Jumat, 06 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Features
Fantastic Four Tim Pembuat Film

Jaga Kekompakan Tim, Ambil Banyak Gambar Jika Ada Perdebatan

06 September 2017, 12: 05: 59 WIB | editor : Andrian Sunaryo

KOMPAK : Tim film Fantastic Four menunjukan piala dan piagam yang peroleh pada RFF  bersama Kepala SMKN 1 Trenggalek, Suharyati dan Pembimbing, Agus.

KOMPAK : Tim film Fantastic Four menunjukan piala dan piagam yang peroleh pada RFF bersama Kepala SMKN 1 Trenggalek, Suharyati dan Pembimbing, Agus. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Film bukan hanya sebuah tontonan, mungkin itu dalam benak Fantastic Four tim pembuat Film yang semua anggotanya masih kelas XII SMKN 1 Trenggalek. Pasalnya, mereka mengemas film yang dibuat menjadi pembelajaran sekaligus kritikan kepada pemerintah. Tak ayal, hasil karyanya tersebut berhasil mendapatkan peringkat tiga dalam ajang Ratu Film Festival (RFF) beberapa waktu lalu.

ZAKI JAZAI

Cuaca cerah dan terik sinar matahari menyengat kulit ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di area SMKN 1 Trenggalek, kemarin (5/9). Seperti biasa, dari jauh terlihat aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah tersebut. Terlihat, keseriusan para murid untuk memperagakan berbagai keahlian yang sebelumnya dipratikkan sang guru.

Barulah, beberapa saat kemudian ketika koran ini duduk di ruang tamu datanglah empat siswa yang kelimanya adalah wanita. Mereka adalah  Devi Mardianti, Afifah Agil Ningtyas, Dema Masitoh, dan Ajun Suci Priadi, anggota Fantastic Four yang merupakan tim film dari sekolah tersebut. “Kami baru mengenal dunia multimedia khususnya film ketika bersekolah di sini begitu juga terbentuknya  tim ini,” kata Devi Mardianti salah seorang anggota tim yang berperan sebagai Sutradara.

Bersamaan itu, secara silih berganti mereka mulai bercerita tentang aktivitasnya tersebut. Ternyata bukan hal mudah untuk menjaga kekompakan anggota agar terus ada dan membuat film dengan kualitas baik. Itu terbukti, dari semula anggota yang berjumlah tujuh, seiring berjalannya waktu  karena dengan alasan ada beberapa anggota yang memilih menekuni kegiatan lain, secara berangsur mereka keluar, hingga masih tersisa empat orang seperti saat ini. “Dengan keluarnya anggota itu, otomatis kami bolak-balik mengganti nama tim hingga seperti saat ini,” tuturnya.

Disaat bersamaan  Afifah Agil Ningtyas yang berperan sebagai penulis naskah meneruskan cerita, dengan jumlah anggota empat orang, itu jumlah minimal tim pembuat film. Sebab dari jumlah tersebut sudah cukup untuk posisi yang ada pada dunia film yaitu sutradara, penulis naskah, cameramen, dan editing. Untuk pemeran film, mereka bekerjasama dengan para alumni sekolah, dan juga guru pendamping.

Agar tim ini langgeng, mereka bertekad menjaga kekompakan dan setiap kali ada perselisihan dalam hal pengambilan gambar atau menjalankan alur cerita, mereka selalu bermusyawarah dengan kepala dingin. Selain itu,  proses pengambilan gambar dilakukan beberapa kali dengan posisi yang berbeda. Ini dilakukan agar semua pendapat bisa terwadahi. Setelah pengambilan gambar selesai barulah dilakukan proses pengeditan, untuk mengetahui pengambilan gambar mana yang terbaik. “Jika setelah proses pengeditan, baru kami sadar saran mana yang terbaik, dan semua anggota menerima hal itu,” ujar warga Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek tersebut.

Di lain pihak, Dema Masitoh kameramen langsung meneruskan cerita dari temannya. Ternyata bukan hal gampang untuk meraih suatu gambar yang tepat pada alur cerita. Sebab disesuaikan dengan keadaan waktu dan temanya ketika pengambilan gambar, sehingga prosesnya dilakukan secara lama dan tak jarang semuanya harus izin untuk tidak masuk sekolah. “Setiap hari kami selalu pulang sore, makanya terpaksa jika mengikuti suatu event kami izin tidak masuk untuk membuat film,” tuturnya.

Dengan demikian, tidak jarang mereka harus berangkat pagi-pagi buta, untuk naik-turun bukit demi mendapatka hasil yang maksimal. Sehingga, agar semua anggota bisa berkumpul tepat waktu, tidak jarang mereka menginap di rumah rekannya, yang letaknya terdekat dengan proses pengambilan gambar. “Sesuai tema pada film kami pengambilan harus dilakukan pada malam dan pagi hari, makanya kami harus melakukan kegiatan disaat itu ketika momentnya tepat,” jlentrehnya.

Sementara itu, Ajun Suci Priadi satu-satunya anggota tim laki-laki dan bertugas sebagai editing menambahkan, tak ayal, dengan kekompakan bersama, mereka berhasil menjuarai evnt perfilman yang diikuti. Dan yang terbaru sebagai tim terbaik, serta juara tiga film dan poster terbaik pada  Ratu Film Festival beberapa waktu lalu. Dengan demikian, jerih payah mereka selama ini  terbayar dengan menjuarai event tersebut.

Sedangkan, cerita yang diambil adalah menceritakan seorang anak laki-laki yang hidup di hutan, tidak pernah bersekolah, serta tidak mengetahui negara apa yang menjadi tempat tinggalnya, juga bentuk bendera kebangsaan. Akhirnya, dia bertemu oleh seorang kakek tua yang menceritakan hal tersebut, hingga dia mengetahui nama serta bendera negaranya. Dengan demikian, secara otomatis film itu dibuat sebagai kritikan terhadap pemerintah mengenai belum meratanya pendidikan saat ini. “Kami tidak mengatakan lokasi pembuatan, makanya kritikan kurangnya pendidikan bukan disini melainkan di daerah pedalaman sana. Dan, saat ini kami sedang bersiap membuat film untuk event di Surabaya,” jelas siswa XII multimedia 1 SMKN 1 Trenggalek tersebut. (*) 

(rt/zak/dre/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia