Minggu, 19 Aug 2018
radartulungagung
icon featured
Kolom
Kalam Ramadan

Ingat Perkara Lima, Lupa yang Lima

Jumat, 18 May 2018 17:34 | editor : Ridha Ervina

Ingat Perkara Lima, Lupa yang Lima
Berita Terkait

“Akan datang pada umatku suatu masa, mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara. Mereka mencintai dunia dan melupakan akherat, mencintai kehidupan melupakan kematian, mencintai bangunan yang megah dan indah, melupakan kuburan, mencintai harta benda melupakan hisab, mencintai makhluk melupakan kholik .” Hadis riwayat Ibnu Hajar.

Tersirat peringatan dari Rasulullah SAW akan datang masanya umatnya sangat mencintai hal-hal yang bersifat keduniaan dan melupakan keakheratan . Padahal semesinya kita ini menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan untuk mempersiapkan rangkaian hidup yang sebenarnya dan panjang tak terduga. Akherat ialah alam abadi, karenanya ketika menyadari bahwa di dunia ini sementara, sudah seharusnya bekerja giat untuk mencari bekal untuk kehidupan yang panjang. Biasanya manusia banyak yang lupa diri, tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa akherat itu ada. Biasanya pula ingatan kepada Tuhan kalau sudah diuji, dicoba, kena musibah, sakit dan semacamnya, ketika masih jaya lupa sama sekali, mencintai dunia boleh asal jangan berlebihan, karena memang kita hidup perlu bekal.

Hidup sehat adalah dambaan setiap orang, kalau tertimpa musibah (baca: sakit) berapapun biayanya akan diusahakan untuk kesembuhan, meski harus ngutang untuk pengobatan. Ketika masih hidup sehat, ingatan kepada Tuhan hanya kadang-kadang kecuali bagi yang beriman kuat, paling tidak berdialog dengan Alloh sehari semalam lima kali (salat). Tetapi itupun jarang yang ingat kematian, bahkan ada tetangga yang kesusahan (meninggal dunia), takziyahpun enggan, mereka masih bisa berdalih: itu kan fardu kifayah – astaghfirulloh.

Salah satu tanda kiyamat adalah orang senang berlomba membangun gedung, istana, rumah tinggal yang mewah. Bermilyar dana digerojokkan untuk memenuhi nafsunya, mereka lupa bahwa sebagus apapun yang dibangun kelak tidak akan dibawa ke kubur kecuali tiga lapis kain kafan saja, itu berlaku bagi semua umat (baca : Islam), presiden, gubernur, bupati, sampai buruh tani pun sama, yang dibawa hanya amal, rumahnya tinggalnya, hanya gedung berukuran dua kali satu meter, “liang lahat”.

Ada seseorang yang suka memenggal makna sabda Rasulullah : “Carilah kehidupan dunia , seakan engkau akan hidup selamanya .....” tetapi tidak diteruskan sabda tersebut, sehingga selama hidupnya dia hanya cari harta saja, katanya: “Ini kan melaksanakan sabda Rasul ...”, sehingga mereka melupakan saat beribadah, bersosialisasi dengan masyarakat dan sebagainya, bahkan ketika mencari harta tersebut mereka abaikan: Halal dan haramnya, patut dan tidak patutnya, bahkan semua cara ditempuhnya asal bisa banyak harta.

Padahal terusan hadisnya nggak dibaca : “Carilah kehidupan akherat seakan engkau akan mati esuk hari”. Ingat bahwa kelak orang yang banyak pertanyaan ketika dihisab diyaumul mahsar ialah orang yang banyak hartanya.

Terakhir yang perlu diingat dari sabda Rasulullah di awal adalah: saat umatnya banyak yang lebih mencintai makhluknya daripada Al Kholik (Alloh SWT).

Mencintai Alloh adalah segalanya, ialah melaksanakan perintah menjauhi larangan. Ingat Al Kholik (Alloh SWT) bukan sekedar banyak menyebut, tetapi lebih dari itu ialah menyesuaikan perilaku kita dengan kehendak Alloh.

Percuma kiranya banyak menyebut asma Alloh, tetapi tetap tidak rukun sesama muslim, tidak akur dengan tetangga, sering menggunjing, masih suka mengambil yang bukan haknya. Obatnya adalah merenungi diri, senyampang Ramadan, pintu taubat dibuka Alloh lebar-lebar, kapan lagi kalau tidak dimulai sekarang, muhasabah/mawasdiri dan ihlaskan diri untuk mengabdi kepada-Nya. Siapa tahu Ramadan ini dapat malam seribu bulan, aamiin. Wallohu a’lam. (*)

(rt/jpr/rid/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia