Minggu, 19 Aug 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Melihat Pabrik PT PAK di Trenggalek Pascakebakaran 6 Tahun Silam

Kamis, 07 Jun 2018 11:23 | editor : Anggi Septian Andika Putra

HIDUP KEMBALI : Pabrik pengolah getah pinus dari depan kemarin (5/6). Sejumlah bangunan telah berubah, hanya bagian pagar depan saja yang masih sama seperti dulu.

HIDUP KEMBALI : Pabrik pengolah getah pinus dari depan kemarin (5/6). Sejumlah bangunan telah berubah, hanya bagian pagar depan saja yang masih sama seperti dulu. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Peristiwa yang melanda PT Perhutani Anugerah Kimia (PAK) enam tahun silam menjadi sangat berarti. Setidaknya bagi manajemen perusahaan milik pemerintah ini.  Komposisi gedung ditata sedemikian rupa, dipasahkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

AGUS MUHAIMIN

Gedung itu berdiri dengan kokoh dan besar. Ada sekitar 70 pekerja yang mengolah dan memproses getah pinus yang disadap oleh para petani di seantero Kota Keripik Tempe ini.

Ya, PT PAK ini pernah mengalami musibah yang besar. Pabrik di jalan raya Kanjeng Jimat ini terbakar.

Tercatat total kerugiannya menyentuh angka Rp 35 miliar. Besarnya kerugian tersebut cukup wajar karena dalam parbik kala itu terdapat bahan baku, produk jadi, peralatan, dan mesin yang ikut terbakar. Belum diketahui secara jelas faktor penyebabnya.

Hanya diduga kuat api berasal dari bagian mesin.

Setidaknya, itu yang masih menjadi bagian memori yang tersimpan di benak Muhammad Anas, warga Kelurahan Surodakan, yang kini didapuk sebagai manajer produksi di perusahaan pelat merah ini.

“Saya masih ingat, waktu itu pas bulan puasa. Kebakaran terjadi sekitar pukul 12 malam,” katanya dengan pandangan menerawang.

Saat itu, dia yang kebetulan tinggal tidak jauh dari pabrik diberi tahu bahwa pabrik tempatnya bekerja terbakar.

Ada rasa tidak percaya, dia pun menghadapkan padangan ke arah timur, pabrik tersebut berada di arah timur rumahnya. Langit Trenggalek malam itu merah, akibat bara api pabrik pengolah getah pinus ini.

“Pertama, yang saya lakukan adalah ke PLN dan pemadam kebakaran (damkar). PLN karena di sana ada kabel tegangan tinggi. Sedangkan damkar agar api bisa segera dipadamkan,” katanya.

Sayang, harapan agar api tersebut segera padam tidak terjadi. Bahkan pihaknya meminta bantuan beberapa unit damkar dari kota tetangga, dua unit dari Tulungagung, dan satu unit damkar dari Ponorogo.

Ini pun masih tidak mampu memadamkan api. Karena pinus mengandung zat yang cukup mudah terbakar sehingga bukan perkara mudah untuk memadamkan.

Pada hari berikutnya api masih saja membara, pihaknya lantas minta bantuan kepada semua rekan untuk mendapatkan tambahan mobil untuk memadamkan api tersebut.

“Kita ada bantuan dari PT Gudang Garam, api baru bisa dijinakkan pukul tiga sore keesokan harinya,” kenangnya.

Kini, enam tahun setelah peristiwa itu, sudah sangat banyak perubahan di pabrik tersebut. Terutama mengenai tata letak pabrik.

Jika dulu dibuat satu ruangan bertingkat, ruang mesin, bahan baku, penyimpanan barang menjadi satu, kini telah dirombak. Dibuat terpisah sehingga jika ada kebakaran di satu lokasi, bisa segera ditangani dan tidak membawa dampak untuk bidang lain.

Anas mengungkapkan, bukan perkara mudah untuk bangkit pascakebakaran. Terlebih bahan baku dan mesin rusak berat. Klaim asuransi yang diterima tidak sebanding dengan kerugian yang diderita.

Meski begitu, perjalanan usaha kian membaik. Kapasitas produksi juga tercatat meningkat. Dari yang semula sekitar 300 ton per bulan kini rata-rata sekitar 350 ton per bulan.

Anas –sapaanya- mengaku, kapasitas produksi yang besar tersebut sementara ini menjadi konsumsi atau komoditas ekspor. Walaupun ada juga permintaan dari konsumen-konsumen lokal.

Selama ini, produk yang dihasilkan tesebut masih sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut, bahkan ada sisa produksi yang cukup tinggi.

Kendati begitu, pihaknya sedikit berbangga hati ketika muncul wacana dari pemerintah daerah setempat yang berencana memanfaatkan produk dari PT PAK untuk kegiatan usaha turunan lainnya. Seperti untuk industri cat atau lem yang nanti bisa memberdayagunakan masyarakat lokal.

Dia pun sempat berharap semua aktivitas pengolahan pinus ini bisa dikerjakan dan membawa manfaat untuk masyarakat Trenggalek.

“Pak Bupati dan Pak Wabup pernah membicarakan persoalan ini. Tentu itu akan membuat kegiatan ekonomi di Trenggalek kian tumbuh,” terangnya. (ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia