Minggu, 08 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Politik
Mengapa Memilih Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno

Milena: Pilih Gubernur atau Menteri?

03 April 2018, 09: 08: 56 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

DEKAT MILENIAL : Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno tersenyum gembira saat berswafoto dengan para santriwati. Gus Ipul-Puti Guntur dikenal dekat dengan generasi milenial. Kandidat nomor 2 ini menyusun banyak program inovatif.

DEKAT MILENIAL : Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno tersenyum gembira saat berswafoto dengan para santriwati. Gus Ipul-Puti Guntur dikenal dekat dengan generasi milenial. Kandidat nomor 2 ini menyusun banyak program inovatif. (TIM PEMENANGAN GUS IPUL-PUTI FOR RADAR TULUNGAGUNG)

Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno banyak “menggarap” pemilih milenial. Selain aktif bertemu mereka, kandidat nomor 2 itu juga menyusun program-program taktis.

BEREDAR luas video pendek di khalayak ramai akhir-akhir ini. Adegan dibuka oleh Milena. Dia berjalan santai usai sekolah. Tiba-tiba dari belakang, seorang cowok bersepeda motor menyusul. Mendekati Milena, lalu berhenti di sampingnya.

“Milena, aku boleh tanya sesuatu?” kata cowok itu, mirip sosok di film Dilan yang fenomenal.

Milena bergeming. Hanya seulas senyum tersungging dari bibirnya. “Tolong jawab pertanyaan aku. Kali ini saja. Setelah ini, kau boleh pergi meninggalkanku,” kata cowok itu tak mau menyerah.

Langkah Milena terhenti. “Mau tanya apa?” Tak dinyana, cowok itu bertanya tentang dua calon gubernur Jawa Timur (Jatim). Dengan enteng, Milena menjawab, “Dua-duanya bagus. Putra-putri terbaik Jawa Timur.”

Dua calon itu, satunya Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan calon satunya bekas menteri. Kedua-duanya punya pengalaman. “Gus Ipul, pengalaman 10 tahun ngurusin Jawa Timur,” kata Milena. “Terus kamu pilih siapa?” tanya cowok itu lagi. Milena tersenyum. Lalu menjawab dengan lugas. “Ya tergantung. Sebenarnya pilkada ini milih menteri atau gubernur?” jawab Milena tersenyum.

Setelah dialog itu, lantas muncul pesan singkat. “Pilih yang pengalaman dan paham mengurus Jawa Timur.”

Siapa pun yang menonton video pendek pitu, pastilah tersenyum. Sebab, cara menyampaikan pesannya lugas, jujur, dan apa adanya. Dengan durasi 20 detik, film ini menjadi parodi film Dilan yang tengah viral di dunia maya.

Program untuk Milenial

Kita bersyukur, pilkada Jawa Timur (Jatim) menjadi kompetisi ide-ide kreatif. Jauh dari isu-isu SARA. Pesan-pesan yang disampaikan pun menarik. Karena seringkali di luar kebiasaan atau out of the box.

Video itu dibuat oleh relawan Komunitas Mantap Jawa Timur (Komunitas Manja). Segmennya untuk pemilih pemula, anak-anak milenial, dan generasi muda. Di YouTube, video itu telah disaksikan lebih dari 3 juta kali. Belum lagi, di berbagai media sosial (medsos) dan pesan berantai, video itu beredar kencang dari satu gadget ke gadget lain.

Video itu mengajak siapa pun, terutama anak-anak milenial untuk merenungkan, sebelum menjatuhkan pilihan di bilik TPS. “Mau pilih gubernur atau menteri?” kata Milena. Kalau memilih gubernur, pilihlah figur yang punya pengalaman di pemerintahan provinsi Jawa Timur.

Pasangan Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno menyampaikan terima kasih atas pembuatan video itu. “Saya surprise ada relawan bikin video itu ala Dilan,” kata Gus Ipul. “Ini bukti betapa luar biasanya kreativitas anak muda kita,” tambah Puti Soekarno.

Pasangan nomor 2 itu memang menaruh perhatian terhadap anak-anak milenial. Mereka yang nanti mewarisi masa depan bangsa ini. Maka, cara menyentuh anak-anak milenial juga harus beda. Harus dekat dengan dunia mereka.

Menurut Puti, pilkada memang menjadi ajang adu kreasi. “Sejak awal, Gus Ipul dan saya berharap, pilkada ini jadi ajang adu karya, bukan adu domba. Dan anak-anak muda Jatim, kaum milenial, telah membuktikan itu. Seperti lewat video kreatif ala Dilan,” kata Puti yang piawai bermain piano dan melukis.

Gus Ipul dan Puti Soekarno punya banyak program untuk kaum milenial. Di tiap daerah, keduanya menggelar pertemuan dengan anak milenial secara informal. Di warung kopi atau ruang publik.

Gus Ipul-Puti Soekarno telah menyiapkan program Superstar (sentra UMKM, pemberdayaan industri kreatif, dan startup) untuk kaum milenial di Jawa Timur. Program itu diyakini bisa membawa daya saing di era digital ini.

Program itu selalu dijelaskan keduanya. Seperti dilakukan Puti di Lamongan, Tulungagung, Jember, Sumenep, Surabaya, dan Malang, dalam dua pekan terakhir. Keduanya ingin menciptakan bisnis-bisnis rintisan (startup) unggulan.

“Kita siapkan mentoring ke anak-anak muda. Biar merata, tidak hanya di kota besar. Misalnya milenial di perdesaan, kita fasilitasi bikin agribusiness startup yang bisa mengekspor produk desanya. Kita libatkan ahli dan pemain global untuk menguatkan startup Jatim,” ujarnya.

Puti melihat pentingnya penguatan sumber daya manusia generasi milenial untuk memperkuat daya saing startup. Untuk itu, digagas program beasiswa untuk mengirim anak-anak muda berbakat ke pusat perfilman dunia, permusikan, teknologi informasi, seni pertunjukan, dan sejenisnya. ”Kami antarkan anak-anak muda belajar banyak hal. Ada beasiswa ke Sillicon Valley untuk belajar IT atau ke Hollywood belajar film, beasiswa ke ISI untuk gali seni tradisi, dan sebagainya,” papar Puti disambut gembira generasi milenial.

Di era digital, kata Puti Soekarno, banyak kesempatan terbuka. Anak-anak muda kreatif bermunculan. Mereka tumbuh dan tegak. Puti mencontohkan Wandra, penyanyi muda asal Banyuwangi yang banyak menciptakan lagu Osing.

“Saya memimpikan lagu-lagu lokal dalam bahasa Jawa, Madura, Osing, semakin eksis. Kita akan fasilitasi itu, termasuk membiayai anak-anak muda mendalami seni musik dan seni lain,” ujar Puti, dosen tamu Kokushikan University, Jepang.

Suara Generasi Milenial

Puti optimistis, generasi milenial bisa ikut terlibat dalam gerakan memakmurkan Jawa Timur. Caranya dengan membuat banyak bisnis rintisan unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi warga. Apalagi, Jatim punya potensi besar di sektor ekonomi kreatif, yang selama ini belum tergarap optimal.

Gus Ipul juga berjanji mewujudkan model pemerintahan kolaboratif dengan merangkul para inovator sosial. “Misal, kami libatkan teman-teman bikin sistem atau aplikasi yang membantu petani, nelayan, dan sebagainya. Itulah wujud pemerintahan kolaboratif,” kata Gus Ipul. 

Tak mengherankan, dengan beragam program inovatif, suara kaum muda tersedot ke Gus Ipul-Puti. Survei Polmark menunjukkan, pemilih usia 17-21 tahun, sebesar 44,2 persen memilih Gus Ipul-Puti Guntur. Sedangkan Khofifah-Emil 30,8 persen. Adapun untuk pemilih usia 22-30 tahun, Gus Ipul-Puti menggaet 47,2 persen. Sedangkan Khofifah-Emil sebesar 25,5 persen. Untuk persentase yang tersisa, belum menunjukkan arah pilihannya.

Pengamat politik Universitas Airlangga, Novri Susan mengatakan, survei Polmark menunjukkan perilaku politik milenial yang sangat independen. Pikirannya tajam, menelisik tawaran dan kinerja kandidat.

Dia melihat, kekuatan ide program menjadi penjelas mengapa Gus Ipul-Puti lebih diminati pemilih milenial. “Gus Ipul-Puti menyatakan serius untuk menggarap startup, ekonomi kreatif, pendidikan gratis, serta kesiapan berkolaborasi dengan inovator sosial,” jelas doktor Sosiologi Politik lulusan Jepang tersebut. (*/ed/and)

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia