Senin, 24 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Kolom
Kalam Ramadan

Ramadan yang Dirindukan

Jumat, 18 May 2018 17:29 | editor : Ridha Ervina

dokumen

dokumen (H. Achmad Suudy, Sekretaris Umum MUI Kabupaten Blitar)

Deer .. daar... door.... suara mercon bumbung telah ramai dibunyikan anak-anak di pedesaan. Bersamaan matahari tenggelam, bulan sabit telah muncul di ufuk barat, Syakban genap 30 hari, Ramadan telah tiba. Orang berduyun-duyun ke masjid, surau, musholla karena merindukanmu. Tiada terasa setahun umur kita telah berkurang dari jatah yang ditetapkan Alloh, yang manusia tidak mengetahui berapa batas umur tersebut, rasanya Ramadan seperti baru kemarin, nyatanya sudah berganti tahun.

Semua umat Islam di seluruh penjuru negeri, bahkan di dunia berlomba untuk saling banyak beribadah, sedekah, dan hanya satu yang diharapkan: masuk surga. Seorang tukang koran datang kepada ustad lalu bertanya: “Wahai ustad, siapakah yang dirindukan untuk menghuni surga?” Ustad menjawab,  Rasul pernah bersabda : “Ada empat gologan manusia yang dirindukan untuk menjadi penghuni surga, mereka ialah pertama, orang yang selalu membaca Alquran;, kedua, orang yang selalu menjaga lisannya; ketiga, orang yang suka berbagi/bersedekah (dalam hadis disebut suka membagi makanan kepada yang memerlukan/kelaparan); keempat, orang berpuasa Ramadan.”

Rupa-rupanya inilah kiranya penyebab setiap Ramadan datang, banyak orang yang merindukannya, karena selain surga di depan mata, ampunan dari Alloh telah disiapkan, lalu bagaimana dengan empat golongan diatas? Alquran adalah kitab suci bagi umat Islam, merupakan firman Alloh yang kebenaran dan kemurniannya dijaga oleh Alloh SWT (Innaa nahnu nazzalna zikra wa inna lahuu lahafidzuun).

Membacanya saja sudah mendapat pahala, apalagi kalau memahami makna kandungannya, mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Petunjuk, hukum yang tertuang di dalamnya masih bersifat mujmal (umum) belum tafsili (terperinci). Jadi, kurang tepat manakala ada seseorang yang memahami ayat hanya dilihat dari arti tekstual saja, tidak dinalar. Akibatnya gagal faham yang menyebabkan amalannya menyimpang dari yang dikehendaki Alloh SWT.

Di era demokrasi di mana setiap orang bebas berpendapat, berbicara, apalagi berkomentar yang tidak berdasar, baik langsung maupun melalui media elektronik (media sosial), maka sudah seharusnya mulai mawas diri: Apakah saya yang dirindukan surga? Sebab, termasuk menjaga lisan adalah tidak memuat komentar negatif melalui media sosial dan semacamnya, yang malah membikin masyarakat runyam. Beranikah kita mengistirahatkan HP selama satu bulan saja, ganti dengan tasbih, bukan tombol HP?

Ketika hari biasa, sedikit orang yang peduli kepada para mustad’afin (orang yang lemah), begitu Ramadan tiba, seolah mau menyuap Alloh dengan sedekahnya. Di mana-mana orang berbagi, di jalan, di masjid, di kantor. Pendek kata, orang tidak usah khawatir kelaparan, baik itu sedekah yang terorganisasi maupun perorangan. Bagaimana kalau kebiasaan berbagi ini dilembagakan atau dibudayakan di tengah masyarakat sepanjang waktu? Rindu rasanya kita bisa berbuat yang demikian, hanya karena mengharap surga, bukan karena kesombongan, ingin dipuji, cari simpati, apalagi mengharap dipilih dalam pilkada (astaghfirulloh).

Yang terakhir, puasa Ramadan yang dimaksud adalah benar-benar puasa dalam arti luas dan dalam, bukan sekedar menahan lapar dan haus. Artinya puasa lisannya, puasa hatinya, puasa cara berpakaian, puasa cara bergaulnya, dan sebagainya. Paling tidak satu bulan saja dalam setahun tidak beramal dengan hal-hal yang tidak bermanfaat di medsos. Insya Alloh itulah yang membimbing hati bisa damai dan ora nggrengseng (jw). Wallohu a’lam. (*)

(rt/jpr/rid/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia