Senin, 20 Aug 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Dicecar pertanyaan, Vio Hanes F Berhasil menjuarai Pidato Kependudukan

Jumat, 08 Jun 2018 10:46 | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERTALENTA : Vio, bersama guru pembimbing Siti Apriningsih ketika ditemui kemarin.

BERTALENTA : Vio, bersama guru pembimbing Siti Apriningsih ketika ditemui kemarin. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Berpidato bukan asal berorasi di hadapan publik saja, melainkan apa yang disampaikan harus berisi. Ini seperti yang dilakukan Vio Hanes Fernandhanu, warga Desa Sugihan, Kecamatan Kampak. Setelah menyampaikan pidatonya yang berisikan tentang kependudukan, dirinya berhasil terpilih menjadi juara I dalam lomba pidato kependudukan tingkat nasional tahun 2018 yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Bogor, Rabu (30/6) hingga Sabtu (2/7) kemarin.

ZAKI JAZAI

Suasana lengang tampak terlihat di area SMAN 1 Trenggalek kemarin (6/7). Saat itu ketika Jawa Pos Radar Trenggalek datang di ruang guru, terlihat seorang siswa sedang menghadap laptop dengan bimbingan seorang guru.

Siswa tersebut terlihat serius memperhatikan instruksi sang guru yang langsung dicatat dalam laptop tersebut.

Ya, siswa tersebut adalah Vio Hanes Fernandhanu yang baru saja meraih juara satu lomba pidato pendudukan tingkat nasional. Saat itu dia sedang berkoordinasi dengan guru pembimbingnya, Siti Apriningsih, sebagai bekal keikutsertaannya dalam lomba yang lain.

“Setelah ini saya akan mengikuti berbagai lomba. Makanya harus banyak berkoordinasi agar persiapan matang,” ungkap Vio Hanes Fernandhanu kepada Koran ini.

Ternyata berbagai prestasi khususnya dalam hal berpidato kerap ditorehkan remaja yang akrab disapa Vio ini. Itu terlihat sejak kelas IV SD/MI, Vio kerap mewakili sekolahnya untuk mengikuti lomba pidato mulai tingkat kabupaten hingga provinsi. Sehingga mulai saat itu sudah berkali-kali dirinya meraih juara berpidato.

“Dari semua prestasi yang saya raih itu, prestasi inilah yang paling membanggakan. Karena bisa membawa nama Trenggalek di kancah nasional,” katanya.

Sedangkan terkait perjuangannya untuk meraih prastasi tersebut, dimulai sejak awal April 2018 lalu. Saat itu untuk kali pertama dibuka penyaringan lomba pidato untuk tingkat kabupaten.

Merasa mampu karena telah menekuni hal itu sejak SD dan meningkatkannya sejak masuk SMA, dia pun mulai tidak ragu untuk mendaftar.

Namun, persiapan yang dilakukan Vio untuk mengikuti perlombaan tersebut dirasa kurang maksimal. Sebab, di saat yang hampir bersamaan dirinya harus membagi kosentrasinya. Karena hampir bersamaan juga mengikuti perlombaan lain yang diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya.

Kendati demikian, dirinya tetap melakukan sekuat tenaga dan mengikuti perlombaan sesuai konsep yang diinstruksikan. Karena terus mempertahankan konsep itulah, dirinya mampu meraih juara II tingkat kabupaten.

Dengan raihan tersebut, bersama peserta yang meraih juara I, dirinya berhak mengikuti perlombaan serupa di tingkat provinsi. Saat itulah dirinya melakukan persiapan yang lebih dari sebelumnya.

Itu dilakukan dengan terus menjalin diskusi dengan guru pembimbing sebelum melakukan rekaman pidato, yang nantinya dikirim ke panitia provinsi untuk penjaringan 10 besar. Karena persiapan yang matang itulah, akhirnya dirinya masuk 10 besar Jawa Timur (Jatim) dan berhak melanjutkan ke babak selanjutnya, yaitu berpidato di hadapan para juri dan audiens. Ternyata kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Vio.

Sebab, dirinya mampu memikat hati para juri dan berhasil keluar juara I, serta mewakili Jatim ke tinggat nasional.

Hal yang hampir sama dilakukan Vio untuk memulai mengikuti lomba pada tingkatan ini. Hal tersebut seperti berkonsultasi dengan guru pembimbing, melakukan rekaman untuk pengiriman video yang nantinya diseleksi, hingga berhasil masuk 10 besar tingkat nasional.

“Setelah masuk 10 besar inilah, persiapan yang saya lakukan terbilang berdarah-darah. Sebab hanya dilakukan sekitar empat hari karena harus membagi waktu dengan belajar untuk menghadapi ujian kenaikan kelas (UKK),” ujar remaja 16 tahun ini.

Itu ditunjukkan dengan setiap hari terus melakukan koordinasi dengan guru pembimbingnya hingga larut malam. Tujuannya agar pidato kependudukan tentang bonus demografi di Indonesia bisa memperoleh hasil yang maksimal.

Bonus demografi adalah bonus yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif yang memiliki rentang usia 15 tahun hingga 64 tahun dalam evolusi kependudukan yang dialaminya.

Sehingga hal tersebut bisa menjadi hal yang menguntungkan. Bahkan, menajdi bumerang bagi Indonesia jika tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Untuk itu, dalam pidatonya, Vio menyampaikan tentang remaja berkualitas yang nantinya menjadi kesuksesan bonus demografi di Indonesia, yang mencapai puncaknya pada tahun 2020 hingga 2030 mendatang.

Agar semua memahami progam yang diberikan pemerintah terkait hal itu, mau menjalaninya, dan juga menghindari diri dari perbuatan yang merugikan seperti penyalahgunaan narkoba, pembimbingan yang diberikan kepada remaja menjadi kunci kesuksesannya.

“Sebenarnya program yang diberikan pemerintah terkait hal ini sudah baik, tapi belum banyak remaja yang mengerti. Maka diperlukan edukasi terkait hal itu agar semua mengerti dan menjalankannya,” ujar putra dari pasangan Hanik Anwari Sudibyo dan Yuni Asmorowati ini.

Karena pidato yang disampaikannya begitu menarik di hadapan para dewan juri, setelah menyampaikan, dirinya dicecar berbagai pertanyaan hingga lima kali. Padahal, berdasarkan petunjuk pelaksanaan (juklak) lomba, pertanyaan yang diberikan oleh dewan juri hanya sebanyak dua kali. Kendati demikian, dirinya terus menjawab dengan yakin dan mempertahankan konsep sehingga bisa keluar sebagai juara.

“Juara atau tidak itu hal belakangan. Yang terpenting mempertahankan konsep seperti rencana semula. Mungkin karena itulah saya berhasil menjadi juara,” jelasnya. (ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia