Sabtu, 22 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Ngabuburit Sambil Mural

Sabtu, 09 Jun 2018 10:04 | editor : Anggi Septian Andika Putra

KREATIF : Seorang pemudi mengenakan spons dan kain bukan kuas untuk menggambar di dinding kolam renang Tirta Jwalita

KREATIF : Seorang pemudi mengenakan spons dan kain bukan kuas untuk menggambar di dinding kolam renang Tirta Jwalita (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK – Banyak cara menikmati momen menjelang buka puasa atau ngabuburit, seperti dilakukan sejumlah pemuda di area Stadion Menak Sopal.

Tembok polos setinggi 2,5 meter itu disulap menjadi media untuk menggambar mural. Gambar pejuang sengaja diwujudkan untuk mengingatkan masyarakat atas jasa-jasa mereka.

“Kalau siang kan panas, kami mulai menggambar sore sampai malam,” ungkap Deki, seorang pemuda saat ditemui kemarin.

Di lokasi yang sama, Khoiri mengatakan, mural sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Media yang digunakan juga sama yakni dinding.

Dulunya, mural dipakai sebagai salah satu sarana mengkritisi atau protes. Namun, kini mural tidak lebih dari kreativitas atau seni menggambar.

Begitu juga dengan kegiatan menggambar di dinding kolam renang Tirta Jwalita ini. Dia dan rekan-rekannya telah mengantongi izin untuk menggunakan lokasi itu sebagai media mengekspresikan diri lewat seni gambar.

“Mudah-mudahan saja bisa mempercantik suasana kota. Kalau sebelumnya kan polos, terkena hujan dan kemarau berjamur kalau begini kan beda,” jelasnya.

Ada banyak tema yang biasa digunakan dalam mural. Dewasa ini isu lingkugan hidup menjadi tema yang cukup banyak digunakan menggambar mural.

Namun, khusus di area stadion atau kolam renang tirta jwalita ini adalah para pejuang. Para pemuda ini, sengaja mengajak masyarakat untuk mempertimbangkan dan mengingat kembali jasa para pahlawan.

Di lokasi terpisah, Anjar  Laksono, seorang tokoh muda melihat hal itu sebagai suatu yang positif. Bukan vandalisme, mural justru membawa nuansa seni kekinian yang identik dengan anak muda.

Namun, Kota Keripik Tempe merupakan daerah yang unik. Media untuk mengespresikan diri melalui gambar sangat terbatas.

“Bagus, minimal tidak menimbulkan kesan kumuh. Syukur-syukur ini memicu lingkungan sekitar untuk mempercantik muka kota,” terangnya.

Menurut dia, yang menjadi tantangan adalah soal akses. Pasalnya, lokasi mural ini ada di sisi utara taman mandiri. Sehingga orang yang menikmati mural sudah pasti harus melalui taman mandiri juga, mengingat tidak mungkin mereka parkir di tepian Jalan Soekarno-Hatta.

“Kalau banyak pengunjung dan parkir di tepian ruas Soetta, pasti bikin macet,” terangnya. (hai/ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia