Rabu, 19 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Politik

Pengamat: Khofifah-Emil Berikan Solusi Konkret dan Relevan

Paslon Nomor 1 Unggul di Debat Ke-2

Jumat, 11 May 2018 08:43 | editor : Anggi Septian Andika Putra

DETAIL : Cagub-Cawagub Khofifah-Emil saat debat publik dengan Cagub-Cawagub Gus Ipul-Puti, Selasa (8/5) lalu.

DETAIL : Cagub-Cawagub Khofifah-Emil saat debat publik dengan Cagub-Cawagub Gus Ipul-Puti, Selasa (8/5) lalu. (TIM PEMENANGAN KHOFIFAH-EMIL FOR RADAR TULUNGAGUNG)

SURABAYA - Debat seri kedua Pilgub Jatim 2018 kembali mempertemukan dua pasangan calon (paslon) gubernur-wakil gubernur. Keduanya membeberkan program masing-masing di bidang ekonomi dan pembangunan.

Dalam debat kedua yang digelar KPU (Komisi Pemilihan Umum) Jawa Timur (Jatim) di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jatim, Selasa (8/5) ini, pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak tampak tampil kompak mengenakan kostum elegan dan batik.

Pasangan Khofifah-Emil mendatangi lokasi debat dengan berjalan kaki menuju Dyandra Convention Center ditemani para kiai, habaib, nyai, ribuan relawan, simpatisan dan kader, hingga petinggi partai pengusung.

Dalam debat, Khofifah menegaskan bahwa pembenahan infrastruktur sangat perlu diperhatikan sehingga mobilitas ekonomi bisa berjalan lancar. Khofifah juga berkomitmen memeratakan ekonomi melalui pemberdayaan koperasi dan UMKM. "Kami ingin mereka menjadi bagian penguatan strategis. Apakah penguatan jejaring mereka, kami Khofifah-Emil akan memfasilitasi sentra industri. Ada communal branding. Kita ingin menyiapkan pusat informasi koridor di 5 Bakorwil. Format ini berseiring untuk meningkatkan kapasitas koperasi dan UMKM," kata Khofifah.

Pada sebuah sesi, Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Emil memaparkan bahwa produksi garam bisa diberdayakan sehingga bisa menjadi tulang punggung ekonomi. Terutama, lanjut Emil, produksi garam Pulau Madura  yang perlu didorong agar menjadi penopang kesejahteraan untuk masyarakat. "Produksi garam Madura sudah luar biasa. Maka yang didorong sekarang produktivitasnya dulu," tutur Emil.

Melihat proses debat kedua ini, Pakar Ekonomi Universitas Airlangga, Rumayya Batubara menilai duet kandidat Khofifah-Emil paling menguasai panggung. Khofifah menjelaskan detail programnya di sektor ekonomi dan pembangunan ini.

Pasangan nomor satu ini kembali menghadirkan data terkini berdasarkan data BPS Dan membeberkan program yang disiapkan untuk menyejahterakan masyarakat Jatim. Baik Khofifah maupun Emil tampil prima dengan paparan program yang begitu lengkap plus dengan rancangan anggaran yang dibutuhkan.

Kemudian, Rumayya menilai program yang ditawarkan pasangan Khofifah-Emil tampil lebih konkret. Sehingga realisasi dari program yang ditawarkan Khofifah-Emil lebih masuk dan akan mudah dilaksanakan. "Secara umum, kedua paslon sudah sukses membahas masalah utama ekonomi Jatim yaitu kesenjangan. Namun dari segi substansi, saya melihat program usulan paslon 1 yang lebih realistis dan konkret," jelasnya.

Seperti saat memaparkan program pertanian, Khofifah-Emil dinilai bisa memaparkan secara komprehensif. Sebab, Khofifah-Emil membahas seluruh komoditas yang dibutuhkan masyarakat. "Misal dalam program pertanian, paslon 1 secara komprehensif membahas empat komoditas utama Jatim (beras, jagung, gula, dan garam, Red) dengan strategi unik untuk setiap komoditas. Sedangkan paslon 2 hanya membahas tentang beras," ucapnya.

Kemudian terkait program penstabilan harga, pasangan nomor 2 disebut tidak relevan. Sebab, tidak sesuai dengan realitas keuangam daerah. "Solusi masalah kestabilan harga komoditas pertanian paslon 2 juga terlalu utopis dan birokratik melalui pembentukan BUMD pangan," jelasnya.

"Padahal, nyatanya sebagian besar BUMD Jatim dalam kondisi keuangan yang tidak sehat. Terlebih lagi APBD Pemprov Jatim hanya sekitar 30 persen dari total APBD kabupaten/kota di Jatim," lanjutnya.

Sebaliknya soal stabilitasi harga, peraih Hadi Soesastro Australia Award 2015 menilai pasangan Khofifah-Emil menawarkan program yang relevan karena ditopang para pelaku ekonomi masyarakat seperti petani dan pedagang. Program stabilitasi harga Khofifah-Emil disebut lebih pro-rakyat kecil.

"Solusi kestabilan harga paslon 1 lebih realistis dengan melakukan sinkronisasi dalam siklus penanaman antarpetani di Jatim, agar tidak terjadi oversupply saat panen. Program ini tidak hanya menyasar akar masalah dari kestabilan harga, tapi juga hemat ongkos dari sisi anggaran," ujarnya.

Kemudian terkait pengentasan pengangguran, pasangan dwitunggal ini lebih menawarkan pada pengembangan UMKM sehingga tenaga yang terserap bisa lebih banyak. "Solusi mengatasi pengangguran paslon 1 lebih realistis dengan bertumpu pada UMKM. Sektor ini memang bersifat padat karya sehingga ketika sektor ini didorong tumbuh, efeknya besar ke penciptaan lapangan kerja dan pengurangan pengangguran," jelas alumnus doktor The University of Western Australia ini.

Sebaliknya, solusi paslon Ipul-Puti dengan menggunakan hitungan-hitungan penciptaan lapangan kerja melalui penanaman modal asing/penanaman modal dalam negeri (PMA/PMDN) berisiko tidak akurat.

"Mengingat sektor ini bersifat pada modal. Terlebih lagi jenis lapangan pekerjaan yang diciptakan PMA/PMDN akan cenderung membutuhkan pekerjaan dengan pendidikan yang tinggi. Sedangkan sebagian besar angkatan kerja di Jatim masih berpendidikan rendah," ucapnya.

"Apalagi tidak ada jaminan bahwa lapangan kerja yang diciptakan PMA/PMDN akan diisi oleh pekerja dari Jatim," tegasnya lagi.

Hal senada juga disampaikan Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Ahmad Nawardi, terkait program peningkatan produktivitas garam. Dia menilai program Khofifah-Emil terkait peningkatan produktivitas garam sangat ditunggu masyarakat Madura. "Sangat mengapresiasi program meningkatkan produktivitas garam. Kalau mendorong sudah biasa. Harus ada program khusus program Madura. Soalnya Madura punya potensi. Lahan garamnya cukup luas," ucap Nawardi.

"Realistis sekali kalau Madura ditingkatkan garamnya sehingga minimal bisa mengurangi impor dan bisa menyuplai kebutuhan garam," pungkasnya. (*/ed/and)

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia