan diri kepada khalayak lebih luas. “Ternyata membuat yang kecil-kecil juga menguntungkan. Tetapi saya juga tetap berkarya untuk kendang reog berukuran besar,” tandasnya.

(rt/rak/whe/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia