Senin, 20 Aug 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Manula di Dusun Karangsari Ngaji Kitab Kuning Tafsir Jalalain

Senin, 04 Jun 2018 10:14 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TAMBAH ILMU: H Jumadi memberikan pengajian tasfir jalalain kepada masyarakat di Masjid Demak Baitul Mukminin.

TAMBAH ILMU: H Jumadi memberikan pengajian tasfir jalalain kepada masyarakat di Masjid Demak Baitul Mukminin. (Whendy Gigih Perkasa/RATU)

Beragam kegiatan dilakukan sambil menunggu waktu berbuka puasa. Salah satunya ikut pengajian kitab kuning tafsir jalalain. Inilah yang dilakukan sebagian warga Dusun Karangsari, Desa Sidomulyo, Kecamatan Gondang. Uniknya, dalam pengajian itu mayoritas adalah para manula.

WHENDY GIGIH PERKASA

Sekitar pukul 16.00, Masjid Demak Baitul Mukminin, Desa Sidomulyo, mulai ramai didatangi warga. Mayoritas sudah tak lagi muda. Mereka berjalan kaki menuju masjid. Selanjutnya duduk rapi di serambi.

Ternyata para jamaah itu sengaja datang mengikuti pengajian. 

Sudah sejak awal Ramadan masjid dipakai pengajian. Terutama saat sore hari sambil menunggu waktu berbuka puasa. Ini menjadi kegiatan rutin setiap Ramadan.

Pengajian juga dilaksanakan setelah salat Subuh.

Para jamaah yang sudah berkumpul di serambi, selanjutnya duduk berjajar rapi. Jamaah pria dan wanita duduk terpisah. Di barisan belakang, ada jamaah yang berusia lebih muda termasuk anak-anak.

Namun yang mendominasi memang manula. Usianya pun 60 tahun ke atas.

Tak lama, H Jumadi tiba. Dia menjadi salah seorang pemberi materi pengajian. Salah satu yang dipakai dalam kegiatan itu yakni kitab kuning tafsir jalalain. Tafsir jalalain juga banyak dipelajari di sebagaian besar pondok pesantren. Namun, karena para jamaah dominan manula, H Jumadi mengaku harus membuat model lain dalam pengajian sore itu.

Para jamaah lebih banyak menyimak atau pun mendengar berbagai informasi yang disampaikan H Jumadi. Tentunya informasi yang disampaikan itu berdasarkan tafsir Jalalain.

Pengajian ini bertujuan untuk pemantapan warga terkait keagamaan. Karena para jamaah tingkat pendidikannya berbeda-beda, maka dipakai cara dan materi yang sederhana.

“Dengan begitu, mereka (para jamaah, Red) sedikit banyak lebih mengerti tentang arti Alquran,” kata H Jumadi.

Pria ramah itu melanjutkan, beberapa materi yang disampaikan juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang salat, puasa, dan lain sebagainya.

Dengan pemilihan materi yang sederhana, jamaah lebih mudah memahami. Selain itu, model penyampaiannya secara langsung. Para jamaah tidak diharuskan membawa kitab atau pun harus menulis layaknya di pondok pesantren.

“Memang tak bisa ala pesantren yang harus bawa kitab dan menulis. Ini lebih untuk memahamkan jamaah,” ujarnya.

Pria yang pernah merantau ke Jayapura itu juga menyampaikan jika tidak terlalu sulit mengajar atau pun mengisi pengajian dengan para jamaah manula. Menurut dia, paling penting adalah niat.

Mbah Safii, salah seorang jamaah mengaku senang bisa ikut pengajian.

Sebab, selain mengisi waktu sambil menunggu berbuka puasa, juga untuk belajar ilmu keagamaan. Dengan begitu bisa semakin mantap dalam beragama.

“Alhamdulillah bisa memahami. Kalau kurang jelas, saya bertanya,” katanya. (ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia