Senin, 20 Aug 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

17 Pasien Miras Oplosan Tewas di 2017, 9 dari Tulungagung

Senin, 04 Jun 2018 09:34 | editor : Anggi Septian Andika Putra

Grafis Miras Oplosan

Grafis Miras Oplosan (Hendra Novias/RATU)

TULUNGAGUNG - Tewasnya warga Kecamatan Ngunut karena minuman keras (miras) oplosan harus mendapat perhatian dari semua pihaknya, baik dari polres, pemkab, dan masyarakat Tulungagung.

Sebab, kasus seperti ini pernah terjadi pada 2017 lalu. Dari data di RSUD dr Iskak Tulungagung selama tahun lalu, sebanyak 67 pasien dirawat di instalasi gawat darurat (IGD) dengan diagnosis intoksikasi atau keracunan metanol.

Dari total pasien yang masuk RSUD dr Iskak Tulungagung sebanyak 67 orang, tidak hanya berasal dari Kota Marmer, tetapi juga luar Tulungagung. Seperti Trenggalek, Kediri, Blitar, dan Nganjuk.

“Tidak semua pasien yang kami rawat di RSUD dr Iskak ini dari Tulungagung saja, tapi juga banyak dari luar Tulungagung, sekitar wilayah karesidenan,” ungkap Kasi Informasi dan Pemasaran RSUD dr Iskak Tulungagung Moch Rifai, kemarin (2/6).

Dia mengatakan, berdasarkan data yang masuk, sebanyak 35 pasien berasal dari wilayah Tulungagung. Yakni  Kecamatan Tulungagung 9 orang, Ngunut 10 orang, Kalidawir empat orang, Campurdarat empat orang, Kauman empat orang, serta Sendang empat orang.

“Kalau dari Kota Marmer sendiri, total terbanyak didominasi dari wilayah Ngunut, yakni 10 pasien yang mendapat perawatan,” jelasnya.

Pria ramah tersebut menambahkan, selain Kota Marmer, beberapa wilayah yang dekat juga mengandalkan RSUD dr Iskak sebagai rujukan utama.

Seperti Kediri 16 orang, Nganjuk 2 orang, Blitar 11 orang, dan Trenggalek 6 orang. “Kalau di luar kota yang paling banyak dari wilayah Kediri,” ungkapnya.

Namun, dari sekian pasien yang masuk dalam catatan RSUD dr Iskak selama 2017, rata-rata terdapat 27 persen pasien berisiko meninggal dunia akibat keracunan metanol yang berlebihan. Dan sisanya berhasil terselamatkan.

“Sebanyak 17 pasien menurut data tidak bisa diselamatkan alias tewas. Yakni dengan merawat sebaik mungkin dan mengurangi risiko kematian, tapi tetap saja tidak selamat,” jelasnya.

17 pasien yang tidak bisa diselamatkan tersebut, dari wilayah Tulungagung 9 korban meninggal, Kediri lima orang, Nganjuk satu orang, dan Blitar dua orang. Sedangkan Trenggalek nihil.

“Wilayah Kota Marmer sendiri dari wilayah Kecamatan Tulungagung dua orang, Ngunut dua orang, Kalidawir satu orang, Campurdarat dua orang, Sendang dua orang,” ujarnya.

Menurut dia, pihaknya sering menemukan kandungan zat etanol dan metanol yang dijadikan bahan untuk minuman keras. Etanol berasal dari fermentasi buah seperti gandum, beras, atau ragi. Selain itu, juga terdapat dalam kandungan minuman beralkohol seperti anggur, bir, wine, dan arak.

“Tapi kalau metanol itu kebanyakan dibuat sebagai pelarut atau bahan bakar industri, seperti yang dibuat cat rumah, cairan pembersih kaca, dan bahan campuran pembuatan plastik,” jelasnya.

Mirisnya yang sering ditemukan oleh pihaknya, yakni metanol dijadikan bahan campuran pembuatan minuman beralkohol di pasaran.

“Apabila bahan ini masuk ke dalam tubuh, maka dampaknya akan sangat berbahaya karena bersifat toksik, bahkan mennyebabkan kematian,” jelasnya.

Dia menambahkan, pada 2018 awal Juni, RSUD dr Iskak menangani enam pasien karena keracunan miras oplosan. Enam pasien tersebut satu di antaranya meninggal dunia dan satu kritis.

“Awalnya di red zone terdapat tiga pasien, satu meninggal, satu kritis, dan yang lain  membaik serta dirawat di yellow zone. Tiga lainnya sudah bisa pulang karena kondisi semakin membaik,” jelasnya. (yon/ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia