Rabu, 19 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Features
Kondisi Membaik, Alat Pendengaran Membengkak

Bripda Ahmad Muaffan Alaufa, Korban Selamat Bom Polrestabes Surabaya

Rabu, 16 May 2018 10:27 | editor : Anggi Septian Andika Putra

GAGAH DAN PEMBERANI: Bripda Ahmad Muaffan Alaufa ketika bertugas mengenakan rompi dan senjata laras panjang

GAGAH DAN PEMBERANI: Bripda Ahmad Muaffan Alaufa ketika bertugas mengenakan rompi dan senjata laras panjang (juari for radar blitar)

Senin (14/5) pagi berjalan seperti biasa. Juari berangkat pagi sekitar pukul 07.00 untuk berdinas. Maklum, dia seorang aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar. Dia menjabat sebagai Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Blitar. Dia juga ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kasatpol PP Kota Blitar. Sebab, posisi pucuk pimpinan satpol PP sedang kosong. Hariyanto yang menjabat kasatpol PP lama baru saja pensiun awal Mei lalu.

Senin pagi, usai mengawali apel di kantor Wali Kota Blitar, dia bergegas menuju kantor Satpol PP Kota Blitar di Jalan Mastrip. Ada rapat membahas sejumlah agenda menjelang Ramadan dan selama Ramadan. Namun, di tengah-tengah rapat itu, Juari mendengar kabar yang mengejutkan. Ponselnya tiba-tiba berdering dan bergetar. Dia langsung meraih ponsel smartphone-nya dan mengangkat telepon. "Anakmu, anakmu, kena ledakan bom," ujar suara pria dalam telepon itu. "Wes cepetan kamu berangkat ke Surabaya," pinta pria itu lagi.

Suara telepon itu tidak lain adalah saudaranya yang juga berdinas di Mapolrestabes Surabaya. Dia memberitahukan bahwa Affan, putra Juari, terkena ledakan bom di mapolrestabes. "Wah, saat itu saya langsung ingat jika pagi itu anak saya sedang piket," ungkap Juari saat wawancara melalui sambungan telepon Senin malam (14/5).

Juari terhenyak seketika mendengar anaknya terkena ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. Anaknya, Bripda Ahmad Muaffan Alaufa, saat itu berusaha menghadang pelaku masuk ke mapolrestabes

Juari terhenyak seketika mendengar anaknya terkena ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. Anaknya, Bripda Ahmad Muaffan Alaufa, saat itu berusaha menghadang pelaku masuk ke mapolrestabes (ist)

Memang, sehari sebelum ledakan, Minggu (13/5), mereka bertemu. Saat itu, Juari dan keluarga berkunjung ke makam ayah ibunya di Sidoarjo. Kebetulan, Affan juga diajak ikut sekalian. Anak pertamanya itu pun menyanggupi ajakan ayahnya. Usai nyekar ke rumah kakek dan neneknya, lanjut Juari, Affan pamit sekalian. Affan bilang bahwa Senin (14/5) dapat jadwal piket. "Yah, saya besok (Senin, Red) piket," ujarnya menirukan perkataan anaknya saat itu. "Ya wes, Le, ati-ati. Neng penjagaan ati-ati (Ya sudah, Nak. Di penjagaan hati-hati, Red)," jawab Juari.

Setelah rapat usai, dia pun langsung bertolak menuju RS Bhayangkara Polda Jawa Timur, tempat anaknya dirawat. Juari mengajak istri dan anaknya yang lain. Selama perjalanan ke Surabaya itu, dia terus berkomunikasi dengan kerabatnya. "Memantau kondisi anak saya dari perjalanan. Alhamdulillah sadar," ujarnya dengan suara yang terdengar sesenggukan.

Affan sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Dia mulai berdinas di Mapolrestabes Surabaya pada 2014. Polisi berusia 24 tahun itu bertugas di Satuan Sabhara. Saat kejadian bom bunuh diri Mapolrestabes Surabaya, Senin, Affan mendapat giliran piket menjaga pintu gerbang masuk mapolrestabes.

Momen Affan piket jaga itu juga terpantau dalam video detik-detik ledakan bom yang beredar di masyarakat. Terlihat dua anggota satsabhara berpakaian lengkap dengan membawa senjata laras panjang menghadang dua pengendara sepeda motor. Dua pengendara itu berusaha merangsek masuk markas polisi yang dijaga ketat beberapa petugas. Terlihat di samping pengendara ada mobil hitam yang lebih dulu berhenti. “Itu anak saya yang menghadang pertama. Stop, stop,” ujar Juari. Saat itu juga, bom pertama meledak. “Bom pertama yang meledak dari pengendara belakang. Anak saya langsung terpental,” imbuhnya.

Tak lama berselang, bom kedua meledak. Ledakan kedua itu terjadi dari pengendara yang ada didepannya. Jeda antara ledakan pertama dan kedua hanya hitungan detik. Cepat. “Setelah terpental, anak saya sempat sadar, lalu diseret. Kondisi sudah berdarah. Setelah itu langsung pingsan,” ungkapnya.

Affan langsung dilarikan ke RS Bhayangkara. Polisi asal Kelurahan/Kecamatan Sananwetan itu mengalami luka di kepala belakang. Beberapa giginya juga rompal. “Mungkin terkena senjatanya saat terpental,” terang mantan Kepala Bagian (Kabag) Hukum Pemkot Blitar itu.

Tidak ada firasat aneh yang dirasakan Juari maupun keluarga sebelum peristiwa ledakan bom di mapolrestabes. Namun, kala itu timbul perasaan tidak enak ketika sang anak pamit. Sebab, situasi dan kondisi di Surabaya sedang genting. Situasinya siaga I. Kini, Affan bersama korban lainnya sedang menjalani perawatan intensif. Kondisi terkini sudah mulai membaik. “Alhamdulillah sudah membaik. Cuma alat pendengarannya membengkak. Ini saya baru saja pulang dari Surabaya,” ungkap pria murah senyum ini. (*/ed/ynu)

(rt/kan/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia